Pentingnya Melatih Kemandirian Anak Untuk Masa Depannya

anak jatuh mandiri

PERCIKANIMAN.ID  – – Kemandirian anak adalah modal dari kreativitas,kemajuan, dan daya tahan keberlangsungan hidup (survival). Sementara, ketidakmandirian membentuk kebergantungan pada orang lain dan menghambat kemajuan dirinya sendiri.

 

Seperti otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia. Memang ada yang belum berhasil. Namun, dapat kita lihat sendiri, sejak otonomi daerah diberlakukan,banyak daerah yang bertumbuh pesat, yakni, setidaknya, 24 provinsi dan ratusan kabupaten/kotayang saya kunjungi dari lebih dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.

 

Pertumbuhan ini jauh lebih pesat daripada ketika diterapkan sistem sentralistik yang otoriter, yang membuat pengelola wilayah di sebuah daerah terlalu bergantung kepada pusat. Akibatnya, mental yang terjadi adalah nunggu perintah, instruktif, dan mental subsidi.

 

Demikian juga anak-anak kita. Ketika tidak dilatih kemandirian sejak kecil, maka mereka mungkin hanya tumbuh menjadi follower (pengekor) atau memiliki ketakutan-ketakutan ketika suatu hari mereka harus berpisah dengan orangtuanya; ketakutan mengambil keputusan dan lain-lain.

 

Agar lebih konkret, dapat kita beri gambaran lebih jelas dengan sebuah permisalan. Apa bedanya ayam kampung dan ayam negeri (ras)? Kalau ayam kampung, nyari makan sendiri, sedangkan ayam negeri (broiler) diberi makan, tinggal nunggu di kandang.

promooktober

 

Enak mana hidupnya, ayam kampung atau ayam negeri jika kita jadi ayam? Enak ayam negeri, dong! Yah, sepertinya begitu jika hanya lihat sekilas. Sekarang coba bandingkan daya tahan hidup (survival) antara ayam kampung dan ayam negeri? Ayam mana yang tahan dari penyakit? Ayam mana yang setelah besar tidak usah diberi subsidi terus? Juga secara ekonomis ayam mana yang lebih mahal harganya?

 

Jawabannya ayam kampung, kan? Sejak kecil, semua anak menyukai kemandirian. Kemandirian itu diekspresikan dengan rasa ingin tahu yang besar, rasa ingin mencoba yang besar, dan tidak takut dengan kesulitan.

 

Coba periksa. Ketika anak masih bayi, bahkan baru tengkurap saja, semua benda yang ada di dekatnya akan coba didekatkan ke mulutnya untuk dia teliti, bukan? Lalu, seiring dengan bertambahnya usia, saat baru merangkak misalnya, jika lihat tangga di rumahnya,semua anak di seluruh dunia akan memanjatnya. Ia tidak takut jatuh, terpeleset, atau ketakutan lain seperti yang dirasakan orangtuanya.

 

Ketika ia mulai tertatih-tatih berjalan, semua benda di sekitarnya ia pegang dan mungkin ia jatuhkan. Ketika ia mulai berjalan dengan sempurna, setiap jalan ia coba berlari (hampir tidak ada anak batita ketika jalan dengan orangtuanya berjalan dengan santai).

 

Demikian juga ketika anak sudah bisa memegang benda. Ia pun ingin makan sendiri, meski belepotan (karena motorik halusnya yang memang belum bagus). Ketika menginjak usia balita, jika berjalan di trotoar, ia akan berjalan di tempat yang sesempit mungkin dan ketika itu biasanya akan berkata “Lihat, Ma! Adek hebat… bisa!” Ketika ada genangan air, maka ia akan spontan loncat.

 

Ketika melihat pasir, maka ia akan dengan antusias mendekatinya, meremasnya, menaburkan,mencampurnya dengan air, dan seterus-seterusnya. Bagi anak-anak, benda apa pun yang ada didekatnya  adalah sumber keingintahuan yang besar, sumber permainan, dan akhirnya menjadi sumber kebahagiaan mereka.

 

BACA JUGA : Tips Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak

Tak jarang, bagi sebagian anak,rumah seolah menjadi tempat outbound gratis; flyingfox dengan gorden, trampolin pakai kasur, latihan keseimbangan memakai dua kursi yang didekatkan, bergaya spiderman pakai tralis. Untuk kesenangan anak, sejujurnya, orangtua tidak harus keluar banyak uang. Malah, sebagian besar bisa jadi gratis.

 

Tetapi, apakah pada faktanya semua orangtua memberikan kesempatan pada anak mereka untuk melakukan itu semua? Oh, ternyata tidak. Ketika bayi merangkak naik tangga, serta merta orangtua mengambilnya dengan alasan klise; takut jatuh.

 

Padahal, bisa jadi alasan sebenarnya adalah “enggan menjaganya ketika naik”. Ketika anak main air, orangtua juga melarang dengan alasan “nanti sakit”, “nanti flu”,“air mahal”, “nanti terpleset” dan segudang berita mengkhawatirkan lainnya ditembakkan ke dalam pikiran anak.

 

Ketika anak baru belajar makan, tentu makannya akan belepotan. Ketika belepotan inilah sebagian orangtua kemudian mengambil alih sendok anak,

 

“Sudah sini sama Mama. Makan, kok, acak-acakan begini!” Ketika anak main pasir? “Jangan, nanti kotor, banyak kuman?”

 

Ketika anak main pisau? “Nanti berdarah!” Ketika anak loncat-loncat di kasur? “Jangan, nanti rusak!” Ketika anak main beras? “Itu mahal, tidak boleh dimainkan!”

 

Lalu, hei, setelah anak dewasa, sebagian orangtua ini menuntut anaknya mandiri? Haduhhh! Berlebihan sepertinya.

 

Bagaimana mungkin anak dapat mandiri dan pantang menyerah jika dari kecil, kesempatan mereka berlatih untuk mandiri dihilangkan karena terus diambil alih oleh orangtua?

 

Tentu saja keselamatan tetap nomor satu (safety first). Orangtua tetap harus memastikan keselamatananak ketika ia bermain. Tetapi, bukankah yang harus dilarang itu bahayanya, yang merugikan anak, bukan mainnya? Bukan main beras yang dilarang, tetapi membuang beras atau mencampur beras dengan pasir.

 

Caranya? Temani, dong, anak main beras! Bukan mainairnya yang dilarang, tetapi sakitnya. Caranya? Batasi,dong, main airnya! Bukan memanjatnya yang dilarang,tetapi jatuhnya. Caranya? Jaga, dong, saat anakmemanjat!

 

BACA JUGA: Agar Anak Tumbuh Dewasa dan Tidak Manja 

Jadi, kita harus terus mendampingi anak-anak kita?Jika kita punya waktu atau lagi mood, sih, mungkin kitabisa melakukannya. Tetapi, bagaimana jika tidak punyawaktu atau lagi tidak mood?

 

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus terus mendampingi anak 24 jam, bukan? Jika tidak punya waktu, tentu saja anak balita harus dilarang demi keselamatan mereka. Pertanyaannya, apakah benar kita sebagai orangtua tidak punya waktu terus untuk anak? Apakah benar kita terus-terusan tidak mood untuk bersama anak? Apa benar kita tidak punya waktu atau malah tidak mau menyediakan waktu untuk anak? Beneran kita tidak mood atau tidak mau mendampingi anak?

 

Lalu, jika tidak punya waktu atau tidak mood terus, kenapa kita punya anak? Inilah yang saya sebut sebagai kemandirian anak yang tidak sadar dan tidak sengaja direnggut orangtua. Jika itu terjadi, maka jangan salahkan anak jika saat dewasa, ia menjadi beban untuk orangtua, masih saja bergantung hidup dan mengandalkan kekuatanorangtua. Mari ajarkan kemandirian anak sejak dini. [ ]

 

*Dinukil dari buku “Mengajarkan Kemandirian kepada Anak” tulisan  Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Buku Mengajarkan-Kemandirian-Pada-Anak jpg

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: luthfi

REKOMENDASI

Leave a Comment