Anak Itu Sebagai Anugerah atau Beban ?

Shalat Gendong Anak 1

PERCIKANIMAN.ID – – Pasangan suami istri yang sudah dikaruniai keturunan mungkin telah merasakan kesenangan memiliki anak. Memang sih, anak kadang membuat kesal, capek, letih, serta lelah. Tetapi, jika mau jujur, sebenarnya lebih banyak hal yang menyenangkannya daripada yang tidak (menyenangkan) dalam interaksi bersama anak, bukan? Anak-anak kita lebih banyak akurnya dari pada berantemnya, iya kan? Lebih banyak tidak menangisnya dari pada nangisnya (kecuali tentu saja saat sakit), kan?

Puluhan ribu orangtua sering di ‘todong’pertanyaan ini, “Anak itu sebenarnya anugerah atau beban?” Sebagian besar menjawab, anak adalah anugerah. Sebagian kecil menjawab, anak adalah anugerah juga beban. Dan, sangat sedikit (hanya 20-30 orang dari 700 peserta tiap kelas pelatihan) yang menjawab, anak adalah beban. Kemudian, redaksi pertanyaan tersebut saya ubah (dengan mempertahankan substansinya,tentu saja) menjadi, “Anak lebih banyak memberi atau meminta?” Coba tebak, jawaban apa yang paling banyak? Ya, meminta!

Tungu dulu. Jika anak banyak meminta, berarti anak adalah beban, bukan? Jika anaka dalah anugerah, seharusnya anak banyak memberi, bukan? Tentu saja, ini pemaknaan hitam putih. Kenyataannya, banyak orangtua yang mengungkapkan bahwa maksud mereka menyatakan bahwa anak banyak meminta adalah meminta orang tuanya untuk ‘berinvestasi’ diladang amal kebaikan. Jadi, ujung-ujungnya ya anugerah juga.Benarkah begitu? Benarkah anak adalah anugerah? Anda boleh tidak setuju, tapi menurut saya, anak lebih banyak memberikan anugerah daripada menyebabkan beban. Saya termasuk yang tidak setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa anak lebih banyak meminta daripada memberi.

Yang tidak setuju dengan pendapat saya tersebut mungkin akan bertanya, “Memang apa yang anak berikan kepada kita?” Oh, rasanya tidak bisa dihitung. Ketika melihat bayi kita yangberusia dua bulan tersenyum untuk pertama kalinya, apa yang kita rasakan? Ketika anak kita yang usia dua tahun bernyanyi di atas sofa, apayang kita rasakan? Ketika anak kita ngomong sendiri atau ngoceh terus dengan bonekanya, apayang kita rasakan? Ketika anak mencium pipi kita, Anak lebih banyak memberikan anugerah daripada menyebabkan beban.

Saya termasuk yang tidak setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa anak lebih banyak meminta daripada memberi apa yang kita rasakan? Ketika kita melihat dengan lekat pada wajah anak saat sedang tidur, apa yang hati kita rasakan? Ketika anak kita yang beranjak remaja curhat tentang gurunya di sekolah, teman-teman mainnya, atau bahkan ‘ghibahin’ tentang kita sebagai ayah ibunya, perasaan apa yang kita alami? Senyum-senyum sendiri, tertawa bersama, terharu, seru, atau apa pun pilihan katanya, yang jelas kita merasakan hal-hal yang positif, bukan?

kalender percikan iman 2018

Dalam terminologi Al-Qur’an, anak sering disebut dengan kata walad atau aulad dan seringkali disandingkan dengan kata amwal(harta). Harta itu diturunkan oleh Allah Swt. sebagai rezeki dan karunia yang menyenangkan bagi orang yang menerima. Tetapi, jika tidak pandai mengelolanya, bukankah tidak sedikit harta justru dapat mencelakakan manusia yang dititipi harta tersebut?

Demikian juga halnya dengan anak. Awalnya anak adalah semacam rezeki yang menyenangkan yang diterima orangtua. Tetapi, jika tidak pandai mengeloalnya, anak dapat menjadi beban dan masalah bagi orangtua ataupun lingkungannya. Meski sama-sama memiliki anak, setiap orangtua dapat memiliki ‘kenikmatan’ berbeda berkaitan dengan keberadaan anak. Banyak orangtua yang merasa senang bersama anak setiap hari, tapi tidak sedikit orangtua justru sengaja menjauhkan anaknya agar bebas dari beban saat bersama anak. Mengapa demikain?

Tentu saja ada banyak faktor. Dua faktor penting diantaranya adalah mengelola anak itu sendiri. Niat berkaitan dengan pemaknaan orangtua terhadap keberadaan anak. Setiap orangtua harus memiliki pemahaman yang benar tentang alasan mereka menikah memiliki anak. Sedangkan, faktor pengelolaan adalah berkaitan dengan pola-pola yang mereka kembangkan dalam mengasuh anak. Semoga anak-anak kita betul-betul menjadi anugerah. [ ]

5

*Dikutip dari buku “RENUNGAN DAHSYAT UNTUK ORANGTUA” tulisan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari.

 Buku Renungan Dahsyat Orangtua

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

(Visited 1 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment