Cara Melakukan Ta’aruf Dalam Islam

Assalamu’alaykum. Pak Aam, beberap bulan lalu saya tertarik dengan seorang akhwat  namun belum berani untuk mengutarakannya. Mohon penjelasannya mengenai cara taaruf dan apa saja rambu-rambunya yang sesuai dengan ajaran Islam. Terima kasih. ( Donny by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya kang Donny serta mojang bujang sekalian yang dirahmati Allah. Jadi begini, taaruf merupakan salah satu pintu menuju kehidupan rumah tangga sesuai ajaran Islam. Namu perlu digaris bawahi, bahwa taaruf  bukanlah pengganti kata “pacaran dalam Islam”. Beberapa orang berlindung di balik kata taaruf untuk melegalkan praktik berdua-duaan yang selama ini menjadi menu “wajib” dalam pacaran. Berhati-hatilah! Khususnya bagi mojang-mojang sekalian.

Apa yang dimaksud dengan taaruf? Taaruf berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengetahui atau mengenal. Taaruf bermakna saling mengenal. Kata ‘arafa terdapat dalam Al-Quran yang bunyinya,

Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujuurat [49]: 13)

Taaruf sendiri harus ada kesungguhan niat untuk membangun rumah tangga bukan sekedar coba-coba ingin kenal lalu kalau merasa cocok dilanjut kalau tidak ditinggal, bukan itu maksud taaruf itu. Jadi bagi bujang sekalian, jika Anda ingin bertaaruf dengan seorang akhwat maka harus ada niat bersungguh-sungguh untuk menikahinya. Soal nanti apakah Allah akan menakdirkan Anda berjodoh itu urusan nanti, yang penting niat Anda bertaaruf itu sudah benar, bukan untuk pacaran atau istilahnya lepas dari status jomblo.

Kemudian bagaimana tata cara taaruf yang benar? Begini, dalam Islam itu semuanya telah diatur lengkap termasuk dalam urusan memilik pasangan hidup. Nah, taaruf ini bagian dari upaya kita dalam menemukan pasangan hidup yang shaleh dan shaleh. Taaruf yang dibenarkan oleh Islam adalah yang mematuhi rambu-rambu minimal sebagai berikut.

  1. Tetap menjaga pandangan mata dan hati dari hal-hal yang diharamkan

Katakan kepada laki-laki beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakan kepada para perempuan beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Janganlah menampakkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat…’” (Q.S. An-Nuur [24]: 30- 31)

Jadi tetap harus menjaga pandangan tidak boleh sebaliknya mengumbar pandangan yang dilarang dalam agama.

2. Materi pembicaraan tidak mengandung dosa dan tidak bermuatan berahi

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh orang lain bersedekah, berbuat kebaikan, atau mendamaikan antar manusia. Siapa pun yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala besar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 114)

Dalam obrolan sendiri tetap mengedepankan amar ma’ruf dan mengindari kata-kata yang jorok termasuk kata-kata lewat media social. Jadi meski pun berkomunikasi lewar dunia maya maka tidak boleh menebarkan kata-kata porno,misalnya.

3. Menghindari khalwat (mojok)

Taaruf itu dilakukan di rumah bersama keluarganya minimal ayah atau ibunya. Jadi bukan jalan-jalan atau ditempat kost dan sebagainya. Di rumah juga harus ditempat terbuka maksudnya bukan ditempat yang sepi.  Coba perhatikan pesan Rasulullah Saw,

Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya karena yang ketiganya adalah setan, kecuali ada mahramnya.” (H.R. Ahmad)

4. Menghindari persentuhan fisik

Dalam taaruf tetap tidak boleh ada sentuhan fisik, padangan saja kan harus dijaga termasuk bersalaman. Jadi tetap haram melakukan salaman tangan meski niatnya untuk taaruf. Ingat apa yang dipesankan Nabi Saw,

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim).” (H.R. Bukhari)

5. Menjaga aurat masing-masing sesuai aturan syar‘i (Islam)

Dalam proses taaruf juga harus berpakaian yang menutup aurat. Ini tentunya berlakuk bagi akhwat (wanita) maupun ikhwan. Batasan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka, punggung tangan, dan telapak tangan. Sedangkan untuk aurat laki-laki, para ulama berbeda pendapat. Pertama, sebagian ulama menyatakan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Dengan demikian, bagian tubuh di bawah pusar dan paha termasuk aurat. Jadi tidak boleh taaruf memakai pakaian yang minim.

 

Nah sebagai informasi, bagi sahabat-sahabat baik ikhwan atau akhwat atau mojang-mojang sekalian khususnya yang hendak menikah atau sedang mencari pasangan, Anda dapat mengikuti acara pelatihan atau seminar pra nikah yang bertema “ INSYA ALLAH SAYA SIAP MENIKAH” tanggal 2 Desember 2017 ini. Kebetulan saya juga menjadi pembicaranya. Selama sehari kita akan belajar tentang persiapan menikah, tips memilih pasangan, cara menyelesaikan problematika rumah tangga dan berbagai hal.

Selain saya juga ada dari kalangan psikolog dan motivator dan inspirator sehingga materinya insya Allah akan lengkap.  Harapannya, semoga nanti setelah mojang-mojang mengikuti pelatihan ini Anda dapat ilmu dan kemantapan dalam mengarungi rumah tangga sehingga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Wallahu A’lam. [ ]

 

Seminar Pra Nikah 1

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 986

(Visited 10 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment