Perbedaan Ghirah dan Fanatik Buta

aksi demo

Assalamu’alaykum Wr.Wb  Pak Aam, mohon dijelaskan tentang ghirah dan perbedaannya dengan fanatik buta, karena akhir-akhir ini orang-orang cenderung mengatasnamakan ghirah lalu digiring kedalam satu kebodohan. Terima kasih Pak. (Vina by email)

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Vina yang dirahmati oleh Allah, ghirah itu artinya semangat. Kita ini harus punya semangat dalam berislam. Rasulullah SAW berkata  “Apabila Allah akan memberikan kebaikan pada seseorang, maka Allah akan tumbuhkan semangat mereka dalam memahami agama (ini)” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ghirah yang pertama yaitu semangat belajar. Kalau kita semangat beramal tapi tidak dibarengi dengan semangat belajar ilmu agama, ini yang bahaya. Banyak orang yang begitu rajin beramal,tetapi tidak dibingkai dengan ilmu, lalu apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah agama itu akan menjadi rumit.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya ;

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam” (HR.Bukhari)

promooktober1

Sebenarnya agama itu mudah dan agama itu menjadi sulit karena penafsiran orang-orang yang terlalu melewati batas-batas yang ditetapkan. Sebagai contoh, tayamum itu sederhana,

Allah berfirman yang artinya “….. tayamum lah kamu dengan debu yang bersih……” (Q.S.Al-Maidah:6)

Maksud ayat tersebut ialah debu yang bersih itu, ada di dinding, di bantal, di kursi, pastilah debu itu ada jika dilihat di mikroskop. Lalu, munculah penafsiran bahwa debu yang bersih itu harus digali dari tanah sedalam 1,5 meter, kemudian dicuci, lalu dikeringkan, sehingga pemahaman tentang agama itu menjadi sulit.

Kalau saat ini ada orang-orang yang fanatik buta, pokoknya apa yang dikatakan gurunya harus diikuti. Itu karena dia tidak mendasari keberagamaan itu dengan ilmu. Seluruh hal harus berbasis pada ilmu termasuk dalam beragama, supaya ghirah (semangat) itu tidak membawa pada fanatik buta. Tetapi, ghirahnya itu melahirkan semangat berislam yang benar.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (Q.S. Al-Anbiya:107)

Kalau ajaran islam itu ajaran untuk menebar rahmat dan kasih sayang, maka omongan kita harus menciptakan kedamaian, perilaku kita harus menciptakan kedamaian, tidak boleh ada anarkis, dan jangan merusak. Karena sesungguhnya islam itu rahmat sumber kedamaian bagi seluruh alam.

Rasulullah SAW ketika berada di Makkah, beliau  menyuruh sahabatnya untuk menghancurkan berhala. Akan tetapi ketika terjadi Fathu Makkah – kota Makkah itu ditaklukkan-, berhala itu dihancurkan oleh orang Makkah itu sendiri yang dulu notabene menyembah dan beribadah kepada berhala itu. Artinya, Rasulullah menumbuhkan dan menciptakan kesadaran kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Setelah mereka sadar, mereka sendirilah yang menghancurkan berhala-berhala itu. Ini menjadi cerminan bagaimana omongan dan ucapan kita menjadi suatu kerahmatan bagi seluruh alam. Wallahua’lam

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment