Dua Tahun Pisah Rumah Apakah Langsung Jatuh Talak?

cerai-1

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya sudah tidak tahan dengan istri dan sudah berniat untuk menceraikannya. Namun ia tidak mau bercerai. Sementara saya juga sudah memberinya kesempatan untuk memperbaiki akhlak dan perilakunya agar tidak merendahkan dan menjatuhkan martabat saya sebagai seorang suami dihadapan teman-temannya dan perilaku buru lainnya. Namun semua sia-sia tidak ada yang berubah dari istri saya. Saya juga sudah minta bantuan lewat orang lain termasuk kelurganya agar menasihati namun belum ada hasil.  Sepertinya itu sudah menjadi karakternya dan mendarah daging dalam dirinya. Akhirnya saya mengalah meninggalkan rumah dengan memilih kost di luar selama lebih dari dua tahun. Sementara urusan nafkah saya masih tanggung jawab termasuk anak-anak masih suka minta uang atau sekedar main jika kangen dengan saya. Apakah hal ini sudah jatuh talak dalam pernikahan kami?. Apakah saya perlu izin istri untuk menikah lagi?. Mohon nasihatnya (FA by email)

 

Wa’ayakumsalam Wr Wb. Iya pak FA dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Begini yang harus dipahami dulu bahwa menceraikan istri itu  adalah otoritas suami sehingga tidak perlu izin istri terlebih dahulu. Seperti yang Anda sampaikan tadi bahwa istri Anda mempunyai tabiat yang buruk bahkan hingga merendahkan dan menjatuhkan martabat Anda di depan umum. Anda sendiri sudah berusaha mempertahankan dengan cara memberinya nasihat namun akhirnya Anda sendiri merasa tidak sanggup lagi untuk mempertahankannya karena merasa sudah tidak ada jalan lain termasuk meminta bantuan keluarganya.

 

Jika Anda akan menceraikan istri maka Anda tinggal datang saja ke kantor pendadilan agama (PA) mendaftarkan gugatan/ mencatatkan diri untuk mencerai istri. Setelah itu pihak PA akan memanggil istri dan Anda untuk mediasi. Kalau istri tidak datang dan kemudian dijatuhkan talak secera sepihak maka itu sudah sah karena ketidakdatangannya dianggap setuju.

 

Meski pun istri Anda ngotot tidak mau diceraikan namun Anda menjatuhkan kata cerai maka sudah otomatis akan jatuh talak. Cerai juga tidak harus seikhlas istri, meski istri merasa tidak ikhlas atau tidak mau maka tetap jatuh talaknya. Namun demikian yang perlu diingat adalah alasan bercerai tersebut jelas dan sesuai tuntunan syariat bukan mengada-ada atau berbohong atau memanipulasi fakta.

 

Menurut hemat saya sesuai yang Anda ceritakan, secara psikologis rumah tangga yang Anda jalani sudah tidak sehat. Apalagi secara fisik Anda dan istri sudah pisah rumah selama 2 tahun dimana masing-masing (suami istri) sudah tidak lagi saling memenuhi kewajibannya. Menurut pendapat saya lebih baik cerai daripada saling mendzolimi dan menyakiti satu sama lain. Namun sekali lagi perceraian tersebut harus ditempuh dengan benar sesuai dengan syariat baik hukum Negara maupun syariat Islam. Perceraian bukan sesuatu yang haram dalam pernikahan selama ada alasan syariatnya. Dari pada Anda dan istri saling mendzolimi maka berpisah dengan baik-baik, menurut hemat saya itu lebih baik.

donasi perpustakaan masjid

 

Berikutnya terkait persoalan Anda ingin menikah lagi itu sebenarnya sah atau boleh saja. Juga tidak ada syarat harus izin istri. Namun saran saya lebih baik Anda selesaikan terlebih dahulu perceraian Anda sehingga Anda mempunyai status yang jelas (duda). Langkah ini menurut saya lebih elegan dan Anda seorang yang gentleman. Alangkah baik dan bijaknya sebelum Anda menikah lagi Anda menyelesaikan persoalan Anda dengan istri sebelumnya dengan bercerai secara sah. Rasanya akan lebih ringan Anda melangkah ke depannya dengan menyelesaikan persoalan satu persatu.

 

Sekiranya istri Anda tetap ngotot tidak mau diceraikan itu tidak menjadi masalah karena bercerai tidak harus sepersetujuan istri. Seperti halnya ketika seorang istri merasa didzolimi suaminya lalu ia mengadu dengan datang ke Pengadilan Agama dengan menuntut gugatan cerai dari suaminya. Lalu sang suami enggan menceraikannya namun pengadilan menetapkan atau memutuskan cerai maka jatuhlah status perceraian dalam perkawinan tersbeut. Hakim di pengadilan agama tidak munngkin menjatuhkan talak sekiranya gugatan oleh sang istri tidak kuat. Misalnya istri merasa selalu dikasari (disakiti) baik secara fisik maupun psikis atau tidak dinafkahi lebih dari 4 bulan (ada di buku nikah).

 

Dengan demikian pasangan suami atau istri sekiranya akan menggugat cerai tidak harus seijin atau sepersetujuan dari pasangannya. Selama alasannya jelas dan dibenarkan dalam agama atau Negara maka boleh dilakukan. Namun tentu saja selama masih bisa dinasihati atau diperbaiki kemudian sepakat melanjutkan rumah tangga dengan saling memperbaiki diri, saling memaafkan kesahatan masing-masing, tentu itu lebih baik. Sebab, ada hak dan kondisi psikologis  anak-anak yang harus diperhatikan. Bercerai atau tetap melanjutkan rumah tangga harus dipikirkan secara jernih. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.[ ]

 

Buku insya Allah sakinah 1

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

REKOMENDASI

Leave a Comment