Mengenal Vitamin dan Fungsinya  

 

PERCIKANIMAN.ID – – Vitamin adalah suatu  zat organik yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit tetapi vital untuk membantu terlaksananya berbagai proses dalam tubuh. Karena tidak dapat dibuat oleh tubuh, vitamin harus diperoleh dari makanan. Vitamin bukan bagian dari struktur sel tetapi berperan serta dalam reaksi-reaksi metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan keutuhan sel. Vitamin turut serta dalam proses pembuatan energi, tetapi tidak mengandung energi.

 

Definisi vitamin di atas tidak sepenuhnya benar, karena vitamin A, vitamin D, dan Niasin dapat dibuat oleh tubuh, bila di dalam tubuh tersedia provitamin atau precursor (bahan untuk membuat vitamin). Beberapa mikroorganisme yang hidup di dalam usus pun dapat membuat vitamin seperti vitamin K, B12, asam folat, dan B1, namun dalam jumlah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan, sehingga tetap memerlukan asupan dari makanan.

 

Jauh sebelum vitamin ditemukan, bangsa Mesir kuno secara empirik  telah mengetahui bahwa buta senja (tanda kekurangan vitamin A) dapat dicegah dan diobati dengan banyak mengonsumsi hati. Suku Indian kuno telah mengetahui bahwa ekstrak daun pinus (sumber vitamin C) dapat mengobati pendarahan di gusi. Pada tahun 1747, dokter Lind menemukan bahwa perdarahan gusi yang pernah dialami para pelaut dapat diobati dengan minum jus jeruk.

 

Pada tahun 1880 Profesor Eijkman, seorang Belanda yang bekerja di Indonesia, menemukan bahwa penyakit beri-beri dapat diobati atau dicegah dengan mengganti konsumsi nasi dari beras giling dengan nasi dari beras tumbuk. Ternyata selaput beras kaya akan zat anti beri-beri. Kehilangan selaput lebih banyak terjadi pada beras yang digiling dibandingkan beras yang ditumbuk. Baru pada tahun 1897 ditemukan bahwa zat yang dapat mencegah beri-beri tersebut adalah tiamin (vitamin B1) yang pada tahun 1926  diisolasi dan diketahui rumus kimianya.

 

Setelah tiamin ditemukan, menyusul kelompok vitamin yang larut dalam air diisolasi dan diketahui rumus kimianya, vitamin-vitamin tersebut adalah vitamin C (1928) dan vitamin B-kompleks lainnya, yaitu; vitamin B2 atau riboflavin (1933), vitamin B3 atau niasin (1936), vitamin B5 atau asam pantotenat (1938), vitamin B6 atau piridoksin (1938), biotin (1935), asam folat (1941), dan vitamin B12 atau sianokobalamin (1948).  Selain itu juga ditemukan perumusan kimia kelompok vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A (1932), vitamin D (1932), vitamin E (1936), dan vitamin K (1939).

 

Dengan diketahuinya rumus kimia vitamin-vitamin tadi, maka pada tahun 1956 vitamin dapat disintesis di laboratorium. Vitamin sintesis dikemas dalam bentuk pil dan sirup dan  mulai diproduksi dalam jumlah banyak dan membanjiri pasar dengan harga murah. Vitamin sintesis ini sama pengaruhnya dengan vitamin yang ada dalam makanan, namun  banyak juga terkandung zat gizi lainnya.

 

Vitamin sintesis dapat dipakai sebagai tambahan atau suplemen untuk mencegah kekurangan atau defisiensi vitamin terutama bagi orang yang makanan sehari-harinya kurang vitamin, orang yang pencernaannya kurang baik, atau orang yang membutuhkan lebih banyak vitamin (seperti wanita hamil dan menyusui). Dosis vitamin suplemen harus sesuai dengan yang dianjurkan, karena bila dimakan berlebihan, dapat menimbulkan gejala-gejala kelebihan vitamin atau hipervitaminosis, apalagi sekarang di pasaran banyak beredar vitamin dengan dosis besar atau megadosis.

 

Pil vitamin  dengan megadosis mempunyai kandungan vitamin yang lebih besar –10 kali atau lebih—dari dosis yang dianjurkan. Sebenarnya vitamin megadosis hanya boleh dipakai untuk tujuan pengobatan. Contohnya pemakaian megadosis niasin (vitamin B3) bukan ditujukan untuk mencegah atau mengobati penyakit pellagra, tetapi ditujukan untuk menurunkan kadar kolesterol darah yang tinggi. Penggunaan megadosis vitamin berawal dari anjuran dokter Pauling dalam usahanya mencegah penyakit influenza, yaitu mengonsumsi vitamin C 1000 mg/hari, suatu dosis yang sangat besar karena kebutuhan vitamin C dewasa hanya 60 mg/hari. Untuk pengobatan polineuritis juga dipakai kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 dalam megadosis.

 

Karena berfungsi sebagai obat, pemakaian vitamin megadosis harus diketahui dokter, karena ada kemungkinan terjadi hipervitaminosis. Pemakaian megadosis vitamin-vitamin yang larut dalam air tidak begitu mengkhawatirkan karena kelebihan vitamin dapat segera dikeluarkan dari tubuh, tetapi tetap harus hati-hati, misalnya penggunaan megadosis vitamin C dapat menyebabkan cairan tubuh bertambah asam yang memudahkan terjadinya batu asam urat pada penderita asam urat tinggi. Harus hati-hati pula dengan megadosis vitamin yang larut dalam lemak –vitamin A, D, E, dan K– karena vitamin-vitamin tersebut dapat berakumulasi dalam tubuh dan dapat menimbulkan gejala-gejala hipertaminosis.

 

Gejala hipertaminosis vitamin A adalah sakit kepala, eneg, mengantuk, rambut rontok, kulit kering, diare, gangguan menstruasi, dan lain-lain. Hipertaminosis vitamin D berhubungan dengan kelebihan kalsium darah dengan gejala nafsu makan hilang, berat badan menurun, dan rambut rontok. Sedangkan vitamin E dan K, walaupun belum diketahui efek sampingnya, penggunaannya dalam megadosis tetap harus diwaspadai karena sifatnya yang larut dalam lemak.

 

Kekurangan atau defisiensi vitamin dapat terjadi karena pengaruh antivitamin atau antagonis vitamin yaitu zat yang bekerja menghambat atau memblokir kerja vitamin. Misalnya, avidin yaitu suatu glikoprotein yang terdapat dalam putih telur mentah dapat memblokade penyerapan biotin dalam usus. Mengonsumsi 12 buah putih telur mentah setiap hari dapat menimbulkan kondisi kekurangan biotin, namun pengaruh buruknya akan hilang bila telur dimasak. Antivitamin yang lain adalah metotrexate yaitu obat kanker yang juga merupakan antivitamin bagi vitamin asam volat.

 

Selain vitamin-vitamin tersebut di atas, ada juga beberapa zat yang dianggap sebagai vitamin (vitamin-like) karena sifat dan cara kerjanya menyerupai vitamin serta dibutuhkan oleh tubuh, tetapi tubuh dapat membuatnya sendiri . Zat-zat tersebut adalah choline, asam paraaminobezoat (PABA), asam lipoat, inositol, coenzyme Q10 atau ubiquinone, bioflavonoid, dan carnitine. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

790

(Visited 40 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment