Ketika Calon Shaleh Itu Tak Kunjung Datang, Ini Yang Harus Ukhti Lakukan

Muslimah Jalan 1

PERCIKANIMAN.ID – – Seorang ukhti pernah datang kepada penulis lalu  curhat, “Teh, saya mendambakan seorang ikhwan yang shaleh sebagai suami. Sudah lama menunggu, tapi ikhwan shaleh yang saya harapkan tidak kunjung datang juga. Apakah yang harus saya lakukan untuk mendapatkan suami yang shaleh tersebut, Teh?” .

Menanggapi pertanyaan tersebut, penulis tersenyum.  Tentu kita paham bagaimana perasaan seorang ukhti dalam menghadapi masa penantian mendapatkan jodoh. Ini memang sebuah hal gaib yang tidak seorang pun tahu akan berlangsung berapa lama. Semoga Ukhti tidak berputus asa dan tetap bersemangat meraih amal shaleh dalam arti seluas- luasnya.

Pergunakan energi yang Ukhti miliki untuk lebih dekat dan mencintai Allah Swt., orangtua, dan berkarya untuk umat. Dialah Pemilik Alam Semesta. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti memiliki rezeki (jodoh) masingmasing. Ini semua tentang persoalan waktu saja, ada yang dipercepat (di dunia) dan ada juga yang ditangguhkan (di akhirat).

 
1. Fitrah insani

 
Salah satu tanda kebesaran Allah adalah bahwa setiap manusia mempunyai keinginan untuk saling menyukai lawan jenis dan melangsungkan pernikahan.

kalender percikan iman 2018

 
Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan berupa lawan jenis, anak-anak, harta benda…” (Q.S. Ali Imran [3]: 14).

 
Hal tersebut (ketertarikan pada lawan jenis) akan lebih membahagiakan ketika kita mendapatkan pasangan yang shaleh, melahirkan keturunan yang shaleh, serta menjalani rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Anggota keluarga yang shaleh akan saling mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran sehingga tercipta miniatur surga di dunia (baiti jannati) yang pada gilirannya dapat menjadi saran berkumpul di surga-Nya kelak.

 
Karenanya kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa, kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Al-Furqaan [25]: 74).

 
Namun demikian, sebelum hari H (pernikahan) itu tiba, semua orang berada dalam situasi yang sama. Kita tidak tahu persis siapakah jodoh kita, kapan waktunya ia akan tiba, di mana akan dipertemukan, serta apakah ia benar-benar orang shaleh? Semua jawaban pertanyaan itu adalah wallahu’alam bishawwab, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

 
2. Peluang itu masih ada

 
Allah yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa telah menakdirkan jodoh bagi setiap orang. Namun demikian, manusia tidak bisa hanya berharap dan berdiam diri. Kita harus berusaha dengan melakukan ta’aruf atau memperluas network dengan lawan jenis secara syar’i. Dari sana kita bisa berupaya untuk saling mengenal, mengamati fakta- fakta pendukung, membantu diri dengan bertawasul amal-amal shaleh seperti shaum sunah, berbakti kepada orangtua, dan berinfak.

 
Usaha yang konsisten yang disertai optimisme dan prasangka baik, insya Allah, akan mengantarkan kita pada terbukanya peluang serta alternatif pilihan. Jika kita dihadapkan pada pilihan, silakan memilih salah satu calon pasangan. Kalau memang tidak berkenan, jangan ragu menolak semua pilihan tersebut.

 
Hendaknya menikah tidaklah berdasar pada keterpaksaan, rasa malu pada usia (yang sudah tidak muda lagi), atau desakan keluarga dan lingkungan. Allah telah memberikan kepada manusia akal dan aturan agama untuk menimbang, mengingat, dan memutuskan. Dengan demikian, rumah tangga yang akan dibina bisa berjalan dengan baik serta menjadi keluarga yang shaleh.

 
3. Sadari sejak dini bahwa pernikahan adalah ujian

 
Hidup adalah ujian. Karenanya, kita harus menyiapkan mental sejak dini. Bisa saja, takdir jodoh kita adalah bukan orang shaleh. Hal ini seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,

 
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalahujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar” (Q.S. At-Taghaabuun [64]: 14-15).

 
Seyogianya kita tidak berkecil hati ketika mendapatjodoh yang tidak shaleh. Hal tersebut tetap bisamenjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai lahanamal shaleh dan batu ujian untukmeningkatkan keimanan dan kesabaran, serta semakin tawakal.Insya Allah, hal tersebut bisamenjadi jalan ke surga.

 
4. Santai dan optimis di masa penantian

 
Hadapilah dengan tenang namun optimis masa-masa penantian mendapatkan pasangan (jodoh). Isilah waktu tersebut dengan sikap easy going, santai, tidak mudah emosi atau sensitif, serta tidak larut dalam kesedihan. Yakinlah bahwa semua situasi dan kondisi ini akan membawa kebaikan.

 
“Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar, maka itu tetap baik baginya” (H.R. Muslim).

 

 

Yakinlah,Ukhti, bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita. Semua bergantung dari niat dan amal shalih kita. [ ]

 

*Disarikan dari buku “JANGAN GALAU UKHTI” karya Sasa Esa Agustiana

Buku Jangan Galau Ukhti a

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment