Ummu Haram binti Milhan, Seorang Wanita yang Sangat Rindukan Kesyahidan

bunga

Ummu Haram binti Milhan adalah saudara perempuan dari Ummu Sulaim, bibi Anas bin Malik, pembantu Rasulullah, dan istri dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit. Rasulullah sangat menghormatinya dan sering berkunjung ke rumahnya serta tidur siang di sana.

Lembaran-lembaran sejarah menuliskan untuk kita tentang kecintaan sahabat wanita yang mulia ini terhadap syahid di jalan Allah, kerinduannya kepada syahid, dan ketulusannya dalam hal tersebut.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dari Ummu Haram binti Milhan, bahwasanya Rasulullah tidur di rumahnya, lalu beliau bangun dan tertawa. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau tertawa?” Beliau bersabda, ‘Telah ditampakkan kepadaku sekelompok orang dari kalangan umatku, mereka berlayar mengarungi lautan biru seperti para raja di atas singgasana.” Ummu Haram mengatakan, maka aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku menjadi bagian dari mereka.’ Beliau pun bersabda, ‘Sesungguhnya engkau termasuk bagian dari mereka.’ Kemudian beliau tertidur kembali, lalu bangun dan tertawa. Maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau tertawa?’ Beliau menjawab, ‘Ditampakkan kepadaku sekelompok orang dari kalangan umatku, mereka berlayar di lautan biru seperti raja-raja di atas singgasana.’ Maka aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku menjadi bagian dari mereka.’ Beliau pun bersabda, ‘Engkau hanya termasuk golongan yang pertama’.”

Kemudian Ummu Haram dinikahi oleh ‘Ubadah bin Ash-Shamit dan ikut berperang bersamanya. Lalu setelah dia menyeberangi lautan, dia menunggangi seekor bighal dan terjatuh darinya hingga dia pun gugur sebagai syahid yang berperang di jalan Allah.

Renungkanlah cita-cita yang mahal itu wahai saudariku, cita-cita yang muncul dari keinginan yang luhur. Sungguh, keinginannya adalah keluar untuk berperang di jalan Allah hingga dia bisa meraih gelar syahid di jalan Allah. Dia tidak menginginkan perjalanan untuk sekedar hiburan atau demi mengejar kesenangan dunia yang fana semata. Akan tetapi, dia ingin berperang di jalan Allah.

promooktober

Namun yang terjadi justru sebaliknya, di mana banyak sekali saudari-saudari kita yang menginginkan pangkat dan harta. Jadi, dimanakah wanita yang mengharapkan hafalan kitab Allah, dan bersungguh-sungguh untuk mencapai hal tersebut? Di manakah wanita yang mengharapkan syahid di jalan Allah dan berdoa untuknya? Di manakah wanita muslimah yang tidak merasa disibukkan oleh anak-anak dan urusan rumahnya dalam menjalankan ketaatan terhadap Allah dan peribadatan kepada-Nya? Di manakah wanita muslimah yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan segenap hatinya sehingga dia akan senantiasa mengagungkan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya?

Kita telah banyak kehilangan perkara-perkara ini, dan semua itu disebabkan oleh lemahnya keinginan serta ketergantungan terhadap dunia dan perhiasannya yang fana. Mari kita memohon kepada Allah supaya Dia menjadikan dunia di tangan kita, bukan di dalam hati kita.

Disarikan dari buku “66 Muslimah Pengukir Sejarah” karya Ummu Isra’ binti Arafah.

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment