Hukum Meminta Bantuan Pada Jin

jin roh

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, ada saudara saya yang mengaku dapat berdialog dengan jin bahkan meminta tolong untuk menjaga usahanya? Apakah dalam Islam diperbolehkan kita berdialog bahkan berkolaborasi atau meminta tolong dengan jin? Mohon penjelasannya dan terima kasih. (Dikdik by email)     

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya pak Didik dan sahabat-sahabat sekalin, sebenarnya permasalahan seperti ini sudah sering kita bahas. Namun tidak mengapa coba kita ulas sekali lagi agar yang belum tahu menjadi mengerti dan yang sudah tahu menjadi semakin paham.

 

Begini, perlu dipahami dulu bagi kita bahwa Jin adalah makhluk Allah Swt. yang diciptakan dari api, sementara manusia tercipta dari tanah, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut.

 

“Dan  sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia  dari tanah liat kering  dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan  Kami telah  menciptakan jin sebelum (penciptaan manusia)  dari api yang sangat panas.” (Q.S. Al Hijr 15:27-28).

 

Walau jin dan manusia berasal dari bahan yang berbeda, namun di antara keduanya memiliki banyak kesamaan, di antaranya :

donasi perpustakaan masjid

 

  1. Mampu berpikir. “Katakanlah (hai Muhammad) ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Quran), lalu mereka berkata ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan  kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.” (Q.S. Al Jin 72 : 1-2).

 

  1. Bertugas untuk beribadah kepada-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat 51 : 56).

 

  1. Ada yang shaleh dan ada juga yang ingkar. “Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian (kufur). Kami menempuh jalan yang  berbeda-beda.” (Q.S. Al Jin 72: 11)

.

  1. Mendapat imbalan atau sanksi sesuai dengan perbuatannya, alias ada yang masuk surga dan ada juga yang masuk neraka.“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan  yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi  kayu bakar bagi neraka jahanam. Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan di atas jalan lurus itu, benar-benar Kami akan memberi minum air yang segar kepada mereka.” (Q.S. Al Jin 72: 14-16). Keterangan dalam ayat lain, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan  dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”  (Q.S. Al A’raaf 7: 179).

 

  1. Mengenal jenis kelamin. “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Q.S. Al Jin 72: 6).

 

  1. Jin berketurunan. “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti Allah bagi orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Kahfi 18: 50).

 

Dalam hadis riwayat Musim disebutkan bahwa populasi jin sama dengan populasi manusia, setiap seorang manusia lahir, maka lahir juga jin qarin (pendamping).

 

“Tidak seorangpun di antara kamu kecuali Allah telah menetapkan baginya qarin (pendamping)  dari jenis syetan. Para sahabat bertanya “Engkau juga wahai Rasul? Beliau menjawab: Ya, hanya saja Allah menganugerahkan rahmat Nya  kepadaku. Ia memeluk islam, maka dia tidak mendorong aku kecuali yang baik. (H.R. Muslim).

 

Inilah paling tidak enam point persamaan antara jin dan manusia. Bertolak dari persamaan ini, sangat mungkin manusia melakukan dialog dengan jin, bahkan bisa sampai pada derajat kerja sama. Persoalannya, apakah dibenarkan kita berdialog atau minta tolong bahkan berkolaborasi dengan jin ?

 

Menurut hemat saya, kalau hanya sebatas berdialog tentu  tidak dilarang. Namun kalau minta tolong atau berkolaborasi alias bekerja sama, hukumnya haram, karena kerjasama tersebut akan mendatangkan dosa. Perhatikan ayat berikut.

 

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Q.S. Al Jin 72: 6).

 

Pada ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa meminta tolong pada jin itu akan semakin menambah dosa. Di sini tidak dijelaskan apakah yang semakin menambah dosa itu jin kafir atukah muslim? Kalau tidak dijelaskan, berarti menunjukkan umum baik jin muslim apalagi jin kafir hanya akan menambah dosa saja.

 

Kesimpulannya, kalau hanya sekadar berdialog dengan jin tidaklah terlarang. Yang haram adalah bekerja sama atau berkolaborasi dengan jin, baik dengan jin   muslim ataukah kafir karena jin-jin hanya akan menambah dosa.

 

Terkait dengan permasalahan seperti ini dan semisalnya Anda dan mojang bujang bisa membaca buku saya yang berjudul “Menelanjangi Strategi Jin” yang dijelaskan secara ilmiah dan syariah. Wallahu A’lam. [ ]

 

 5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

975

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

 

 

(Visited 40 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment