Pergi Haji Saat Shalat Belum Sempurna

Kabah 1

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya dan suami berniat untuk berhaji, kebetulan saat ini untuk finansial kami mampu untuk membayar ongkos haji. Tapi suami berpendapat, kami belum mampu secara agama. Dalam arti shalat belum betul, baca qur’an belum mampu. Dikhawatirkan nanti hajinya tidak sempurna, bagaimana menurut Pak Aam? (Selly via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Begini Selly dan sahabat-sahabat sekalian, yang namanya haji itu dimulainya bukan dari kesempurnaan ibadah, tetapi dari kemampuan materi. Jadi haji itu ukurannya istitha’ah, artinya siapa yang mampu secara materi, itu yang pertama karena harus membayar ongkos. Lalu mampu secara fisik. Adapun masalah yang shalatnya masih bolong-bolong atau merasa masih banyak berbuat dosa, maka diharapkan dengan berhaji dia ibadahnya jadi bagus. Dengan berhaji maka dosa dan maksiat ia tinggalkan. Jadi jangan dibalik.

 

Ubah pola berfikir kita, justru karena ibadah yang belum sempurna itu, jika sudah mampu, segera pergi haji, semoga dengan haji yang kita lakukan bisa merubah diri kita. Makanya ayat qur’an mensyaratkan untuk yang berhaji itu bukan yang sempurna ibadahnya tetapi istitha’ah yaitu kemampuan yang terukur. Kemampuan yang terukur itu apa? Contohnya materi dan kekuatan fisik. Adapun masalah ibadah yang belum sempurna atau dosa yang masih sering dilakukan, itu hanya akan menjadi penghalang anda untuk berhaji. Karena justru banyak orang yang setelah berhaji baru berubah jadi lebih baik.

 

Oleh karena itu cara berpikir kita tidak boleh keliru. Bilang pada suami anda bahwa niatkan berhaji itu supaya shalatnya jadi lurus, konsisten dan dosa maksiat bisa dihindari. Toh secara materi anda sudah mampu, bismillah saja. Ada satu hal yang banyak orang salah memandang bahwa seolah-olah haji itu tempat pembalasan.

 

Misalnya ada yang bilang kalau disini kita sering pelit pada orang lain maka ketika berhaji orang lain akan pelit pada kita, atau jika kita sering memarahi orang maka disana kita akan sering dimarahi orang. Nah ini adalah mitos, haji itu bukan pembalasan. Haji adalah rukun islam yang ke-lima, yang kalau sudah mampu secara materi dan fisik maka wajib dilakukan. Kata Nabi, siapa yang mampu secara fisik dan materi untuk berhaji namun tidak dilakukan, maka ia bisa memilih mau mati dalam keadaan yahudi atau nasrani.

promo oktober

Barangsiapa memiliki bekal atau kendaraan yang menghantarkannya ke Baitullâh, namun tidak berhaji, maka silahkan dia mati sebagai orang Yahudi atau Nashrani. Hal itu karena Allâh berfirman: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allâh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”[HR. Tirmidzi, no. 812]

 

Artinya apa? Haji itu wajib bagi yang mampu secara fisik dan mampu secara materi. Urusan iman yang belum sempurna maka sempurnakanlah disana dan jangan anda menganggap bahwa haji itu adalah pembalasan disana, itu keliru besar. Karena pembalasan itu nanti di akhirat, haji itu tempat koreksi diri, membersihkan diri, tempat kita sekolah agar akhlak dan iman kita membaik, itulah yang terpenting. Maka ciri haji mabrur adalah terjadinya perubahan dari buruk ke baik, dari pelit ke dermawan, dari pendendam ke pemaaf. Inti dari haji itu diharapkan ada perubahan bukan pembalasan. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment