Doa Dan Ikhtiar, Mana Yang Didahulukan?

berdoa berdzikir

Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon nasihatnya mana yang harus kita lakukan antara berdoa dan ikhtiar (usaha)?. Ada kawan yang menganjurkan berdoa dulu namun ada juga yang berpendapat berikhtiar dulu baru berdoa. Terima kasih. ( Sofian by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya pak Sofian dan sahabat-sahabat sekalian, ini semacam ini masih sering menjadi perdebatan atau perbincangan yang tiada akhir. Pertama, ada yang berpendapat berdoa dulu baru ikhtiar. Mereka mengambil landasan atau dalil dalam Al Quran,

Apabila hamba-hamba-Ku berta­nya kepadamu (Muhammad) tentang Aku (Allah), jawablah bahwa Aku dekat. Aku kabulkan per­mohonan orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mere­ka menaati perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran”. (QS.Al Baqarah [2]: 186)

Ada kalimat “Aku kabulkan per­mohonan orang yang berdoa” sehingga ini dipahami sebagai perintah berdoa terlebih dulu baru berikhtiar menjemput terkabulnya doa.

Kedua, ada yang berpendapat berikhtiar dulu baru berdoa sebagai bentuk pengakuan bahwa tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah Swt. Sama, kelompok ini juga mengambil dalil dari Al Quran,

promooktober1

“…Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tak ada yang dapat menolak dan melindungi mereka selain Allah.” (Q.S. Ar-Ra‘d [13]: 11)

Kalimat “Allah tidak akan mengubah keadaan” dimaknai sebagai ikhtiar dulu baru berdoa sehingga perubahan itu tergantung dari ikhtiarnya. Lalu bagaimana yang benar? Berdoa dulu atau ikhtiar dulu? Coba kita simak kisah Nabi Ibrahim as.

 

Ketika Nabi Ibrahim akan menempatkan istri dan putranya yang masih bayi, yakni Siti Hajar dan Ismail di suatu lembah yang dikenal dengan sebutan Bakka, istrinya bertanya, “Allahu amaraka bi haadza (Apakah ini perintah Allah)?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban ini, istrinya berkata, “Kalau begitu aku merasa tenang karena aku yakin Allah tidak akan meninggalkanku.”

Lembah Bakka adalah suatu tempat yang tidak memiliki pepohonan maupun sumber air. Tanahnya gersang, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Allah menggambarkannya dalam Surat Ibrahim (14) ayat 37 dengan ungkapan “bi waadin ghairi dzii zar’in”, artinya “lembah yang tidak ada pepohonan”.

Kalimat ini menunjukkan bahwa tempat tersebut secara lahiriah bisa menyebabkan kematian. Tidak lama setelah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkannya, Siti Hajar melihat Ismail menangis kehausan. Hajar berikhtiar mencari sumber air, ia berlari ke bukit Shafa karena terlihat seperti ada genangan air, ternyata ia tidak ada apa-apa, itu hanya fatamorgana. Hajar menoleh ke belakang, ia melihat lagi seperti ada genangan air di bukit Marwah, ia pun berlari menuju tempat itu, ternyata tidak menemukan apa-apa, itu hanya fatamorgana.

Hajar tidak putus asa, ia bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sampai merasakan kelelahan yang luar biasa. Akhirnya, ia kembali menghampiri putranya yang terus-menerus menangis, dan … Subhanallah, ternyata dari dekat kaki putranya meronta, keluar mata air yang jernih. Sampai sekarang, air itu masih terus mengalir, kita mengenalnya dengan Sumur Zamzam.

Peristiwa ini mengajarkan pada kita bahwa keyakinan akan pertolongan Allah, doa, serta ikhtiar merupakan tiga hal yang tidak terpisahkan. Dalam setiap keadaan, sesulit apa pun keadaan yang kita hadapi, harus selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah Yang Maha Berkuasa akan menolong kita, Allahlah satu-satunya sumber pengharapan dan tempat bergantung kita.

Keyakinan ini kemudian ditindak lanjuti dengan kekhusuan dalam berdoa. Doa merupakan gambaran kedekatan kita dengan Allah Swt. dan gambaran bahwa kita yakin hanya Allah tempat bergantung dan yang bisa menyelesaikan kesulitan yang kita hadapi. Jangan pernah berhenti untuk berdoa. Teruslah berdoa, berdoa, dan berdoa!

Jangan lupa, doa yang tulus harus dibarengi dengan ikhtiar yang tiada henti, usaha yang tiada lelah, dan kerja keras yang tak pernah padam. Siti Hajar yakin Allah akan menolongnya, namun ia tidak berpangku tangan menunggu pertolongan tersebut. Siti Hajar berlari bolak-balik dari Shafa ke Marwah, dari Marwah ke Shafa, ia kerahkan segala daya dan usaha untuk mendapatkan apa yang dicarinya.

Kalau sudah berikhtiar dan berdoa, tapi ternyata tidak membuahkan hasil seperti yang kita harapkan, yakinlah bahwa di balik semua kegagalan ini pasti ada hikmah yang lebih baik. Boleh jadi kita membenci sesuatu, tapi di balik itu ada hikmah kebaikan.

“…Bisa juga kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

 

Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu, tapi di balik itu ada keburukan. Karenanya, kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita. Inti doa,  ikhtiar dan tawakal kepada Allah adalah satu paket. Boleh dikerjakan yang mana dulu namun tidak boleh ditinggalkan salah satunya. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 163 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment