Imunisasi Sebabkan Anak Autis ?

Vaksin 3

Oleh: Eddy Fadlyana, SpA(K)., M Kes*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Beberapa waktu lalu berbagai media khususnya media sosial (medsos) kembali menyebarkan informasi hoax tentang kegiatan imunisasi. Bagi kelompok kotra atau anti imunisasi tak henti-hentinya memberitakan keterkaitan antara imunisasi dan autisme. Autisme adalah kelainan perilaku yang ditandai dengan adanya gangguan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, serta adanya aktivitas yang terbatas dan diulang-ulang.

 

Masalah ini timbul setelah pernyataan seorang “pakar”, yang dianggap benar oleh masyarakat. Hal ini berakibat pada keraguan orang tua membawa anaknya untuk imunisasi. Padahal kita semua sudah tahu manfaat imunisasi dalam mencegah penyakit.

 

Misalnya 15 tahun yang lalu penderita difteri yang dirawat di rumah sakit merupakan pemandangan yang sudah biasa dan banyak di antaranya mengalami kematian, tetapi saat ini imunisasi DPT sudah tinggi dan merata di seluruh Indonesia, sehingga penyakti difteri sudah jarang ditemukan.

 

Apa bahaya anak tidak diimunisasi?

kalender percikan iman 2018

 

Sewaktu dilahirkan, bayi mempunyai kekebalan bawaan dari ibu dalam jumlah tinggi sehingga dapat melindunginya dari berbagai penyakit untuk beberapa saat. Dengan bertambahnya waktu, kekebalan bawaan ini akan menghilang. Kalau tidak segera ditingkatkan dengan imunisasi, anak akan mudah terkena infeksi.

 

Isu Imunisasi dikaitkan dengan Autisme

 

Ada 2 issue utama, yakni vaksin MMR dan kandungan thiomerosal dalam vaksin.

 

  1. Autisme dan MMR

 

Bermula publikasi dokter dari Wakefield. Berdasarkan pengamatan terhadap 12 pasiennya, ia menduga bahwa vaksin MMR bertanggung jawab terhadap masalah pencernaan yang berupa gangguan penyerapan vitamin-vitamin esensial dan nutrisi yang kemudian akan berdampak terhadap gangguan perkembangan, antara lain autisme. Akan tetapi hipotesis ini tidak didukung oleh data ilmiah yang cukup, misalnya kecurigaan ini hanya didasarkan dari jumlah pengamatan terhadap sampel yang sangat kecil (12 anak).

 

Penelitian Taylor dkk yang dipublikasikan Journal Lancet tahun 1999, menunjukkan bahwa kasus autisme telah meningkat di London. Peningkatan ini tidak ada hubungannya dengan mulai digunakannya vaksin MMR. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya anak yang mendapatkan gejala autisme lebih awal setelah mendapatkan vaksin tersebut. Dari sini disimpulkan bahwa tidak ada hubungannya antara vaksinasi MMR dengan autisme.

 

Sebagian besar kasus autisme tidak diketahui penyebabnya, tetapi penelitian teranyar menunjukkan bahwa autisme mungkin timbul atas dasar kelainan genetik yang terjadi sebelum lahir. Suatu kelompok studi di National Institutes of Health pada tahun 1995 menyimpulkan bahwa autisme merupakan suatu kondisi genetik.

 

Sebuah artikel pada Februari 2000 –Isue of Scientific American—pun menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan ini mungkin terjadi pada awal perkembangan embrio. Ketika gen tidak berfungsi secara baik menyebabkan suatu perubahan struktur dari tabung otak. Disimpulkanlah imunisasi tidak mungkin menyebabkan autisme.

 

  1. Autisme dan Thiomersal

 

Thiomersal digunakan sebagai bahan pengawet vaksin sejak tahun 1930. Thiomersal di dalam tubuh akan dimetabolisme menjadi ethylmercury.

 

Harus dibedakan antara methylmercury yang berasal dari limbah industri dan dapat memasuki tubuh melalui makanan, dengan ethylmercury yang ada dalam vaksin dan diberikan secara intramuskular. Ethylmercury dapat dimetabolisme dan dikeluarkan dari tubuh kita dengan cepat, tetapi methylmercury sulit untuk dimetabolisme oleh tubuh, sehingga terakumulasi dan tidak baik bagi kesehatan.

 

WHO dan US-FDA tidak menetapkan batas kadar konsumsi ethylmercury, namun berdasarkan struktur kimiawi substansi diperkirakan sama dengan kadar konsumsi methylmercury. Batas kandungan methylmercury dalam makanan menurut FAQ dan WHO; 1 ,6 mcg/kgBB/minggu. Sedangkan menurut US-FDA 3,5 mcg/kgBB/minggu.

 

Bila selama enam bulan setiap bayi menerima 1 dosis BCG, 4 dosis vaksin polio oral, 3 dosis vaksin DPT, dan 3 dosis Hepatitis B, maka menjadi 150 mcg : 5 kg = 30 mcg/kgBB dalam waktu 6 bulan. Bila kita hitung menjadi minggu, 125 mcg/kgBB/minggu. Jumlah ethylmercury dalam Thiomersal adalah 49,6% x 1,25 mcg = 0,62 mc/kgBB/minggu. Kadar ini masib sangat jauh di bawah batas keamanan.

 

Penjelasan singkat di atas menunjukkan, sampai saat ini tidak ada bukti kuat bahwa imunisasi dapat menyebabkan autisme. Semoga hal ini akan membuat orang tua tidak ragu lagi membawa anaknya diimunisasi sesuai jadwal. Mari menjadi orangtua yang cerdas. [ ]

 

* Penulis adalah Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

 

BACA JUGA: MUI: Dalam Keadaan Darurat Vaksin Haram Boleh Digunakan

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment