Penelitian Ilmiah tentang Pernikahan Belia dan Manfaatnya

menikah

Oleh : Budi Ashari, Lc *

Pernikahan belia adalah sesuatu yang diperintahkan Nabi yang mulia sebelum 14 abad yang lalu. Hari ini, para peneliti menemukan bahaya memperlambat pernikahan dan menjauhinya. Bahkan mereka mengulang-ulang kalimat Nabi yang agung tanpa mereka sadari.

Setiap para ilmuwan mengungkap sebuah ilmu yang baru, selalu dijumpai ternyata Nabi alaihish sholatu wassalam tidak pernah terlewatkan menyebutnya! Al Quran adalah kitab ajaib yang mencakup rahasia langit dan bumi. Dan sunnah –tanpa diragukan lagi- bahwa ia juga wahyu dari Allah tabaraka wata’ala. Untuk itulah, ia seperti Al Quran yang mencakup rahasia, keajaiban dan mu’jizat yang tak terhitung jumlahnya.

Sebelum saya paparkan kepada para pembaca tercinta penemuan para ilmuwan terakhir tentang pernikahan belia, saya ingat bagaimana kaum atheis dan sekuler menghina hadits-hadtis Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di mana mereka mengolok-olok pernikahan belia yang tercantum dalam sabda Nabi: (Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kesanggupan maka menikahlah). Mereka berkata: sesungguhnya Muhammad tidak mempunyai ambisi apapun kecuali masalah pernikahan dan anak.

Tetapi datanglah ilmu yang mengungkap kebenaran Nabi dan dustanya pernyataan kaum atheis itu!

promooktober1

Sejak beberapa tahun yang lalu, semenjak meningkatnya masalah penyakit AIDS dan penyakit-penyakit seksual lainnya yang menimpa jutaan manusia yang disebabkan oleh zina dan perbuatan keji, para peneliti menyerukan pentingnya pernikahan belia untuk menjaga kesehatan individu dan menyelamatkannya dari kematian yang disebabkan oleh kekejian dan kelainan seksual tersebut.

Para ilmuwan menemukan bahwa pernikahan terlambat, yaitu yang terjadi setelah usia 40 tahun mempunyai keburukan-keburukan sosial dan psikologis. Keadaan psikologis manusia sangat membaik ketika ia mempunyai pasangan dan anak. Sebagian penelitian pun mengamati bahwa mereka yang tidak menikah dari kalangan orang-orang berusia tua, lebih berluang besar terkena serangan jantung dan keguncangan jiwa.

Kemudian datanglah sebagian penelitian yang menguatkan pentingnya pemenuhan sisi perasaan pada diri manusia agar ia menikmati kesehatan yang lebih baik. Mereka menguatkan bahwa orang-orang yang menikah lebih bahagia dan memiliki imunitas tubuh yang lebih kuat dibandingkan mereka yang lebih memilih hidup sendiri tanpa pasangan. Di sinilah terlihat dengan jelas kebenaran firman Allah:

(وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Qs. Ar Rum: 21)

Ayat ini mengisyaratkan ketenangan jiwa yang terjadi pada manusia setelah ia menikah dengan kata (لتسكنوا = Agar kalian tenang). Ayat juga mengisyaratkan untuk pemenuhan sisi perasaan dengan firman Nya (مودة ورحمة = rasa kasih dan sayang). Ini adalah kemu’jizatan ilmiah yang tidak diketahui oleh seorang pun masa itu. Bahkan para rahib menduga bahwa pernikahan itu membahayakan manusia, maka mereka pun menjauhi pernikahan. Karenanya Rasulullah melarang: Tidak ada kerahiban dalam Islam!

Pada penelitian yang lain, para ilmuwan mendapati bahwa orang yang menikah mempunyai kemampuan lebih besar untuk berkontribusi dan berinovasi. Wanita yang menikah mempunyai lebih banyak kekuatan cinta, kelembutan dan karya. Penelitian menyatakan bahwa mereka yang telah tua dan belum menikah mempunyai kecenderungan perilaku permusuhan dibandingkan yang lain. Di waktu bersamaan mereka mempunyai kecenderungan untuk menyendiri. Hal itu disebabkan mereka menyalahi sunnah kauniyah dan tabiat.

Adapun penelitian yang paling terakhir sebagaimana yang dipublikasikan oleh Koran Daily Mail Inggris tentang fenomena aneh yang diamati oleh para peneliti di Universitas Aarhus, Denmark (Ini adalah negara yang mempunyai prosentase pemahaman atheis yang sangat besar), setelah mereka melakukan penelitian terbesar di bidang ini di mana dilakukan pada 100.000 anak. Mereka mendapati bahwa anak-anak yang dilahirkan dari ayah yang berusia belia mempunyai umur lebih panjang dibanding yang lainnya. Pernikahan terlambat pun menyebabkan kelahiran anak yang mempunyai prosentase keguncangan lebih besar.

Di tengah pengamatan mereka terhadap 100.000 anak itu, mereka membuat statistik detail tentang kesehatan anak-anak. Dan mereka mendapati bahwa anak-anak yang meninggal sebelum berumur 1 tahun berjumlah 831 anak. Kebanyakannya terlahir dari para ayah yang terlambat dalam menikah. Mereka juga menemukan yang lain dalam penelitian ini seperti perbedaan tingkat kecerdasan dan yang lainnya. Inilah kalimat mereka yang mengingatkan tentang bahaya terlambatnya pernikahan:

The researchers warned: The risks of older fatherhood can be very profound and it is not something that people are always aware of.

Yaitu, para peneliti mengingatkan para ayah yang terlambat, membawa resiko bahaya dan dalam yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Dan mari kita lihat bagaimana para peneliti Denmark menyerukan dan mengingatkan bahaya menjadi ayah terlambat (padahal mereka adalah ilmuwan yang kebanyakannya atheis dan tidak mengakui Islam).

Maka saya katakan: Subhanallah! Bukankah ini yang seruan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam 14 abad yang lalu!!

Bukankah Nabi agung itu yang bersabda: Siapa yang membenci sunnahku, bukan dari golonganku!

Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam berlepas diri dari manusia yang menolak pernikahan dan bagaimana beliau mengungkapkan pernikahan sebagai ibadah dan sunnah yang akan Allah berikan pahala bagi yang melaksanakannya. Lihatlah bagaimana Nabi membawa ajaran-ajaran yang kesemuanya adalah kebaikan, manfaat dan untuk menjauhkan kita dari berbagai penyakit.

Sebagian penelitian mengisyaratkan bahwa di dalam tubuh setiap kita mempunyai waktu khusus untuk menikah! Ada waktu dan umur terbatas, di mana seseorang harus menikah. Yaitu pada usia dua puluhan atau lebih sedikit. Jika ia terlambat, akan memberi dampak pada sel-sel tubuh, sperma, ovum. Selanjutnya akan membuka peluang besar untuk terjadinya masalah kejiwaan dan fisik yang akan menimpa anak-anak.

(Diterjemah dan terinspirasi dari: kaheel7.com,  sebuah web pribadi milik Ir. Abdul Daeem Al Kaheel, seorang ilmuwan dan peneliti yang telah lama meneliti kemu’jizatan ilmiah Al Quran dan Sunnah yang telah menulis sangat banyak makalah ilmiah dan buku-buku yang salah satunya menyabet penghargaan Dubai Internasional kategori Al Quran Al Karim: Angka 7 dalam Al Quran)

* Penulis adalah pakar sejarah Islam, praktisi parenting Nabawiyah, pembina di lembaga Kuttab Al-Fatih dan Madrasah Al-Fatih seluruh Indonesia 

Sumber : parentingnabawiyah.com

(Visited 35 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment