Ujian Memiliki Istri yang Ketus pada Suami

pasangan

Pak Aam, saya punya sahabat, saat ini ia sedang diuji. Dia bertahun-tahun tidak mau tidur dengan istrinya, alasannya karena sang istri tidak bersedia untuk disentuh bahkan dalam kesehariannya pun ketus pada suami. Sahabat saya ini mengeluhkan keadaannya kepada saya, dia merasa sakit hati oleh istrinya, saya yakin dia tidak ikhlas menerima perlakukan istrinya yang seperti itu. Dan akhirnya dia pun hanya bisa diam untuk menjaga perasaan anak-anaknya. Apa yang harus dilakukan, apakah hal ini sudah jatuh talak? (Ayub via email)

 

Tentu saja kalau anda punya istri seperti ini, boleh anda ceraikan, kalau seorang istri berbuat buruk pada suami padahal tidak ada alasan harus berbuat demikian. Kalau sikap istri yang tidak mau disentuh dan ketus munculnya hanya sesekali saja, itu hal yang manusiawi. Manusia itu ada kesalnya, ada juga marahnya. Dalam rumah tangga pasti hal-hal seperti itu bisa terjadi.

Tetapi kalau sudah bertahun-tahun seperti ini, sebaiknya cerai saja. Karena jika sudah terlampau lama, berarti membiarkan istri berbuat dzalim pada suaminya dan untuk menolong agar dia tidak diadzab oleh Allah, sebaiknya diceraikan saja. Karena dalam hadist dikatakan,

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

promooktober

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584)

Jadi, jika seorang istri bertahun-tahun mendiamkan suaminya, itu berarti ia telah berbuat dzalim. Maka untuk mencegah, menahan dan menghentikan dia dari perbuatan dzalim adalah dengan menceraikannya. Karena alasannya jelas. Dan sekali lagi, perbedaan pemahaman dalam rumah tangga adalah hal yang biasa. Ada pertengkaran itu wajar. Karena Allah telah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Kita menikah dengan orang yang berbeda. Jangankan dengan istri, anak-anak kita pun tabiatnya pasti berbeda satu sama lain. Artinya, semua orang itu diciptakan oleh Allah berbeda. Dan setiap orang itu memiliki sejarah yang berbeda. Kita dengan istri mempunyai latar belakang keluarga, pendidikan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Jadi, berbeda pemahaman dan sudut pandang itu hal yang wajar. Permasalahan seperti itu adalah bagian dari seni dan bumbu dari kehidupan berumah tangga, Yang namanya bumbu itu kan ada yang manis, ada yang pedas, ada pula yang asam.

Tapi jika memang permasalahannya sudah bertahun-tahun, lebih baik diceraikan saja. Nah, permasalahannya lagi, bagaimana dengan anak-anak? Sebenarnya anak-anak itu mengerti dengan keadaan anda. Dan jangan dikira anak-anak itu tidak cerdas. Kalau anda dan istri saling diam, anak-anak itu pasti mengerti. Itu adalah interaksi yang tidak sehat. Ada orang yang tidak mau bercerai karena anak-anak, tapi justru anak-anak rusak karena orang tuanya tidak cerai. Jika bercerai justru anak-anak akan lebih realistis. Anda jelaskan saja, penyebab anda bercerai. Daripada anda selalu terlihat bertengkar didepan anak-anak, itu justru akan membuat mental anak-anak rusak.

Dalam Islam, perceraian itu harus dihindari tapi kalaupun tidak bisa dihindari, lakukan karena sebuah kedaruratan. Apa itu daruratnya? Karena untuk mengurangi risiko kecelakaan. Makanya ada pintu darurat dalam pesawat, karena tetap akan celaka tapi setidaknya mengurangi risiko kecelakaan. Bercerai itu hal yang darurat, untuk meminimalisir risiko. Wallahu’alam bishawab.

 

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment