Benarkah Miras Yang Tidak Sampai Mabuk Hukumnya Boleh ?

miras-2

Assalamu’alaykum. Pak Aam, dalam sebuah diskusi ada teman yang berpendapat bahwa minuman keras (alkohol) itu tidak haram selama tidak membuat mabuk. Sementara ada hadis yang menyatakan alkohol (minuman keras) itu haram sehingga ibadah shalatnya tidak akan diterima Allah selama 40 hari. Bagaiaman hukum minuman keras? Apakah ada ukuran atau takarannya yang dibilang haram itu? (Hudaya by email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Pak Hudaya dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perlu diketahui bahwa dalam bahasa agama (Islam) minuman yang memabukkan itu disebut dengan khamr. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw:

 

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr hukumnya haram.” (HR. An-Nasai)

 

Berangkat dari hadits ini bisa dipahami bahwa yang memabukkan itu bukan hanya minuman saja atau sesuatu yang berwujud cair dan cara konsumsinya dengan di minum. Di zaman sekarang ini ada jenis khamr yang wujudnya tidak cair misalnya narkoba , kan itu wujudnya bukan cairan namun hukumnya tetap sama haram. Demikian juga cara mengkonsumsinya bermacam-macam cara, adanya dihisap, diminum, disuntikkan dan sebagainya. Dengan demikian yang namanya khamr itu tidak selamanya yang berwujud minuman (cair) namun tetap hukumnya haram. Pada prinsipnya semua zat yang dapat memabukkan terkategorikan haram untuk dikonsumsi.

 

Mengenai ukuran atau takaran itu tidak menjadi persoalan, apakah itu setes, sesendok, segelas, sebotol dan sebagainya selama zatnya memabukkan maka status hukumnya haram sehingga takaran bukan menjadi sumber hukumnya melainkan zatnya.  Dalilnya sangat jelas dimana dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda,

donasi perpustakaan masjid

 

Apa saja yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya adalah haram” (HR Abu Dawud, an-Nasai, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

 

Anggapan bahwa asal tidak mabuk maka tidak haram, itu adalah anggapan yang salah. Sekali lagi haramnya khamar bukan dari sedikit atau banyaknya melainkan dzatnya yang memabukkan atau membuat orang menjadi tidak sadar atau hilang akal. Jangan terjebak ungkapan orang yang menggunakan logika yang seolah-olah benar namun sejatinya salah besar bahkan fatal. Jadi tetap yang banyak haram maka yang sedikit pun juga haram.

 

Lalu tentang dosa, apakah yang mengkonsumsi setetes dengan segelas dan seterusnya sama?. Tentu saja berbeda, orang yang mengkonsumsi lebih banyak tentu dosanya lebih besar juga dan seterusnya. Namun statusnya sama yakni berdosa dan tergolong perbuatan tercela (munkar).

 

Meski demikian soal “kadar” dosa ini juga jangan dianggap sepele, sehingga beranggapan kalau hanya sedikit dosanya juga sedikit (kecil) ini adalah anggapan yang keliru. Perlu diingat dosa kecil jika dilakukan tetap saja menjadi dosa besar karena dosa yang bertumpuk. Sebagai seorang muslim tentu saja harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah dan menghindari perbuatan yang mengandung dosa, sekecil apa pun itu. Sekali lagi jangan pandan perbuatan itu dari besar kecil dosanya. Wallahu’alam. [ ]

 

BACA JUGA: Olahan Daging Terkena Alkohol, Halal atau Haram? 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

(Visited 1 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment