Siapa Wali Nikah Anak Sebab Perkosaan dan Zina?

Ijab qabul 1

Assalamu’alaykum. Ustadz, saat ini  manusia sudah makin bejat khususnya dalam dalam hal perzinahan termasuk dalam kejahatan seksual lainnya. Sampai sebagaimana yang kita baca dalam berita ada ayah yang menghamili  anak kandungnya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi ?  Bagaimana status anak yang dikandungnya ? Bolehkah menggugurkannya ? Lalu siapa wali nikahnya kelak?   Mohon nasihatnya. Terima kasih. (Sarwan by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Betul apa yang Anda katakan, saat ini sudah banyak manusia yang makin bejat, bahkan lebih bejat dari binatang. Banyak kasus ayah menghamili anak kandungnya, paman menghamili keponakannya, bahkan kakak menghamili adiknya. Peristiwa seperti ini biasa disebut incest. Bisa kita pastikan bahwa ini terjadi disebabkan iman yang berada pada titik paling rendah, serta aturan-aturan Islam sudah tidak dihiraukan lagi dalam kehidupan.

Andai ajaran Islam diterapkan secara konsisten dalam kehidupan, saya yakin masalah ini tidak akan terjadi. Karena sesungguhnya ajaran Islam telah melakukan tindakan antisipatif. Di antara tindakan prepentif itu adalah: Pertama, anak wajib minta izin apabila masuk ke kamar orang tuanya, demikian pula sebaliknya.

Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nur 24: 59)

Kedua, anak perempuan harus dididik agar tidak memakai pakaian yang transparan atau terlalu minim walaupun di depan muhrimnya, –kakak laki-laki, paman, bahkan ayah kandungnya. Memang seorang perempuan baligh boleh membuka kerudung di depan muhrimnya, tapi bukan berarti seenaknya berpakaian minim, tetap saja mereka harus berpakain sopan alias tidak seronok. Suatu saat, Asma binti Abu Bakar (adik ipar Rasul Saw.) berkunjung ke rumah Rasul saw. dengan berpakaian transparan, Rasul saw. menegurnya,

Hai Asma, sesungguhnya seorang wanita baligh tidak pantas menunjukkan tubuhnya kecuali ini dan ini (sambil menunjuk pada wajah dan tangannya).”  (H.R. Abu Daud)

Ketiga, tidak boleh saling melihat aurat dan tidak boleh tidur dalam satu selimut walau dengan muhrimnya. Seorang adik perempuan tidak boleh tidur satu selimut dengan kakaknya yang perempuan, apalagi dengan kakaknya yang laki-laki. Seorang perempuan tidak boleh mandi bareng dengan perempuan lagi, walaupun itu adik atau kakaknya sendiri. Rasulullah saw. bersabda,

Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain dan  seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh tidur dalam satu selimut dengan laki-laki lain. Dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian atau selimut.” (H.R. Muslim, Ahmad, dan Abu Daud)

 

BACA JUGA: Hukum Menikah Dalam Masa Iddah 

 

Itulah di antara tindakan antisipatif agar incest (hubungan intim semuhrim) tidak terjadi. Lalu, apa yang harus dilakukan kalau incest telah terjadi, bahkan menyebabkan kehamilan,  bolehkah kandungannya digugurkan?

Islam mengharamkan menggugurkan kandungan kecuali ada alasan medis. Kalau secara medis diprediksi ternyata kehamilan tersebut akan mencelakaan ibunya, pengguguran kandungan dibolehkan. Hukum ini diambil dari rumusan Takhfiifu Tarkhisin (membolehkan sesuatu yang haram karena ada alasan yang benar) dan  Akhaffu Dhararaini (mengambil yang madaratnya paling ringan). Landasannya yaitu firman Allah Swt.

Barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (Q.S. Al Baqarah  2: 173).

Namun kalau secara medis disimpulkan bahwa kehamilan tersebut tidak akan membahayakan ibunya, haram hukumnya untuk digugurkan. Persoalannya, kalau  ternyata bayi tersebut perempuan, siapakah yang akan menjadi walinya ketika dia menikah?

Ada dua pendapat ulama tentang masalah ini. Pertama, perwaliannya diserahkan kepada wali hakim, karena penyebab adanya perwalian adalah pernikahan, sementara dalam kasus ini kehamilannya bukan karena pernikahan tapi karena perkosaan.

Kedua, yang akan menjadi wali bagi anak itu adalah ayah kandungnya sendiri, walaupun ayah kandung dalam kasus ini juga merupakan kakeknya (kalau kasusnya diperkosa oleh ayah, misalnya). Alasannya, karena penyebab adanya perwalian adalah hubungan darah, bukan sekadar pernikahan.

Menurut hemat saya, pendapat pertama lebih logis, artinya yang berhak menjadi wali bagi anak itu adalah wali hakim supaya ada kejelasan status. Sementara pendapat kedua mengalami kerancuan dalam status, artinya rancu antara status sebagai ayah atau kakek.  Wallhu A’lam.[ ]

 

BACA JUGA: Wali Nikah Seorang Janda

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment