Kenapa Manusia Memiliki Sifat Pelit?

uang

Pak Ustadz Aam, pelit itu apakah sifat bawaan atau terbentuk melalui proses hidup? (Noni via email)

Kalau anda lihat dalam surat Asy-Syams, “Demi jiwa dan penyempurnaannya, kami tanamkan kepada manusia, dorongan buruk dan dorongan baik. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Jadi dalam diri kita itu ada dorongan baik dan buruk. Ada jiwa kedermawanan, ada juga jiwa pelit, ada jiwa dendam, ada pula jiwa pemaaf. Allah menciptakan manusia itu antara dua sifat atau ditengah-tengah antara dua kutub. Maka sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan rugi bagi orang yang membiarkan jiwanya kotor. Jadi yang namanya pelit, yang namanya dermawan, kembali pada kesadaran orang itu. Tapi kita juga tahu bahwa kesadaran itu berkaitan dengan pembiasaan dan pendidikan. Itu sebabnya kenapa kita harus melatih anak-anak kita dengan kedermawanan.

Misalkan anak kita punya permen, suruh dia untuk berbagi pada kakak, adik atau temennya. Karena jiwa itu butuh diasah. Jadi dia ada dalam diri kita, tinggal bagaimana mengasahnya, apakah kedermawanan yang kita asah, atau jiwa pelit. Ajarkan anak untuk berbagi pada siapapun, puji mereka ketika mereka berbuat kebaikan. Sehingga anak itu memiliki mindset dan kerangka berfikir yang bagus bahwa memberi itu hal yang mulia.

Jadi apabila pertanyaannya apakah pelit itu sifat bawaan atau hasil didikan, sebenarnya semua orang punya sifat pelit, semua orang juga punya bawaan sifat dermawan. Nantinya bagaimana proses jiwa yang diasah itu. Ada orang yang awalnya pelit sekali, tapi setelah ia belajar agama terus menerus, ia pun berubah menjadi orang dermawan. Setelah diasah dengan Al-Quran. Benar yang difirmankan oleh Allah Swt. bahwa Al-Qur’an itu adalah obat bagi hati. Jadi kalau kita merasa diri kita pelit, asahlah dengan agama, sebab agama yang kemudian melahirkan suatu cara berfikir bahwa harta ini titipan. Ketika memberi pada seseorang, ingat bahwa sebenarnya kita harta yang kita beri itu hanyalah titipan dari Allah. Untuk sampai pada titik tersebut benar-benar tidak mudah. Ikhlas dengan harta yang hanya titipan itu harus melalui proses waktu yang luar biasa.

Ada orang yang beranggapan bahwa, siapa yang memberikan kemudahan pada orang lain, Allah akan mudahkah ia di dunia dan akhirat. Jadi kalau kita selalu memberi kemudahan pada orang, selama kita bisa ya kita bantu, nanti Allah akan memberikan kemudahan pada dia. Allah pasti menolong hambanya, selama hambanya itu suka menolong orang lain.

Jadilah kita jiwa penolong, apakah dengan harta kita, dengan tenaga kita, dengan ilmu kita, dengan apapun yang kita punya dan kita yakini apa yang ada di genggaman kita itu hanyalah titipan Allah untuk kita jadikan perahu yang mengantarkan pada keridhaannya. Nah kalau kita sudah berpikir begitu, maka kita akan menjadi orang yang penuh kedermawanan. Dan tentu saja yang namanya dermawan itu, juga boleh dengan perhitungan-perhitungan. Misalnya, anda punya tabungan yang dibagi-bagi untuk kebutuhan sehari-hari, untuk pendidikan anak, untuk kesehatan, atau untuk rekreasi keluarga, itu bukan berarti anda perhitungan dan pelit. Itu berarti anda adalah orang yang bisa me-manage harta. Jadi kalau misalkan tabungan itu adalah tabungan pendidikan dan anda tidak boleh mengambilnya, lalu anda bilang pada yang meminta bantuan kalau anda tidak bisa membantu, itu tidak masalah. Ini yang dikatakan dalam Al-Qur’an, orang-orang yang menafkankan harta, tidak boros dan tidak pelit, mereka proporsional dalam mengelola harta. Jadi kita juga harus seimbang mana yang harus kita tabung, karena orang beriman itu kudu pandai menabung.

Berbeda dengan orang yang hartanya sudah melimpah, tabungan anak sudah ada, tabungan rekreasi sudah ada, dan masih saja pelit, nah yang seperti inilah orang yang diperbudak oleh harta. Tapi kalau kita sudah mengatur kehidupan dengan gaji yang sudah jelas pas pembagiannya lalu kita memutuskan untuk tidak membantu orang, itu tidak dikatakan pelit. Jadi yang saya soroti dalam hal ini adalah kedermawanan itu tentu tanpa melupakan hak-hak kita dan hak anak kita. Jadi menabung untuk rumah, pendidikan, untuk kesehatan, itu bagian dari program hidup kita. Kalau harta kita lebih dari itu, kita wajib membantu saudara-saudara kita.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 4 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment