Jadi Orangtua Betulan atau Kebetulan? Ini Tandanya

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam terminologi Al-Qur’an, anak sering disebut dengan kata walad atau aulad dan seringkali disandingkan dengan kata amwal (harta). Harta itu diturunkan oleh Allah Swt. sebagai rezeki dan karunia yang menyenangkan bagi orang yang menerima. Tetapi, jika tidak pandai mengelolanya, bukankah tidak sedikit harta justru dapat mencelakakan manusia yang dititipi harta tersebut?

Demikian juga halnya dengan anak. Awalnya anak adalah semacam rezeki yang menyenangkan yang diterima orangtua. Tetapi, jika tidak pandai mengelolanya, anak dapat menjadi beban dan masalah bagi orangtua ataupun lingkungannya. Meski sama-sama memiliki anak, setiap orangtua dapat memiliki ‘kenikmatan’ berbeda berkaitan dengan keberadaan anak. Banyak orangtua yang merasa senang bersama anak setiap hari, tapi tidak sedikit orangtua justru sengaja menjauhkan anaknya agar bebas dari beban saat bersama anak. Mengapa demikain?

Tentu saja ada banyak faktor. Dua faktor penting diantaranya adalah mengelola anak itu sendiri. Niat berkaitan dengan pemaknaan orangtua terhadap keberadaan anak. Setiap orangtua harus memiliki pemahaman yang benar tentang alasan mereka menikah memiliki anak. Sedangkan, faktor pengelolaan adalah berkaitan dengan pola-pola yang mereka kembangkan dalam mengasuh anak.

Faktor pertama, niat memiliki anak, adalah faktor utama dan terbesar yang akan mempengaruhi faktor kedua, bagaimana cara orangtua membesarkan anak. Coba kita tanyakan pada diri kita sendiri, mengapa kita mempunyai anak? Jawabanya bisa berbeda-beda tentunya. Tetapi, ada dua jawaban besar, yaitu niat banget (yang dilandasi idealisme atau setidak-tidaknya sok idealis) dan mengalir begitu saja.

Sebagian besar orangtua yang saya tanya memang menjawab niat banget memiliki anak dengan ragam alasan seperti untuk investasi dunia akhirat, penerus generasi, meneruskan keberlangsungan kehidupan di muka bumi, agar saat tua ada yang mengurus, serta agar setelah meninggal ada yang mendoakan. Tetapi, ada juga yang justru kebingungan sendiri dengan memberi jawaban seperti, “ya begitu saja”, “mengalir”, “orang menikah kan wajar punya anak”, “ya dikasih saja sama Allah”.Singkatnya, semua jawaban tersebut dapat dirangkum dengan satu kalimat, “saya punya anak ya karena takdir Allah”

promo oktober

Tentu saja, yang ada di dunia terjadi atas takdir Allah Swt. Tetapi, takdir itu semacam final result yang sebelumnya ada proses sunatullah yang harus dijalani terlebih dahulu. Sebagai ilustrasi, kuda yang terlepas adalah takdir Allah Swt. Tetapi, mengapa sampai kuda tersebut lepas tentu ada prosesnya, misalnya karena tidak diikatkan dengan benar. Pun demikian halnya dengan mempunyai anak. Selain takdir Allah, tentu harus ada proses. Sejak awal sebelum menikah, kita harusnya tahu mengapa kita ingin mempunyai anak?

Jika kita menjawab pertanyaan mengapa mempunyai anak dengan jawaban “mengalir begitu saja”, maka akan berdampak kurang baik terhadap pola perilaku kita kepada anak. Ini sama saja dengan kita siap menikah tapi tidak mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua. Yang terjadi kemudian adalah pola asuh ‘warisan’dan ‘trial atau coba-coba’ dijadikan modal utama dalam mendidik anak. Tipe orangtua seperti ini memang mempersiapkan diri, tapi itu dilakukan setelah janin tumbuh di dalam rahim. Itu pun lebih pada asesoris kelahiran seperti mempersiapkan baju bayi, box bayi, kereta dorong, dan lain sebagainya.

Bisa dibilang, orangtua yang mengalir begitu saja berkenaan dengan memiliki anak atau sekadar ikut-ikutan mempunyai anak adalah orangtua “kebetulan” dan tentu saja berbeda dengan orangtua “betulan” yang memang niat banget memiliki anak. Orangtua yang nia banget ini insya Allah sebelum menikah sudah mempersiapkan pola atau cara membesarkan anak-anak yang akan mereka lahirkan.

 

Mereka jauh-jauh hari sudah mempersiapkan ‘baju’ akhlak yang pantas ‘dipakai’ kepada anak, ‘kereta dorong’ pemikiran yang paling nyaman untuk menemani anak ‘jalan-jalan’, serta b ‘ox’ norma-norma yang paling sesuai untuk menyimpan bekal ‘makanan’ anak. Sebelum menikah, mereka rajin membaca banyak buku tentang pendidikan anak serta rajin mengikuti seminar-seminar pendidikan anak. Bahkan, salah seorang staf saya di Auladi Parenting School yang belum menikah mewajibkan atau menargetkan dirinya sendiriuntuk membaca sekian buku tentang pendidikan anak sebelum menikah.

Tentu saja, hal tersebut bukan untuk secara otomatis menjadi orangtua hebat. Tetapi,bukankah yang rajin membaca buku pendidikan anak akan berpeluang menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak-anaknya kelak dibandingkan dengan yang tidak membaca buku sama sekali? Bukankah ada perebdaan orangtua yang rajin mengikut seminar atau pelatihan pendidikan anak dengan yang tidak?

Jadi, apakah Anda termasuk katagori orangtua ‘kebetulan’ atau orangtua ‘betulan’? Jawabannya hanya Anda sendiri yang tahu. Termasuk kategori mana pun, saya mengajak Anda untuk terus belajar memperbaiki diri. Kita bisa belajar dari mana pun, termasuk dari sharing dengan orangtua lainnya. [ ]

 

5

*Dikutip dari buku “RENUNGAN DAHSYAT UNTUK ORANGTUA” tulisan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari.

 Buku Renungan Dahsyat Orangtua

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

985

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment