Korupsi dan Harga Sebuah Kejujuran

PERCIKANIMAN.ID – – Maraknya korupsi yang dilakukan para oknum akhir-akhir ini membuat hati kita miris. Ironisnya, para oknum tersebut adalah mereka yang sebelum memangku jabatan merupakan orang-orang yang lantang meneriakkan pentingnya kejujuran. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang menilai bahwa korupsi adalah tentang kesempatan.  Tampaknya, korupsi –sebagai salah satu bentuk kurangnya sikap amanah mendarah daging dalam sanubari– adalah sebuah penyakit sosial yang sudah berada dalam stadium ‘gawat’, amat sulit disembuhkan.

 

Lebih gawat lagi, panggung selebriti yang selalu saja diramaikan berita perceraian. Acara infotainment yang hadir setiap hari –bahkan setiap jam– seolah menjadi ajang saling membuka aib antarpasangan selebitis yang akan, sedang dalam proses, dan juga telah bercerai. Satu kali selebritis A memaparkan bahwa pasangannya berselingkuh dengan pria lain. Di kali lain, politisi B menyangkal bahwa dirinya terlibat affair dengan rekan kerjanya. Tokoh C, dalam sebuah acara televisi yang menjadi penyebab perceraiannya dengan selebiritis A. Selang beberapa bulan kemudian, selebritis B dan C menggelar konferensi pers memberitakan pernikahan mereka yang dilaksanakan di Tanah Suci.

 

Lepas dari legalitasinya, kita melihat bahwa perselingkuhan digambarkan dengan begitu ‘telanjang’. Kalau hal itu sudah menjadi sebuah kelumrahan dalam dunia mereka, maka tidak demikian halnya dengan masyrakat awam yang menyaksikan mereka setiap hari. Hal ini dikhawatirkan menjadi sebuah alasan pembenaran kebohongan dalam rumah tangga. Lalu, apa lagi yang harus dijadikan landasan bagi dua orang yang saling mencintai kalau kejujuran tidak ada lagi?

 

Menyikapi fenomena-fenomena di atas, muncul sebuah pertanyaan, “Sudah seburuk itukah akhlak bangsa ini?” Kejujuran, yang merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan tak lagi diprioritaskan. Bukankah pepatah “Mulutmu harimaumu” adalah sebuah penekanan bahwa kita harus berhati-hati dalam bertutur kata?

 

Imam al-Ghazali membagi kejujuran ke dalam enam poin.

promooktober
  1. Jujur dalam bertutur kata
  2. Jujur dalam berniat
  3. Jujur dalam bercita-cita
  4. Jujur dalam mewujudkan cita-cita
  5. Jujur dalam bekerja
  6. Jujur dalam beragama

 

Tentu saja kejujuran bukanlah hal yang dapat terwujud dan mendarah daging dalam diri kita secara instan. Diperlukan sebuah pembiasaan dan ujian dengan berbagai kondisi yang dapat membuktikan keteguhan dalam memegang prinsip yang dianut. Sebagai sebuah pembiasaan, hendaknya orangtua tidak lebih concern pada hasil yang dicapai anak, tetapi perhatikan juga prosesnya. Misalnya, kebiasaan orangtua yang selalu memuji prestasi anaknya di kelas dan berkata, “Nak, Ibu bangga mempunyai anak yang pintar seperti kamu.” Ini tidak salah, tapi bukankah lebih baik kalau kita katakan, “Nak, Ibu bangga karena kamu telah berbuat jujur dalam menggapai dan mempertahankan prestasimu.” Dengan demikian, dalam jiwa anak tertanam sebuah pemahaman bahwa kejujuran adalah sebuah konsep agung yang harus senantiasa ia pegang teguh.  Karenanya, anak tidak akan menghalalkan berbagai cara –termasuk mencontek– demi mendapatkan nilai bagus demi menyenangkan kedua orangtuanya, juga untuk menghindari amarah mereka kalau ia mendapatkan nilai jelek.

 

Setiap perbuatan pasti memiliki alasan. Demikian pula halnya dengan berbuat tidak jujur atau berbohong. Paling tidak, ada lima alasan mengapa seseorang melakukan hal tersebut.

 

  • Untuk mendapatkan sesuatu

Kekayaan, jabatan, kepercayaan, dan sebagainya merupakan contoh hal-hal yang mendasari orang menghalalkan segala cara, termasuk salah satunya adalah berbohong. Kalau jalan biasa yang ditempuh tidak terlalu efektif, maka sedikit intrik dengan bumbu kebohongan dapat memperlancar semuanya.

 

  • Untuk menghindari sesuatu

Merasa terjebak dalam sebuah kondisi yang tidak menguntungkan, mengharuskan kita berbohong untuk menghindari kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.  Dalam kondisi seperti ini, kita akan berlindung dibalik kebohongan kita agar reputasi tetap terjaga.

 

  • Untuk menarik simpati

Kultur budaya di negeri kita yang mengharuskan senantiasa menolong orang lain, bisa disalahgunakan. Ketulusan bersimpati pada kekurangberuntungan orang lain adalah sebuah celah untuk mengeksploitasi sisi manusiawi kita. Tidak heran, beberapa kasus penipuan yang diberitakan media elektronik dan cetak akhir-akhir ini selalu saja melibatkan orang-orang terdekat korban. Simpati yang berbuntut belas kasihan dan akhirnya melahirkan keinginan untuk menolong bisa dasalahgunakan.

 

  • Untuk menutupi kebohongan sebelumnya

Ketika melakukan satu kebohongan, akan diperlukan lebih banyak lagi kebohongan untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Merasa tidak cukup hanya dengan satu variabel, maka ditambahkanlah beberapa variabel kebohongan lain sehingga pelaku tidak akan menyangka bahwa kebohongan yang telah ia lakukan telah begitu kompleks. Ia tidak akan dapat membedakan antara fakta dan rekayasa yang telah ia rancang.

 

  • Untuk menyenangkan hati orang lain

Sebagian orang menyebutnya “white lie” yaitu kebohongan yang dapat ditolelir karena dilakukan dengan alasan yang dibenarkan, bahkan dianjurkan. Misalnya pujian suami terhadap masakan yang telah dihidangkan istrinya meskipun makanan tersebut terlalu asin. Contoh lain adalah acungan jempol atas hasil pekerjaan yang dilakukan seorang anak meskipun kita tahu bahwa masih banyak yang harus diperbaiki. Hal ini dalam rangka memberi motivasi agar muncul kepercayaan dalam diri anak tersebut.

 

Lepas dari itu semua, hendaknya kita merenungkan ayat dan hadis di bawah ini sebelum kita memutuskan untuk berlaku tidak jujur. Atau bagi yang sudah terlanjur melakukannya, hendaknya hal ini menjadi pengingat agar bertobat dan tidak mengulanginya lagi.

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al Ahzab 33: 70-71)

 

Kalian harus berkata jujur, karena jujur itu akan menunjukkan (jalan) kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan (jalan) ke surga.  Dan seseorang yang senantiasa jujur dan ia bersungguh-sungguh untuk senantiasa berlaku jujur, maka ia akan dituliskan di sisi Allah sebagai orang yang jujur sekali (shiqqiq). Dan hati-hatilah kamu dengan berbohong, karena berbohong itu menunjukkan (jalan) kepada perbuatan jahat, dan sesungguhnya perbuatan jahat itu menunjukkan (jalan) ke neraka. Dan seseorang yang selalu bohong dan ia sungguh-sungguh untuk senantiasa berbohong sehingga di sisi Allah ia akan dicatat sebagai seorang pendusta.”  (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

 

Wartawan dan budayawan di era 1970-an Mochtar Lubis (alm.) pernah mengungkapkan tiga ciri bangsa Indonesia yaitu malas, korup, dan suka berbohong alias menipu. Tentu saja hal itu harus dipandang sebagai lecutan cambuk untuk memacu kita menjadi lebih baik bukan ditanggapi dengan pesimisme. Kalau kejujuran itu sudah sedemikian mahalnya di negeri ini, bukan berarti hal itu merupakan barang mewah yang hanya dimiliki sebagian kecil orang saja.

5

Red: muslik

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

970

(Visited 61 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment