Dosa Orangtua Yang Berzina dan Menelantarkan Anak

Assalamu’alaykum Wr.Wb , Pak Aam.  Saya ingin bertanya tentang dosa orangtua yang anaknya berzina. Teman kuliah saya berpacaran di luar batas, sehingga akhirnya memiliki keturunan. Selama kehamilan tidak ada yang mengetahui, termasuk orangtuanya sendiri. Pada akhirnya, anak yang dilahirkan itu dititipkan pada panti asuhan tanpa ada yang tahu. Hingga saat ini, orangtuanya tidak tahu dan anaknya sekarangnya sudah menginjak umur dua tahun. Saya memberi saran untuk jujur kepada orangtuanya dan meminta maaf, tapi dia tidak berani karena orangtuanya sangat keras. Saran itulah yang membuat teman saya menjadi marah kepada saya. Sebenarnya apa yang harus dilakukan untuk kasus seperti itu. Terima kasih Ustadz. ( Liana by email)

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb, Pembaca budiman yang dirahmati Allah. Posisi anda sebagai teman sudah memberi tahu bahwa segala sesuatu yang disembunyikan akan menjadi beban. Oleh sebab itu, dalam Al-quran Allah Taa’la berfirman yang artinya ;

demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (Q.S. Al-Syams [91] : 7-10)

Jadi, maksud dalam ayat itu kita semua ini punya dua kekuatan sekaligus. Kekuatan takwa dan kekuatan fujur. Dengan demikian, kalau ada orang yang terjerumus dosa bisa jadi pada saat itu yang dominan pada jiwanya adalah perbuatan buruk (fujur).

Tapi, dengan perjalanan waktu adanya kesadaran atas dosa-dosanya bisa jadi Allah memberikan arahan kepada kita untuk bertaubat. Bentuk pertaubatan itu bukan sekedar meminta ampun kepada Allah, tapi karena ini menyangkut masalah keturunan. Maka, sebaiknya bercerita saja kepada orangtua. Kelak, anaknya akan membutuhkan wali untuk nikah dan ini harus diketahui dengan jelas siapa walinya. Seseorang yang berzina dan memiliki anak, maka yang menanggung dosanya itu adalah orangtuanya. Anak yang dilahirkan tidak memiliki dosa dan tidak harus bertanggung jawab dengan kesalahan orangtuanya.

Allah Taa’la berfirman:

Hai, orang-orang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh….” (Q.S. At-Tahrim [66] : 8)

Maksud bersungguh-sungguh itu harus dibuktikan dan dipertanggungjawabkan. Caranya ialah dengan membesarkan dan mendidik anak itu dengan baik, bukan menelantarkannya.

Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya, kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” (Q.S. Al-Ghasyiah [88] :21-22)

Tugas anda memang hanya memperingatkan sahabat anda untuk jujur kepada orangtuanya serta mengakui keberadaan anaknya. Jika, teman anda tidak mendengar nasehat anda, maka itu bukan wilayah maupun kuasa kita. Tugas kita hanya mendakwahkan dengan santun. Wallahua’lam.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

(Visited 10 times, 4 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment