Keistimewaan Surat Al Jumu’ah Inspirasi Untuk Tata Kota

Oleh: Ir.H.Bambang Pranggono,MBA*

 

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk shalat di hari Jumat,  segeralah ingat kepada Allah dan tinggalkan jual beli (bisnis). Demikian itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah: 9)

 

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam ilmu fiqih, ayat di atas menjadi dalil pokok tentang wajibnya shalat Jumat dan haramnya segala bentuk transaksi ketika shalat itu tiba. Jadi, merupakan ayat yang berimplikasi hukum.

 

Ternyata, ayat ini juga bisa dijadikan pedoman ilmu tata ruang/planologi dalam menetapkan lokasi masjid dan ukuran ideal sebuah kota. Masjid Jami’ – masjid yang dipakai untuk shalat Jumat –  seharusnya berada di tengah-tengah daerah perdagangan, central business district, karena sesuai ayat tadi suara azannya harus terdengar oleh orang yang sedang berjual beli.

 

Berbeda dengan kuil, vihara, atau gereja yang cenderung memilih tempat sunyi dan terpencil di puncak-puncak gunung, jauh dari keramaian. Islam tidak memisahkan antara amal dunia dan akhirat. Lokasi masjid dan pasar berdampingan. Pusat pemerintahan dan peribadatan menyatu.

 

Ayat berikutnya dalam surat Al Jumu’ah ini (ayat 10) berbunyi, “Dan apabila selesai shalat bertebaranlah di muka bumi, …” menunjukkan bahwa menurut Al Quran, hari Jumat bukanlah hari libur. Selesai shalat, kita diperintahkan bekerja lagi mencari nafkah atau menuntut ilmu. Tidak ada perintah istirahat siang. Jadi, meliburkan hari Jumat bukan berasal dari Al Quran.

 

Sedangkan ayat ke 11 berbunyi, “Dan apabila mereka melihat perdagangan atau hiburan, mereka segera mengunjunginya dan engkau ditinggalkan shalat sendirian …

 

Ayat ini mengisyaratkan bolehnya lokasi masjid berdekatan dengan tempat hiburan. Radius jarak dari masjid ke tempat beraktivitas adalah sejauh suara azan terdengar. Dalam radius itu, setiap muslim wajib shalat berjamaah di masjid.

 

Jadi, bisa dibuat lingkaran-lingkaran pelayanan dengan titik-titik pusatnya lokasi Masjid Jami’. Dalam setiap lingkaran hanya ada satu masjid. Lingkaran-lingkaran itu saling bersinggungan menyebar merata di segenap penjuru kota. Sedemikian rupa sehingga membangun masjid baru harus berada di luar jangkauan masjid yang sudah dibangun terlebih dahulu.

 

Ukuran masjid seharusnya seluas kapasitas jumlah manusia yang berada di radius jangkauan azan. Kalau azan terdengar oleh seribu orang, masjid dibangun seluas itu. Teknologi pengeras suara menambah jangkauan suara azan, tetapi pada hakikatnya juga memperbanyak peluang jumlah orang berdosa karena tidak datang ke masjid.  Rasulullah saw. merangsang manusia untuk berjalan kaki ke masjid.

 

Ada seorang sahabat yang berniat pindah rumah ke dekat masjid, namun dicegah Rasulullah saw. karena semakin jauh jaraknya semakin baik. Setiap langkah mendapat pahala dan langkah berikutnya menghapus dosa. Sayangnya tidak ada hadis yang menjanjikan pahala untuk setiap putaran roda mobil. Walhasil, berjalan kaki adalah cara utama mencapai masjid. Tetapi beliau juga melarang masuk masjid dalam keadaan bau mulut. Allah swt. dalam surat Al Araf 31 memerintahkan memakai perhiasan terbaik ke masjid.

 

BACA JUGA: Keistimewaan Jaring Laba laba

Jadi, jarak ideal ke masjid ialah sejauh langkah kaki maksimum, tetapi belum menyebabkan pakaian kusut, atau sejauh wangi parfum belum terkalahkan oleh bau keringat. Jarak radius ini tentu berbeda  di setiap daerah. Di wilayah beriklim dingin, orang bisa lebih jauh berjalan kaki tanpa keringat. Jadi, jarak antarmasjid boleh lebih jarang. Tetapi di iklim panas, jaraknya harus lebih rapat. Di kota dengan jalan berliku-liku, radius antarmasjid bisa lebih pendek daripada di kota dengan pola grid-iron, jalan raya lurus-lurus.

 

Surat Al Jumu’ah ternyata memberi acuan tata kota tentang pengaturan kepadatan dan lokasi masjid. Selain itu juga memberi inspirasi konsep kota pedesaan, di mana setiap kegiatan bisa dicapai dengan radius pejalan kaki, sehingga penduduknya lebih sehat dan bebas polusi.  Wallahu alam. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

Bambang Pranggono 1

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment