Apakah Rasulullah Melakukan Shalat Unsi?

kematian

Pak Aam, di daerah kami jika ada yang meninggal, pada malam hari setelah shalat maghrib sering dilanjutkan dengan shalat unsi bagi si mayit. Apakah Rasulullah melakukan shalat unsi? (Eri via email)

Sebenarnya dalam hadist, tidak tercatat satupun tentang solat unsi.  Shalat unsi itu sering dilakukan ba’da maghrib untuk menggantikan shalat-shalat yang dilupakan, ditinggalkan, atau dilalaikan oleh almarhum. Jadi, seolah-olah dengan shalat unsi itu perbuatan-perbuatan almarhum yang berkaitan dengan shalat itu tercover. Ini tidak ada dalilnya, dan tidak ada keterangannya. Tentu saya mengatakan begini tanpa mengurangi rasa hormat kepada anda yang melakukannya. Tapi tidak ada satu pun hadist shahih yang menunjukkan bahwa Rasulullah melaksanakan shalat untuk si mayit setelah shalat maghrib.

Ketika ada yang meninggal dunia, hanya dua hal yang dicontohkan oleh Rasulullah yaitu shalat jenazah dan shalat ghaib. Shalat mayit itu menyolatkan si mayit ketika masih ada sebelum dikuburkan, kalau shalat ghaib si mayit sudah tidak nampak oleh kita. Nah, shalat ghaib pun ada yang salah kaprah. Shalat ghaib itu hanya dilakukan jika mayatnya tidak ditemukan. Contohnya, jika ada saudara-saudara kita yang mengalami kecelakaan pesawat, biasanya mayatnya tidak ditemukan, nah baru kita bisa melakukan shalat ghaib.

Sementara shalat ghaib yang kita lakukan misalnya ada saudara kita yang domisilinya di Bandung, meninggal dunia di Cirebon dan sudah dishalatkan di sana, lalu sering DKM masjid di tempat tinggalnya di Bandung mengumumkan untuk menyolat-ghaibkannya. ini tidak betul, tidak perlu DKM mengajak untuk shalat ghaib, karena mayatnya sudah dishalatkan.

Bagaimanapun, shalat itu tidak bisa digantikan oleh orang lain. Shalat itu bahkan tidak bisa diqadha. Dalam hadist dikatakan, “Kami diperintahkan untuk mengqadha shaum, tapi kami tidak pernah diperintahkan untuk mengqadha shalat.” Apalagi fidyah shalat, itu tidak ada. Fidyah dan qadha itu hanya ada di ibadah puasa.

promooktober1

Jadi, ada pemikiran-pemikiran yang harus diluruskan, seolah-olah fidyah dan qadha itu bisa dalam semua ibadah. Tidak seperti itu, karena fidyah dan qadha ayat nya jelas untuk ibadah puasa. Kalau seandainya bisa mengqadha dan membayar fidyah untuk shalat, enak sekali menjadi orang kaya yang memiliki banyak uang. Yang namanya shalat itu, yang sedang sakit parahpun jika daya ingatnya masih ada, ia wajib shalat. Jika tidak mampu sambil berdiri, maka shalat sambil duduk, jika masih tidak mampu maka berbaring, dengan didampingin, kita bacakan bacaan shalatnya, dia yang mendengarkan dan mengikuti dalam hatinya.

Lalu, jika ada orang sakit dalam keadaan benar-benar tidak bisa mengingat apapun atau sedang koma, maka tidak ada kewajiban ia untuk shalat. Ada tiga orang yang dicabut kewajibannya untuk shalat, yaitu anak yang belum baligh, orang yang hilang ingatannya sampai ia sembuh, dan orang yang tidur sampai ia terbangun. Jadi, jika ada orang koma yang tidak sadarkan diri hingga berhari-hari, ketika bangun ia tidak harus mengganti shalat-shalat yang ia tinggalkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat, shalat unsi itu tidak ada dalil yang shahih akan hal itu. Wallahu’alam bishawab.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment