Ummu Sulaim, Wanita Yang Maharnya Adalah Islam

Musafir Muslimah

PERCIKANIMAN.ID – – Melalui lembaran-lembaran sejarah, muncullah bagi kita lembaran-lembaran yang semerbak mewangi serta bersinar terang yang memancarkan petunjuk bagi wanita muslimah masa kini dalam segala hal. Di antara pribadi yng muncul dalam lembaran-lembaran tersebut adalah Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid Al-Anshariyyah, ibu dari Anas bin Malik RA. Ada perbedaan pendapat mengenai namanya, ada yang mengatakan namanya Rumailah, ada juga yang mengatakan Al-Ghumaisha’, dan ada duha yang mengatakan Ar.Rumaisha’.

Sejarah menceritakan, bahwasanya pada awalnya dia adalah istri dari Malik bin An-Nadhar. Lalu hatinya tertarik terhadap Islam, kemudian dia masuk Islam tanpa persetujuan suaminya, Malik bin An-Nadhar ayah Anas bin Malik. Telah diriwayatkan bahwa dia pernah berkata kepada anaknya ketika masih kecil, “Katakanlah, ‘Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah.’ Katakanlah, ‘Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.”

Maka anaknya pun mengatakan kalimat tersebut sebagai kata-kata yang pertama kali dia ucapkan. Tidak lama setelah itu, suaminya marah terhadap tindakannya tersebut lalu pergi ke Syam dan meninggal dunia di sana.

 

BACA JUGA: Kisah Muslimah Penghuni Surga

promo oktober

Kemudian banyak sekali orang yang datang untuk melamar Ummu Sulaim setelah suaminya meninggal dunia, di antara orang yang datang untuk melamarnya adalah Abu Thalhah Al-Anshari RA. yang ketika itu masih musyrik, maka Ummu Sulaim pun mengabaikan dan menolaknya, karena Abu Thalhah seorang laki-laki musyrik sedangkan dia seorang wanita muslimah. Kemudian pada suatu hari dia berkata kepada Abu Thalhah, dengan kecerdasan seorang wanita mukminah yang ingin memikat hati Abu Thalhah kepada Islam:

“Wahai Abu Thalhah, bukankah engkau tahu bahwa tuhanmu yang engkau sembah adalah batu yang tidak dapat memberikan mudarat kepada mu ataupun memberikan manfaat kepadamu, atau kayu yang dibawa oleh tukang kayu lalu dia memahatnya untukmu? Tidakkah engkau malu dengan ibadahmu ini? Jika engkau memeluk Islam, maka sungguh aku tidak menginginkan mahar apapun darimu selain keislaman.”

Maka hati Abu Thalhah pun tertarik terhadap Islam dan dia mengucapkan dua kalimat syahadat serta menjalankan keislamannya dengan baik, semoga Allah meridhainya. Tsabit mengatakan: Aku tidak pernah mendengar seorang wanita pun, yang maharnya lebih mulia daripada Ummu Sulaim; yaitu Islam.

Demikianlah, maharnya merupakan mahar termahal yang diabadikan oleh sejarah. Adakah hal lain yang lebih mahal dari Islam? Sungguh beruntung pernikahan yang dilaksanakan oleh seorang muslimah yang menjadikan Islam sebagai maharnya, sehingga suami berikut seluruh amalan salehnya kelak akan masuk ke dalam timbangan kebaikannya.

Oleh karena itu, saya menghimbau orang yang membaca tulisan ini dari kalangan para wanita muslimah masa kini yang selalu mencari harta, tahta, maupun materi dunia yang fana, hendaknya merasa ridha dengan suami mereka yang saleh meskipun mereka fakir, dan hendaknya mereka bekerja sama untuk mendirikan rumah-rumah wanita muslimah yang penghuninya tidak mencari harta dan tahta dunia, melainkan hanya dalam rangka mengharapkan karunia Allah Swt. di negeri kemuliaan-Nya (surga). [ ]

Disarikan dari buku 66 Muslimah Pengukir Sejarah karya Ummu Isra’ binti Arafah.

 

BACA JUGA: Ciri Muslimah Penghuni Surga

 

Red: riska

editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment