Haruskah Membentuk Khilafah?

Assalamu’alaykum Pak Ustadz, saya mau bertanya, apakah benar di akhir zaman akan datang sistem kekhilafahan yang akan tegak lagi di buka bumi. Jika benar, apa ada hadist shahihnya? (Dede via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr.Wb. Iya Pak Dede dan sahabat-sahabat sekalian, pertanyaan Anda ini juga sekaligus menjawab beberapa rekan yang menanyakan hal yang kurang lebih sama. Pembicaraan atau diskusi masalah yang satu ini selalu menarik karena ada yang pro maupun yang tidak atau belum sepaham.

Jadi begini, menurut hemat saya  kekhilafahan itu urusan duniawi, karena tidak ada pola yang baku tentang kekhilafahan. Oleh sebab itu, tidak ada ramalan bahwa sebelum kiamat kubro akan berdiri kekhilafahan. Sebab dikondisi seperti sekarang maka muncul gerakan-gerakan ekstrim yang saat ini adalah ISIS, itu bagian dari konsep mereka bahwa harus ada satu kepemimpinan dunia atau khilafah. Tapi apakah khilafahnya seperti yang mereka lakukan? Apakah sesama umat muslim saling membunuh? Apakah seperti itu konsep khilafah? Tentu saja bukan, tidak mungkin Islam mengajarkan seperti itu.

Jadi menurut hemat saya, persoalannya bukanlah khilafah atau bukan khilafah. Persoalannya bagaimana umat manusia ini punya keshalehan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Bagaimana bangsa Indonesia ini umatnya atau penduduknya menjadi umat yang hebat. Mempunyai SDM nya yang bagus, shaleh, cerdas, jujur, berkomitmen pada ketakwaan. Jika SDM-nya sudah seperti itu, apapun judul negaranya tidak jadi masalah. Nama hanya sebagai pembungkus, yang terpenting adalah isinya. Ada negara yang mengusung nama Negara Islam, tapi masyarakatnya memiliki kinerja yang buruk, kebodohan dimana-mana, negaranya kotor dan jorok, lalu tidak profesional, apakah layak negara tersebut disebut sebagai negara Islam atau khilafah islamiyah?

Saya katakan, ISIS itu berkonsep khilafah, tapi apakah seperti itu yang sebenarnya khilafah? Kita lihat negara kita bernamakan Republik Indonesia, berlandaskan UUD 45 kalau kita lihat, ada tidak satu butir pasal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam? Tidak ada. Nah selama tidak ada yang bertentangan dengan Islam, bahkan senafas dengan ajaran Islam, tidak masalah kita hidup di Indonesia, dengan negara yang tidak mencantumkan kata Islam sekalipun. Yang terpenting orang-orangnya itu Islami. Jadi yang penting adalah substansi, bukan bungkus. Banyaknya orang hanya memperjuangkan bungkusnya. Mirip seperti orang yang memakai gamis, dahi hitam, namun kelakuannya tidak disiplin, bicaranya nyelekit, kerjanya hanya kritik dan kinerjanya buruk, itu sama sekali tidak Islami.

promooktober1

Jadi marilah kita berfikir yang lebih realistis. Yang realistis itu apa? Sekarang kita ada di Indonesia, dengan beragam budaya dan suku bangsa, dan para pendahulu kita sudah membuat fondasi yang begitu bagus dan indah demi bersatunya negeri ini. Tidak ada satu konsep kerangka berfikir dalam negeri ini yang bertentangan dengan ajaran Islam yang di manifestasikan ke dalam basis negara ini yaitu UUD 45. Ketika kita menjadi warga negara yang hebat ilmu, iman dan hebat kemampuan sosialnya, sebagai umat Islam yang mayoritas, maka apapun judul negaranya tidak akan masalah. Maka dalam Al-Qur’an tidak disebut sistem melainkan “kesholehan bangsa”. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

 

Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?. Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? .Apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah yang tidak terduga-duga? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang rugi.” ( QS.Al A’raf: 96 -99)

 

Dalam ayat tersebut tidak disebutkan “membangun kekhilafahan” atau “membangun negara Islam.” Azab dalam ayat tersebut bukan berarti diluluh lantakan. Azab juga bisa dalam bentuk ketidaktenangan atau ketidakbahagiaan penduduknya.  Kalau kita lihat, orang Singapura lebih makmur dari kita, kotanya bersih, rapih, dan teratur. Tapi menurut riset tentang kebahagiaan, Singapura termasuk negara yang penduduknya tidak bahagia. Begitupun dengan Korea. Nah itu pun yang dinamakan azab. Jadi azab itu tidak selalu yang berkaitan dengan dihancurleburkan.

 

Memang ada dalam Alquran tentang penyebutan kata “khalifah” seperti dalam Surat Al Baqarah,

Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka (para malaikat)  berkata, “Apakah Engkau hendak menciptakan makhluk yang merusak dan menumpahkan darah di sana, padahal kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Allah berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui hal yang tidak kamu (para malaikat) ketahui.” ( QS. Al Baqarah: 30)

 

Namun para ulama sendiri tidak satu pendapat dalam menafsikan makna “khalifah” tersebut yang bukan mengaju pada bentuk pemerintahan saja.  Misalnya At-Thabariy yang berpendapat bahwa “khalifah” yang dimaksud adalah pemimpin untuk kalangan jin. Sementara Asy-Syaukani, berpendapat bahwa kata “khalifah” maksudnya pemimpin untuk malaikat. Demikian juga Ibnu Katsir dalam tafsirnya memaknai penyebutan “khalifah” karena manusia menjadi kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain (arti “khalifah” sendiri adalah pengganti).

Jadi, saya tetap menghargai bila ada yang bicara tentang sistem negara. Itu merupakan cara berfikir dan sah saja berpendapat demikian, hanya saja saya termasuk yang berpemikiran, yang terpenting itu bukan bungkus sebutan Negara Islam atau Khilafahnya, tapi yang penting adalah akhlak orang-orang atau penduduk yang ada didalamnya. Tentu tidak mengurangi rasa hormat saya pada teman-teman yang hingga saat ini terus berbicara tentang negara Islam dengan sistem khilafah, saya menghargai itu karena itu pemikiran masing-masing. Namun lebih penting lagi kita semua sebagai umat Islam ini harus memiliki komitmen untuk selalu memegang teguh nilai-nilai agama. Membangun kesadaran untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dengan beramal shalih.

Perbedaan pendapat tentu tidak dilarang namun jangan sampai saling menyalahkan hanya persoalan khilafah ini. Jangan samapi kaum muslim yang tidak pro pada ide khilafah dianggap tidak ikut sunnah. Demikian juga sebaliknya jangan sampai kaum muslim yang mendukung ide khilafah dianggap ektremis. Tentu yang lebih utama adalah tetap saling menghargai dan tetap menjalin ukhuwah islamiyah Wallahu’alam bishawab.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

5

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

980

(Visited 2,291 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment