Kisah Al-Khansa’ dan Indahnya Kesabaran di Dalam Islam

PERCIKANIMAN.ID – – Al-Khansa’ seorang penyair besar dan seorang shahabiyah yang mulia, yang sebagian besar dari syair-syairnya serta kisah-kisah indahnya di dalam Islam terukir dalam sejarah. Al-Khansa’ datang kepada Rasulullah bersama kaumnya, kemudian memeluk Islam bersama mereka semua. Mereka menyebutkan bahwa Rasulullah memintanya untuk membacakan syair karena beliau merasa senang dengan syairnya, maka Al-Khansa’ pun membacakan syair kepada Rasulullah dan beliau bersabda, “Tambah lagi wahai Khansa”.

Setelah saudara-saudaranya terbunuh, Al-Khansa’ jadi sering menyenandungkan syair-syair kesedihan karena meratapi kepergiannya, dan salah satu syairnya adalah Al-Mutaqarib. Ibnul Atsir mengatakan, “Para ahli syair telah bersepakat bahwa tidak ada seorang wanita pun dari generasi sebelumnya maupun sesudahnya yang lebih ahli dalam bidang syair daripada dia.”

Ratapan-ratapan kesedihannya itu sangat berpengaruh kepada dirinya sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Akan tetapi, setelah memeluk Islam, Al-Khansa’ pun berubah dari seorang pencipta syair yang berisi ratapan dan tangisan berkepanjangan, menjadi seorang pemilik kesabaran yang indah. Kesabaran inilah yang akan terlihat oleh kita di dalam kisahnya pada saat Perang Qadisiyyah. Peperangan itulah yang telah mengukir sejarah tentang peran Al-Khansa’ dengan tinta cahayanya.

Diriwayatkan dari Az-Zubair bin Bakkar, dari Abi Wajzah, dari ayahnya, dia berkata, “Sesungguhnya, Al-Khanza’ menyaksikan perang Qadisiyyah dan dia memiliki empat orang anak laki-laki. Maka dia berkata pada mereka pada permulaan malam, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk Islam dan berhijrah atas pilihan hati kalian sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari lelaki yang sama, sebagaimana kalian pun keturunan dari wanita yang sama. Aku tidak pernah mengkhianati Ayah kalian, juga tidak pernah mencemarkan nama baik paman kalian, juga tidak pernah menjelek-jelekkan garis keturunan kalian, juga tidak pernah menodai nasab kalian. Sungguh, kalian semua mengetahui betapa besarnya pahala yang telah Allah siapkan untuk kaum muslimin dalam memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah, sesungguhnya negeri akhirat yang kekal lebih baik daripada dunia yang fana ini.

Karena Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Ali Imran: 200)

kalender percikan iman 2018

Maka jika Allah menghendaki kalian dalam keadaan selamat pada esok pagi, maka pergilah kalian untuk memerangi musuh kalian dengan penuh persiapan. Demi Allah, Dia akan menjadikan musuh-musuh-Nya selalu mengalami kekalahan. Apabila kalian melihat peperangan telah berlangsung sengit, telah berkobar dengan hebat, dan telah berselimut api di seluruh penjurunya, maka bersegeralah kalian memasuki medan perang dan bertempurlah bersama pemimpin kalian demi kehormatan pasukan. Raihlah ghanimah dan kehormatan di negeri keabadian dan kemuliaan’.”

Maka anak-anaknya pun keluar menuju medan perang dengan memegang teguh nasihat dan perkataan ibunya. Ketika fajar Shubuh telah menyingsing, mereka pun bersegera menuju markas-markas pasukan. Kemudian satu persatu anak-anaknya bertempur hingga syahid di medan perang. Pada saat itulah, sejarah menggenggam penanya untuk menuliskan bagaimana kondisi ibu yang penyabar ini sekaligus kata-katanya yang abadi di dalam lembaran-lembaran sejarahnya. Ibu itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan diriku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada Rabbku agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di kediaman yang penuh dengan rahmat-Nya.”

Kesabaran macam apakah ini? Pembeda apakah yang ada di antara ratapan kesedihannya untuk saudaranya yang mematahkan hati dan kesabarannya yang indah atas kematian seluruh anaknya? Itulah Islam, wahai saudariku. Itulah pendidikan keimanan bagi hati hingga ia tunduk terhadap perintah Allah dan ridha terhadap ketentuan-Nya. Itulah rasa cinta yang sangat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta persembahan dengan segala sesuatu yang mahal dan sangat berharga demi rasa cinta itu.

Demikianlah Al-Khansa, seorang ibu dari empat orang pahlawan yang telah mempertaruhkan nyawa mereka di jalan Allah dengan sangat mudah dengan menuruti nasihat ibunya kepada mereka, sehingga mereka semua bersemangat untuk meraih kemuliaan syahid di jalan Allah. Adakah ibu muslimah lain yang melahirkan anak-anak seperti para pahlawan itu yang rela membawa ruh mereka di tangannya demi berperang di jalan Allah, di mana mereka meraih ghanimah atau mati sebagai syahid, supaya mereka dapat hidup kekal di sisi Allah juga di dalam lembaran-lembaran sejarah?

 

*Disarikan dari buku 66 Muslimah Pengukir Sejarah karya Ummu Isra’ binti Arafah.

Buku 66 Muslimah Pengukir Surga 2a

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 21 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment