Sikap Muslim Kepada Ahlul Kitab

Assalamu’alaykum. Pak Aam, di komplek kami ada keluarga yang non muslim (ahli kitab). Bagaimana cara kita bersikap terhadap ahli kitab? Apakah harus menampakkan permusuhan ataukah persahabatan ? Bolehkah kita berteman dengan mereka?. Mohon nasihatnya ( Nanda by email)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Nanda dan sahabat-sahabat sekalian. Perlu kita ketahui bahwa yang disebut Ahli Kitab adalah orang-orang yang beragama Nasrani dan Yahudi. Disebut Ahli Kitab karena mereka meyakini kitab yang diturunkan sebelum Al Quran yakni  kitab Injil dan Taurat, seperti yang dijelaskan dalam Al Quran,

 

“Kami turunkan Al Quran itu agar kamu tidak mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.”(Q.S. Al An’am 6: 156).

 

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud “dua golongan” pada ayat ini adalah Nasrani dan Yahudi sebab agama ini juga disebut dalam Al Quran. Lalu bagaimana sikap kita selaku seorang muslim?  Tentu sebagai sesama manusia kita harus berbuat baik kepadanya selama mereka tidak memusuhi dan mengganggu kita.

 

Demikian juga kepada ahli kitab yang sudah masuk Islam.  Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut.

kalender percikan iman 2018

 

“Mereka itu tidak sama, diantara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku  lurus, mereka  membaca ayat-ayat  Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka  beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah  dari yang munkar dan bersegera  mengerjakan  berbagai  kebaikan; mereka itu termasuk orang-orang  yang shaleh. Dan apa saja kebaikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi menerima pahal)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.“ (Q.S. Ali Imran 3: 113-115).

 

Al Quran terjemahan Bahasa Indonesia terbitan madinah Munawarah menyebutkan bahwa maksud ayat “diantara  ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku  lurus” adalah golongan ahli kitab yang  telah memeluk agama Islam. Ada juga yang memberikan interpretasi, bahwa karena sikap mereka menerima   kebenaran yang dibawa  Nabi Muhammad Saw yakni Al Quran, maka mereka itu bukan lagi ahli Kitab, tapi  sudah menjadi muslim.

 

Kita pun harus bersikap baik pada ahli kitab yang belum masuk Islam, selama mereka tidak menampakkan poermusuhan pada umat Islam. Perhatikan ayat berikut.

 

“Allah tiada melarang kamu   berbuat  baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada  memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari  negerimu. Sesungguhnya Allah  menyukai  orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya  Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu  karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Mumtahanah 60: 8-9).

 

Ayat ini menegaskan, selama ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) tidak menampakkan permusuhan,   kita harus berlaku adil dan berbuat baik. Namun walaupun demikian Allah Swt melarang menjadikan mereka sebagai teman dekat, teman tempat curhat dan berbagi cinta,

 

Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

 

Sementara apabila ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) secara terang-terangan menampakkan permusuhan kepada Umat Islam, misalnya melakukan upaya pendangkalan akidah muslim, mengajak memeluk ajaran mereka hingga memurtadkan saudara kita yang muslim maka kita harus menghadapinya secara tegas dan elegan.

 

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik,  kecuali dengan  orang-orang zalim di antara mereka dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan  kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya  berserah diri.” (Q.S. Al’Ankabut 29: 46).

 

 

Jadi jelas, sikap seorang muslim kepada Ahli Kitab harus ada batas-batasnya, baik selaku sesama manusia maupun sesama umat beragama. Dalam hubungan kemanusiaan ada wilayah yang boleh dikerjasamakan misalnya kerja bakti kebersihan lingkungan, siskamling untuk menjaga keamanan namun dalam wilayah akidah atau keyakinan ada pula wilayah yang tidak bisa dikerjasamakan misalnya menghadiri ibadahnya, mengucapkan selamat ibadah atau sekedar membenarkan ajarannya. Sikap toleransi harus, namun jangan sampai kebablasan sehingga tidak jelas mana wilayah kemanusian dan mana wilayah akidah.  Wallahu A’lam

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

(Visited 71 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment