Cara Bijak Hadapi Anak Temper Tantrum

Anak Menangis 1

Oleh : Dra. Dewi Purnomosari*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Pernahkah Anda melihat anak menangis sampai berguling-guling di lantai, menendang, memukul, menjerit-jerit, atau tingkah laku dramatis lainnya saat keinginannya tidak segera dipenuhi? Perilaku tersebut dikenal dengan istilah temper tantrums, dan biasanya muncul pada masa balita.

 

Anda tentu masih ingat mengenai perkembangan anak awal (balita), di mana setiap aspek mendapat kesempatan untuk berkembang, misalnya anak mulai bisa berpikir kreatif dan imajinatif, kosa katanya semakin banyak, mulai mampu menyusun kalimat secara lengkap, bahkan belajar berpartisipasi di lingkungan (bersosialisasi). Artinya, pada masa ini perkembangan intelektual dan emosi dalam kaitannya dengan kemampuan mengekspresikan diri melalui kata-kata dan pengenalan lingkungan berlangsung dengan cepat. Namun tentunya untuk mencapai semua itu diperlukan dukungan, kesempatan, dan bimbingan.

donasi perpustakaan masjid

 

Anak yang kurang diberi kesempatan untuk mengemukakan keinginan/perasaannya akan sulit untuk belajar bagaimana mengekspresikan diri dan mengetahui cara apa saja yang bisa dilakukan untuk memenuhi keinginannya tersebut. Anak yang kurang mendapat bimbingan dalam menyampaikan sesuatu melalui penggunaan kata/bahasa juga akan sulit mengemukakan apa yang tengah dirasakannya. Akibatnya mereka tidak tahu bagaiman cara mengekspresikan keinginannya itu selain lewat perilaku fisik seperti menendang, berguling-guling, memukul, menjerit, dan sebagainya.

 

Pada masa ini meski aspek emosi mulai berkembang, namun balita belum sepenuhnya mampu mengelola reaksi emosinya sebagaimana orang dewasa. Pengelolaan emosi yang belum matang berpeluang juga memunculkan perilaku emosional lainnya cengeng, mudah cemberut, ngompol, dan sebagainya. Setiap perilaku tersebut tentunya memerlukan penanganan spesifik, yang bisa saja melibatkan para ahli.

 

Dengan memunculkan perilaku temper tantrums, anak belajar bahwa ia akan mendapat perhatian segera dari lingkungan (orang tua). Ada anak yang sejak bayi memberikan reaksi berlebihan terhadap situasi/kondisi yang kurang menyenangkan, dan orang tua biasanya akan segera menanggapi, hal ini bisa berlanjut terus.

 

BACA JUGA: Cara Hadapi Anak Susah Makan

Setiap situasi tidak menyenangkan, anak akan segera menjerit atau melakukan perilaku fisik lainnya. Selain belum matang dalam mengolah emosi, balita juga belum mengerti tingkah laku apa saja yang dapat diterima oleh lingkungannya, sehingga ia memperlihatkan perasaannya dengan cara yang dramatis. Perilaku ini juga terkadang untuk menarik perhatian orang tua, karena orang tua pasti akan segera mendekati dan berusaha untuk menghentikannya. Namun seringkali upaya ini justru kurang mempan.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan ?

 

Pertama, dengan cara tidak memberi perhatian kepada anak saat  memunculkan perilaku tantrums. Hindari misalnya mendekati, membujuk, yang justru akan membuat anak mengulangi hal yang sama manakala mengalami situasi yang kurang menyenangkan. Pola ini akan terjadi secara berulang, karena anak mendapatkan perhatian dengan cepat bila memunculkan perilaku semacam itu. Awasi anak dengan cara yang tidak diketahuinya agar jangan sampai terjadi hal-hal yang membahayakan.

 

Kedua, meningkatkan frekuensi dalam memberikan penguatan pada perilaku yang positif atau diharapkan. Mengabaikan perilaku negatif tentu perlu diimbangi dengan menguatkan perilaku positif. Anak perlu diajarkan perilaku apa saja yang positif atau sesuai dengan harapan lingkungan. Bila mereka melakukannya, beri pujian atau penghargaan sebagai penguat agar anak terus mengulangi perilaku tersebut. Orang tua harus jeli mengamati situasi apa saja yang membuat anak merasa senang dan mana yang tidak.

 

Ketiga, bantu anak mengembangkan cara menampilkan reaksi emosi secara tepat. Dalam hal ini, ketajaman orang tua mengamati situasi yang kurang nyaman bagi anak sangat diperlukan, sehingga sebelum perilaku tantrums muncul, orang tua sudah bisa mengajak anak untuk “membahas” apa yang dirasakannya. Meskipun kemampuannya berdiskusi belum berkembang, namun balita sudah mulai bisa diajak komunikasi. Bila terjadi tantrums kembali, point pertama yatiu ‘mengabaikan’, diterapkan.

 

Tidak mudah memang mengatasi perilaku temper tantrums, karenanya diperlukan kesabaran dan kesungguhan agar kita dapat membantu balita kita secara bijak dalam melewati problem di usia mereka. [ ]

 

*Penulis adalah pendidik, psikolog anak dan pegiat dakwah

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

BACA JUGA: Cara Hadapi Anak Hiper Aktif

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment