Hukum Zakat Dari Korupsi

Assalmu’alaykum, Pak Aam , bagaimana hukum menerima zakat dari harta yang diduga dari hasil korupsi? Apakah boleh jika kita menanyakan sumber harta yang di zakati? Mohon penjelasnnya dan terima kasih ( Musthafa by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya pak Musthafa dan sahabat-sahabat sekalain, perlu diketahui bahwa salah satu fungsi zakat atau makna zakat adalah membersihkan harta. Hal ini dapat kita simak firman Allah Swt dalam Al Quran,

 

“Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka serta berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doamu itu membuat jiwa mereka tenteram. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”( QS.At-Taubah: 103)

 

Jadi zakat itu untuk mensucikan atau membersihkan harta yang kita miliki dari rezeki yang halal. Sekarang bagaimana jika harta tersebut dari sumber yang haram, korupsi misalnya seperti yang Anda tanyakan. Jelas hukumnya tidak boleh baik yang mengeluarkan (muzaki) maupun yang menerimanya (mustahik). Solusinya bagaimana? Ya, dikembalikan saja, jika korupsi dari uang negera kembalikan kepada negara, jika korupsi dari perusahaan maka kembalikan kepada perusahaan atau perorangan. Jangan berpikir harta korupsi lalu dikeluarkan zakatnya kemudian menjadi bersih atau halal. Tidak bisa akal-akalan demikian tentunya.

 

Dalam ayat tersebut juga diterangkan “berdoalah untuk mereka“, biasanya kalau kita membayar zakat lewat lembaga atau lazis dan sebagainya ‘kan suka didoakan. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita khususnya amilin atau petugas zakat mendoakan harta yang haram menjadi berkah dan bersih?. Tentu tidak bisa.

donasi perpustakaan masjid

 

Jadi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak sah zakat yang dikeluarkan dari harta yang tidak halal. Karenanya, tidak ada alasan bagi para mustahik untuk menerima zakat tersebut, jika memang yakin bahwa harta yang dizakati tersebut didapat dari hasil korupsi. Tentu ini bukan hanya dari harta korupsi saja tetapi semua harta yang didapat secara haram, apakah hasil mencuri, merampok, menipu, pungli, sogok, suap dan sebagainya.

 

Tapi jika hal tersebut masih bersifat dugaan, maka hal tersebut kita kembalikan amilin dan mustahiq itu sendiri. Bagi amilin, sikap yang harus diambil adalah meminta kejelasan mengenai jenis harta yang hendak dikeluarkan zakatnya oleh orang tersebut. Jika diketahui dari orang yang bersangkutan bahwa zakat yang dikeluarkan tersebut adalah zakat untuk harta tertentu (misal zakat simpanan atau yang lainnya) yang sudah jelas aturannya, maka tidak menjadi masalah untuk menerimanya. Yang penting bagi amilin adalah ikrar yang bersangkutan saat serah terima zakat. Meski terdapat keraguan, insya Allah hal tersebut tidak akan menjadikan kita berdosa.

 

Demikian halnya bagi mustahik yang menerima zakat yang diduga dari hasil korupsi. Jika zakat itu diterima langsung dari orang bersangkutan, bukan dari amilin, maka bertanyalah untuk memperjelas status harta yang dizakatinya. Tapi, jika mustahiq tersebut menerima zakat dari amilin, mustahiq tidak perlu repot bertanya untuk memperjelas status zakat yang diterimanya. Wallahu a’lam.  [ ]

 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 33 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment