Batas Waktu Qadha Puasa Ramadhan

Batas Waktu Qadha Puasa Ramadhan

Assalamu’alaykum. Pak Aam, apakah betul kalau sudah pertengahan Sya’ban tidak boleh bayar qadha puasa Ramadhan? (Indah via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya Bu Indah dan sahabat-sahabat sekalian, kalau kita merujuk pada firman Allah surat Al-Baqarah ayat 185 sebenarnya selama belum memasuki Ramadhan, kita boleh membayar qadha. Jadi kalau kita masih punya hutang, walaupun pertengahan Sya’ban sudah terlewati sebenarnya masih boleh melaksanakan qadha. Saya tidak pernah menemukan dalil yang mengatakan kalau sudah masuk pertengahan Sya’ban maka tidak boleh membayar qadha shaum Ramadhan.

Bahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 184 ada penegasan, bahwa shaum Ramadhan itu sudah ditentukan bulannya, jumlah harinya. Siapa yang sakit di bulan Ramadhan atau bepergian, dan melakukan bepergian dengan susah payah karena perjalanannya jauh sehingga tidak kuat untuk shaum maka boleh ganti dihari lain. Dalam ayat ini penegasannya adalah “dihari lain”, maksudnya diluar Ramadhan. Nah kalau ada yang mengatakan di pertengahan Sya’ban itu tidak boleh bayar qadha, ini sama sekali tidak ada dalilnya.

Lalu dalam Al-Baqarah: 186 terdapat kata-kata, “boleh mengganti di hari lain”. Dihari lain itu maksudnya di luar bulan Ramadhan, jika belum masuk bulan Ramadhan maka masih boleh meng-qadha sekalipun sudah melewati nisfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban). Jadi kalau memang masih ada waktu dan belum memasuki bulan Ramadhan maka silahkan bayar hutang puasa kita.

Ada pula yang mengatakan, kalau kita belum membayar hutang puasa padahal sudah memasuki bulan Ramadhan, maka kita harus meng-qadhanya dua kali lipat. Itu tidak benar, kalau tahun lalu anda punya hutang qadha lima hari dan belum dibayar hingga Ramadhan berikutnya, maka jumlah hutangnya tetap lima. Hanya saja anda bersalah karena melalaikan kewajiban, tapi tidak ada sanksi harus melipatgandakan qadhanya, tidak ada dalil yang menjelaskan tentang itu. Itu hanya pendapat orang. Sementara kalau berbicara agama itu tidak menurut pada pendapat ustadz atau kiyai. Yang namanya agama itu apa yang disabdakan oleh Rasul dan apa yang difirmankan Al-Qur’an.

donasi perpustakaan masjid

Rasul mengatakan, “aku tinggalkan padamu dua warisan, kamu tidak akan salah selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul.” Jadi yang harus kita pegang itu bukan pendapat ustadz, bukan pendapat kiayi dan bukan pendapat ulama, tetapi apa yang difirmankan Allah dan Rasul. Ulama, kiayi, dan ustadz itu hanya menjelaskan dan menyampaikan apa yang ada di Qur’an dan sunnah Rasul. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

BACA JUGA: Hukum Sengaja Batal Puasa Ramahan

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment