Anak Belum Baligh Haruskah Bayar Zakat Simpanan?

uang rupiah

Pak Aam, anak saya sejak umur 3 tahun diberi uang tiap bulan oleh Uwa nya, dan ditabungkan di bank untuk biaya sekolah nanti. Sekarang anak saya sudah berumur 9,5 tahun kelas 3 SD. Apakah wajib membayar zakat simpanan? Mohon penjelasannya. (Iwan via email)

Ya, begini Pak Iwan dan para pembaca, harta itu ada dua, ada yang karena ikhtiar kita dan akhirnya kita tabung, yang seperti ini sudah dipastikan wajib dizakati karena ada ikhtiar dari kita. Ada juga rejeki yang tidak kita usahakan. Seperti anak-anak kita, dia boleh jadi diberi tabungan untuk masa depannya nanti, tapi harta itu bukan hasil usahanya sendiri melainkan diberi oleh orang tuanya supaya dia punya pegangan kedepan. Hal yang seperti ini, apabila dia belum baligh, dan belum kena taklid, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mengeluarkan zakat. Tapi kalau sudah baligh, dan harta itu sudah sampai nisab (batas minimal) maka dia wajib bayar zakat. Tapi kalau hartanya belum sampai batas nisab maka belum wajib membayar zakat.

Nah jika harta itu baru saja melebihi batas nisab namun haul nya (usia mengendapnya) balum sampai satu tahun, maka belum wajib membayar zakat. Apabila tahun berikutnya harta itu sudah bertambah lagi, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5% dari jumlah harta saat itu.

Jadi selalu keluarkan zakat 2,5% itu dari saldo terakhir, bukan dari batas minimal. Kalau batas minimal itu cara untuk menghitung haul. Bagaimana kalau pada saat ini sudah mencapai haul tapi empat bulan kemudian harta kita malah berkurang? Maka haulnya gugur, dan tunggu sampai mencapai haulnya lagi. Seperti itulah kurang lebih cara perhitungan zakat simpanan.

Zaman dulu, orang selalu menyimpan harta dalam bentuk emas, maka dalam hadist, zakat simpanan itu selalu berupa logam mulia. Karena memang belum ada tabungan seperti sekarang ini maka dalam hadist, tolak ukurnya adalah logam mulia yaitu emas. Nah sekarang kita analogikan, orang menyimpan harta itu tidak selamanya dalam bentuk emas. Ada yang dalam bentuk tanah, rumah, atau surat-surat berharga. Itu pun adalah harta simpanan. Misal saya sudah punya rumah yang saya tempati seharga 10 miliar, itu tidak termasuk harta simpanan, jadi tidak kena zakat. Kenapa? Karena itu dipakai oleh kita, tapi jika anda punya rumah untuk investasi dan tidak anda tempati yang harganya hanya 500 juta, anda wajib membayar zakat 2,5%, karena merupakan harta simpanan. Lain lagi kalau anda punya rumah harganya 500 juta tapi anda kontrakkan ke orang, maka mengeluarkan zakatnya bukan dari harga rumah, tapi dari uang kontrakan. Jadi kalau harta itu diam hanya disimpan saja maka zakat yang dikeluarkan akan lebih besar daripada harta yang dipakai atau dikelola.

promooktober

Intinya sederhana, islam tidak menghendaki harta itu diam. Harta itu harus produktif, harus bergerak semuanya. Karena begitu diam, kenanya akan banyak. Dan jangan salah, dalam Al-Qur’an diterangkan, nanti di akhirat, harta yang ditumpuk-tumpuk jika tidak dibersihkan ia akan menyetrika diri kita. Jadi jangan su’udzan pada Allah apabila tidak diberi harta, boleh jadi Allah justru sayang pada kita. Ketika kita sudah ikhtiar tapi rejeki tetap sedikit, sebenarnya hisab kita pun nanti akan singkat. Berbeda dengan orang yang memiliki banyak harta yang bertebaran dimana-mana, maka masing-masing harta harus dikeluarkan zakatnya jangan sampai terlewat karena akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Makanya jangan sampai harta yang ada digenggaman kita itu menjadi musibah bagi kita. Caranya bagaimana? Gunakan harta kita untuk kehidupan diri kita, untuk kita nikmati tapi orang lain, mereka yang tidak mampu, bisa merasakan, menikmati, dan kita gunakan harta yang kita miliki ini untuk kemajuan agama Allah. Seperti yang telah dijelaskan dalam ayat berikut,

Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Ash-Shaff : 10-11).

Jadi teman-teman, Bapak-Ibu yang dititipi rejeki yang banyak, maka lahan anda untuk berbuat baik itu lebih banyak. Jangan sampai malah hartanya itu mencelakakan kita. Jadi kenapa dalam Islam harta itu harus dibersihkan, karena orang yang diberi harta itu justru diberi amanah. Apakah amanah yang ada di genggamannya itu hanya untuk kemewahan diri atau untuk kemaslahatan umat. Harta itu hanya titipan Allah, dan Allah punya kuasa untuk menitipkan hartanya pada siapapun. Balik ke pertanyaan tadi, harta mana yang harus dizakati? Ya harta apapun, tetapi ketika harta itu diam, dia kena zakatnya lebih banyak. Karena memang dalam Islam harta itu tidak boleh diam. Di dunia ekonomi pun harta itu harus bergerak, supaya sehat. Wallahu’alam bishawab.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

BACA JUGA :  Cara Hitung Zakat Profesi Suami Istri Nisabnya Masing-masing Atau Disatukan

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment