Adab Bertamu dan Menerima Tamu Menurut Ajaran Islam

adab bertamu

Pak Ustadz, bagaimana adab bertamu rumah orang yang didalamnya ada istri dan anak? Saya sampai hari ini hati saya masih kecewa walau saya percaya, suami tidak melakukan apa-apa. Waktu itu datang seorang wanita yang punya seorang suami dan anak, bahkan wanita itu sudah punya cucu dan wanita itu tidak sopannya lagi pakai celana pendek yang notabene saya ini keluarga berhijab. Wanita itu datang ke rumah sedangkan saya sedang keluar.  Ketika saya pulang, ada yang cekikikan di rumah.  Saya masuk dengan muka masam melihat suami lagi ngobrol tapi suami langsung ngeh bahwa saya tak suka dengan cara begitu. Karena saya tahu bahwa rumahku adalah surgaku. Bagaimana cara meredam hati karena saya  tetap tidak  nyaman. Sebenarnya bagaimana etika yang seharusnya suami atau istri lakukan kalau ada yang datang ke rumah?

 

Kalau kita bicara sesungguhnya, seorang suami atau seorang istri tidak boleh memperkenankan seseorang yang bukan muhrimnya masuk ke dalam rumah kalau tidak ada pasangannya. Contoh,  sebenarnya ibu kalau sebagai istri jikalau ada laki-laki bertamu tidak boleh memperenankan masuk, terkecuali sudah diketahui oleh suami ibu dan seizin suami ibu. Atau terkecuali, yang bertamu itu muhrim seperti paman, uwa, atau mertua.

Kalau yang bertamu adalah orang lain misalnya teman suami. Ibu tinggal bilang “maaf suami saya lagi tidak ada”. Jadi, ibu tidak boleh memperkenankannya masuk.  Ini saya bicara etika, karena ibu bertanya bagaimana adab etika.

Ibu tak boleh memperkenankan masuk  laki-laki yang bukan muhrim ke rumah sekalipun itu teman, kecuali atas ijin suami. Suami bilang misalnya  “mah nanti yah ada temen aku yang datang suruh masuk aja. Suruh masuk aja nanti, suruh tuggu aja nanti aku datang nyusul “.

Jadi suami sudah wanti-wanti dan memberitahu  bahwa nanti akan ada temnnya datang ke rumah. Jadi, kalau suami sudah memberi izin tentu itu diperbolehkan. Akan tetapi, kalau suami anda tidak tahu  kemudian anda memperkenankannya masuk ke rumah, itu sesuatu yang terlarang dalam Islam  dan itu kategorinya jadi haram.

kalender percikan iman 2018

Seorang istri haram memasukan laki-laki yang bukan mahrom kecuali atas ijin suaminya. Adapun jika misalnya ada tukang listrik, ledeng atau servis, itu tidak menjadi masalah, karena itu sifatnya tugas dan profesional. Yang tidak boleh ialah  orang yang kita sendiri tidak tahu kepentingannya.

Contoh yang lain, saya misalnya tidak boleh memperkenankan perempuan yang bukan muhrim masuk ke rumah ketika isri saya tidak ada. Kecuali kalau dia itu saudara yang mahrom seperti bibi, ua, tante, mertua. Tapi orang lain misalnya temen istri datang ke rumah “Pa ada ibu ga” saya menjawab  “istri saya lagi gak ada,  dah janjian belum bu nanti aja ya kaau istri saya ada”. Nah itu etikanya, jadi kalau ibu kesel itu tiba-tiba datang ke rumah kok ada perempuan pakai celana pendek sedang ngobrol dengan suami, kemudian anda jadi kesal  hal itu wajar dan manusiawi.

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 1,008 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment