Ambil Anak Angkat Agar Cepat Hamil, Mitos atau Fakta?

keluarga

PERCIKANIMAN.ID – – Ada kebiasaan dalam masyarakat Indonesia saat suami istri lama tidak tidak hamil atau belum diberi momongan maka dianjurkan untuk mengambil anak angkat. Istilah mengambil anak angkat bagi pasangan yang belum hamil dalam tempo lama ini biasa disebut ”pancingan”.

 

Apakah ini mitos atau fakta? Bagi kalangan masyararakat modern tentu ini adalah mitos. Namun, kebiasaan sebagian masyarakat kita dalam hal ”pancing-memancing kehamilan” adalah fakta. Mengapa kebiasaan tersebut bisa sampai turun temurun dan terus dipraktikkan oleh sebagian pasangan? Bisa jadi karena cukup banyak yang berhasil mendapatkan kehamilan dengan metode ”pancing” tersebut.

 

Sebenarnya, penjelasan atas masalah di atas sederhana saja. Pasangan yang tak kunjung mendapatkan momongan, setiap bulannya, ketika menjelang tanggal menstruasi (siklus menstruasi) selalu merasa was-was. Terlebih lagi dengan sang istri. Rasa was-was akan semakin mendera, manakala tanggal tersebut semakin mendekat, sehingga ia mengalami stres. Mungkin, dalam masa-masa tertentu, pembuahan telah terjadi. Namun, hormonal tubuh ibu yang dibentuk karena stres akan merusak dan mengganggu calon janin yang sedang dalam proses membentuk ”akar” dalam rahim, sehingga terjadilah pelepasan atau keguguran.

 

Nah, ketika pasangan tersebut mengangkat anak dan mereka menyayangi anak itu dengan sepenuh hati, mereka akan bahagia dan akhirnya tak menghitung-hitung lagi tanggal menstruasi. Pada saat kondisi itu tercipta, tentunya baik suami ataupun istri tak lagi stres, sehingga hormonal sang istri kembali normal, dan saat pembuahan terjadi, proses pembentukan ”akar” dalam rahim akan berjalan dengan lancar.

 

Jadi, ketenangan batin itulah yang sebenarnya membantu upaya mendapatkan kehamilan. Bila dalam mengurus bayi tersebut sang istri malah merasa kelelahan dan membuat keadaannya bertambah stres, kemungkinan untuk hamil justru akan menjadi semakin tipis. Karenanya, bila ada niatan untuk mengangkat anak, jangan ditujukan sebagai pancingan/umpan, tetapi betul-betul karena kasih sayang.

donasi perpustakaan masjid

 

Peran doa dalam mengundang simpati Allah

 

Kalau saja kita tidak menganggap doa sebagai bagian yang terpisah dari ikhtiar, tentunya doa yang kita panjatkan dapat pula berperan sebagai ’obat’ bagi jiwa (psikis). Ketika kita berkata, ”Kita sudah berikhtiar, sekarang tinggal berdoa”, secara tak sadar kita telah menomorduakan doa. Padahal, bila kita renungkan, yang harus kita jadikan pokok pangkal dari segala sesuatu adalah Kemahakuasaan Allah.

 

Dalam hubungannya dengan kehamilan yang didamba, yang harus kita jadikan patokan awal adalah bahwa janin yang diharapkan kehadirannya di dalam rahim adalah mutlak berada pada kekuasaan Dzat Yang Maha Pencipta. Dialah yang berwenang untuk menciptakan makhluk. Dia pula yang memiliki hak mutlak untuk menentukan rahim siapa yang hendak Ia pilih untuk kehidupan makhluk yang Ia ciptakan. Bila demikian, doa semestinya menyatu (include) dengan ikhtiar, sehingga doa adalah ikhtiar, dan ikhtiar adalah doa. Baru kemudian, kita bertawakal, yaitu menyerahkan segalanya kepada Allah.

 

Saat doa telah menyatu dengan ikhtiar, dan tawakal telah bersatu dengan jiwa, hati akan tenteram. Kondisi ini akan turut menentukan tingkat keberhasilan ikhtiar. Sebaliknya, saat ikhtiar dan doa dipisahkan, hati tetap akan gelisah, stres pun tak dapat dihindari, terutama menjelang tanggal menstruasi. Akibatnya, proses kehamilan menjadi terganggu.

 

Hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah niat. Kadang, niat yang muncul setelah sekian lama tak kunjung hamil menjadi sangat beragam. Tengok saja pengakuan Yanti, istrinya Pak Solihin yang tuan tanah itu, ketika ditanyakan apa tujuannya ingin cepat-cepat punya anak. ”Dok, kalau sampai tahun ketiga ini saya tak juga hamil, saya takut suami saya nikah lagi,” demikian ungkapnya khawatir. Atau juga seperti yang dituturkan Fitri, istrinya Adi. ”Supaya nggak diomeli mertua saya yang cerewet bawel itu,” katanya ketika disodorkan pertanyaan serupa. Atau, ada pula yang ingin membuktikan kepada dunia bahwa dirinya tidak mandul.

 

Kalau niat memiliki anak adalah demi mempertahankan ego atau demi kepentingan dan kesenangan pribadi, seribu satu kekecewaan akan muncul silih berganti. Misalnya saja biar suami nggak nikah lagi. Kalau ini yang menjadi tujuan, adakah jaminan bahwa suami tidak akan nikah lagi setelah dikaruniai anak? Padahal, cukup banyak suami yang berpoligami walaupun ia telah memiliki anak. Demikian pula bila diniatkan agar tidak diomeli calon mertua. Tidak ada jaminan mertua akan selalu tersenyum pada menantu kala ia telah dihadiahi cucu.

 

Dalam permasalahan ini, hendaklah kita becermin pada kisah Nabi Ibrahim a.s. Umur Ibrahim dan Istrinya, Siti Sarah, telah cukup tua, namun mereka belum memiliki anak. Dalam kondisi demikian, Ibrahim tak berputus asa memohon pada Allah Sang Maha Pencipta sambil tetap meluruskan niat. Siti Sarah pun kemudian meminta Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar, dengan harapan Ibrahim dapat beroleh keturunan dari Siti Hajar. Tak lama Siti Hajar mengandung, Ibrahim dan Siti Sarah pun mendapat kabar bahwa mereka akan mendapatkan keturunan. Kisah ini diabadikan dalam Surat Huud (11) 71–73.

 

”Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak akan lahir putranya, yakni Ya’qub. Istrinya berkata, ”Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan kini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata, ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Itu adalah rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

 

Begitulah. Dari Siti Hajar, Ibrahim dikaruniai anak yang diberi nama Ismail, dan dari Siti Sarah Ibrahim dikaruniai anak yang diberi nama Ishak. Kedua putranya ini kemudian diangkat pula menjadi nabi oleh Allah swt.

 

Apa doa Nabi Ibrahim ketika memohon dikaruniai anak? Ia berdoa ”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Ash-Shaaffaat 37: 100)

 

Doa tersebut menggambarkan tentang lurusnya niat Ibrahim berkenaan dengan keinginannya dianugerahi anak. Untuk lebih membuktikan tentang tulus dan tidaknya niat Ibrahim tersebut, Allah pun mengujinya dengan perintah untuk menyembelih anaknya (Ismail). Ternyata, Ibrahim benar-benar memiliki komitmen yang begitu teguh. Ia ungkapkan perintah Allah ini kepada anak yang sangat disayanginya. Ketika sang anak mendengar tentang hal itu, ia pun patuh atas ketetapan dari Tuhannya. Inilah buah dari doa Ibrahim yang memohon dianugerahi anak yang saleh.

 

Lurusnya niat dalam keinginan memperoleh keturunan dicontohkan pula oleh keluarga Imran. Hal ini diabadikan Allah dalam Surat Ali Imran (3) 35.

 

”Ingatlah ketika istri Imran berkata, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Kesimpulannya adalah kehamilan merupakan salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Bagi manusia, mengupayakan suatu kehamilan bisa menjadi teramat sulit sedangkan bagi Allah swt. sangat mudah, terlepas dari batasan usia yang ditetapkan oleh teori. Subhanallah! Karenanya, ungkapkan nazar atau permohonan yang tulus untuk memperoleh keturunan yang saleh saat bermunajat ke hadirat-Nya. Kemudian, iringi permohonan itu dengan amal saleh seperti melaksanakan shalat tepat waktu dan menjalankan shalat-shalat sunat, shaum, sedekah, dan lain-lain. Wallahu’alam. [ ]

 

*Disarikan dari buku ”Kehamilan yang Didamba” karya dr. H. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG (K)., M.M. dan Dr. H.Aam Amiruddin, M.Si.

 

Buku Kehamilan Yang Didamba 1

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

(Visited 11 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment