Menjadi Anak Shalehah Atau Istri Shalehah?

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Mungkin Ukthi sekalian pernah mengalami yang dirasakan ukhti berikut ini. Dia terlahir dari keluarga broken home. Dia dan adik-adik berada dalam pengasuhan ayahnya. Setelah bercerai, baik ayah maupun ibunya menikah lagi dan membentuk keluarga masing-masing. Belum lama ini, ibu kandungnya baru saja ditinggal ayah tirinya yang berpulang ke rahmatullah. Sebagai anak pertama, dia mempunyai tanggung jawab untuk merawat dan memenuhi kebutuhan adik-adik dan ibunya, mengingat beliau sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Sang ukhti berpikir, “Mungkin sekaranglah saatnya bagi saya untuk mengabdi kepada Mama.” Masalahnya, pada saat yang hampir bersamaan, ada ikhwan yang hendak meminangnya dan dia merasa klik dengan ikhwan tersebut. Selain itu, mereka mengaji di ustadz yang sama sehingga hubungan keduanya memang sudah mendapatkan lampu hijau dari ustadz yang bersangkutan. Dia sudah menjelaskan kondisinya yang harus merawat ibunda tercinta, tetapi sang ikhwan ingin agar mereka cepat-cepat menikah.

Ukhti ini pun bingung. Dia tidak tahu mana yang harus ia dahulukan; memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang sudah seharusnya menjaga dan mengabdi kepada ibu (ini pasti perlu waktu lama) atau mendahulukan itikad baik ikhwan yang ingin meminangnya?

Duhai Ukhti yang mungkin memiliki permasalahan yang sama, Ukhti patut bersyukur karena masih diberi kesempatan umur untuk berbakti kepada kedua orangtua, sekalipun mereka telah berpisah. Tidak ada istilah broken home untuk berbakti kepada kedua orangtua. Insya Allah, semua ada hikmahnya.

Ujian keimanan dan kesabaran yang telah Ukhti lalui melebihi rata-rata mereka yang dikaruniai keluarga yang masih utuh. Semua peristiwa yang Ukhti lalui semoga menjadi jalan untuk menemukan kasih sayang-Nya. Alhamdulillah, saat ini Ukhti diberi kesempatan untuk lebih intens berbakti kepada ibunda tercinta.

Manfaatkanlah kesempatan tersebut dengan sebaikbaiknya sebagai wujud syukur Ukhti kepada Allah Swt. Sekaranglah saatnya bagi Ukhti untuk meluangkan waktu dan mencurahkan kasih sayang kepada ibunda tercinta. Etika atau cara berbakti kepada orangtua terdapat pada ayat-ayat-Nya berikut ini.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamujangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamuberbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanyasampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kalij anganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak merekadan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berduadengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘WahaiTuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana merekaberdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebihmengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orangorang yang baik, sesungguhnya Dia Maha Pengampunbagi orang-orang yang bertobat.” (QS. Al-Isra [17]:23-25)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuatbaik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunyatelah mengandungnya dalam keadaan lemah yangbertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibubapakmu, hanya kepada-Ku kembalimu. Dan, jikakeduanya memaksamu untuk mempersekutukan denganAku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orangyang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamukerjakan.” (Q.S. Luqman:14-15)

Mengenai ikhwan yang melamar Ukhti, bisa jadi ia adalah jodoh dan bisa juga bukan jodoh ukhti, wallaahu a’lam. Firman Allah Swt.,

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidakada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apayang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daunpun yang gugur yang tidak diketahui-Nya dan tidak adasebutir biji pun dalam kegelapan atau yang kering, yangtidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)”(Q.S. Al-An’am [6]: 59).

Ya, Allah Swt. sendirilah Yang Maha Mengetahui segalanya.  Di sini, penulis hanya memberikan pertimbangan dan semua diserahkan padakemantapan hati Ukhti sendiri. Karena bagaimana pun, Ukhti yang akan menjalani pernikahan tersebut, dan bukan ustadz yangmenjadi mediator. Kenalilah  sebaik-baiknya ikhwan yang Ukhti maksud dan bukan hanya mengenalinya berdasarkan data-data di atas kertas. Istikharah dan mohonlah kepada Allah untuk diberikan jodoh yang memenuhi unsur kebaikan dalam hal kepribadian, agama, dunia, dan akhirat.

Kalau memang ia sudah memenuhi kriteria yang Ukhti harapkan, silakan menikah dan tidak usah khawatir tentang Mama. Saya yakin, seorang ibu akan merestui bila anaknya secara baik-baik menyampaikan niatnya menikah dan sang calon menantu menunjukkan itikad baik untuk serius memperistri anaknya. Insya Allah, mama dan papa Ukhti (sebagai wali nikah), akan turut berbahagia.

Mengenai kebutuhan biaya hidup adik-adik dan mama tercinta, insya Allah, Dia Yang Maha Kaya akan membukakan  jalan-Nya sepanjang kita berusaha dengan maksimal dan tetap menjaga niat yang lurus untuk mencari kebaikan dunia dan akhirat sambil tetap menjaga tali silaturahmi.Rasulullah Saw. bersabda,

Barang siapa yangmenjadikan akhirat sebagai tujuannnya maka Allah akan memberikan kekayaan di dalam hatinya, dan Allah akan memberikan kekuatan untuknya dan dunia akan mendatanginya sekalipun dengan terpaksa, dan barang siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kemiskinannya  di antara  keduamatanya  dan akan mencerai-beraikan kekuatannya, serta dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telahditetapkan baginya.”

Dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw. bersabda,“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal maka Dia pasti memberikan rezeki kepada kalian sama seperti Dia telah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi pada waktu pagi dengan perut yang kosong dan pulang waktu sorenya denganperut yang kenyang.”

Jadi, luruskanlah niat dan Allah Swt. tidak akansalah memberikan rezeki kepada hamba-Nya yanggiat berusaha dengan berlandaskan iman dan takwa.Wallaahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

sasa esa

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment