Memilih Calon Suami Itu Yang Kaya atau Yang Berpotensi Kaya ?

Gaun Pengantin 2

Oleh: Ayat Priyatna Muhlis*

 

PERCIKANIMAN.ID – –  Dari beberapa orang yang sedang mencari jodoh pasti ingin memiliki pasangan yang finansialnya mencukupi untuk hidup berumah tangga. Maka, kriteria ‘harus mapan’ atau ‘harus kaya’ menjadi salah satu pertimbangan kita dalam memilih jodoh. Tapi, justru kita harus mencari pasangan yang ‘berpotensi kaya’. Maksudnya ialah orang yang berpotensi kaya akan selalu berusaha dan bekerja keras untuk bisa membahagiakan serta bertanggungjawab terhadap pasangannya.

Mencari calon pasangan hidup baik suami atau istri yang kaya tentu tidak dilarang. Namun tentunya bukan hanya sekedar kaya dalam arti materi atau haratwan. Carilah juga pasangan hidup, yang kaya akan ilmu agamanya, agar kelak ia bisa mengajarkanmu pengetahuan agama atau kalian bisa saling berbagi pengetahuan agama.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” [HR.Bukhari]

promooktober

Islam pun memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Dalam menjemput jodoh, kita harus mempunyai kerangka berpikir dalam mementukan jodoh. Ada 4 hal yang bisa termasuk dalam kerangka pembuatan proposal jodoh, diantaranya :

  1. Tentukan landasan pemikiran

Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi” [HR. Al Baihaqi]

Tanamkan dalam diri kita, bahwa dengan menikah kita mengikuti sunnah Rasul sebab ibadah yang paling lama ialah menikah.

 

  1. Visi dan Misi yang jelas

Untuk apa kita menikah? Pastinya sebagai umat muslim kita ingin mewujudkan pernikahan yang sakinah,mawadah, dan rahmah. Sudah seharusnya pemikiran kita dalam hal menentukan jodoh ialah seseorang yang baik agama dan akhlaknya diutamakan guna mencapai visi dan misi kita dalam hidup berumah tangga.

Suasana Sekolah Pra Nikah yang diselenggarakan Percikan Iman akhir pekan lalu
Suasana Sekolah Pra Nikah yang diselenggarakan Percikan Iman akhir pekan lalu
  1. Planning Finansial

Seseorang yang akan menikah tentunya akan memikirkan acara pernikahan yang tidak akan terlupakan. Namun, terkadang orang yang sudah siap menikah terkendala oleh finansial untuk menggelar acara yang mewah bahkan ada yang rela berhutang demi tergelarnya resepsi pernikahan. Padahal Rasulullah shallallaahu bersabda:

Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Harus digaris bawahi pula, kehidupan setelah acara resepsi pernikahan itulah yang menjadi titik awal kehidupan dalam pernikahan. Sebab, setelah menikah kebutuhan hidup akan semakin bertambah, seringkali terjadi percekcokan suami-istri disebabkan masalah ekonomi yang sebelum menikah mereka tidak merencanakan keuangan dengan baik.

 

BACA JUGA: Menikah Menunggu Mapan, Haruskah?

  1. Jalani tahapan/proses nya

Untuk menuju sampai kepada akad pernikahan, ada beberapa tahapan yang harus dijalani. Pertama ialah ta’aruf proses perkenalan satu sama lain dengan adanya aturan dan batasan. Jika sudah saling yakin satu sama lain, maka tahapan selanjutnya adalah khitbah (meminang) dan terakhir adalah akad. [ ]

 

*Penulis adalah narasumber Sekolah Pra Nikah, pegiat dakwah dan penulis buku. Materi disampaikan dalam Sekolah Pra Nikah Percikan Iman.

 

Penulis

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment