Keutamaan Sifat Malu Bagi Muslimah

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Sifat malu adalah salah satu karunia yang diberikan Allah Swt kepada hamba-Nya. Bisa dibayangkan jika manusia sebagai makhluk yang sempurna penciptaannya tidak mempunyai rasa atau sifat malu. Sementara diberi rasa malu saja terkadang manusia masih berbuat atau bersikap yang memalukan. Lalu bagaimana seharusnya manusia khususnya kaum muslimah yang Allah karuniakan sifat malu lebih jika disbanding kaum laki-laki?

Arti malu

Sifat malu (al hayaa) bermakna seseorang yang merasa tidak nyaman apabila melakukan aib atau perbuatan tercela, dengan hati, lisan, atau perbuatannya, sekali pun hukumnya mubah (boleh). Makna lain, seseorang yang mampu menjaga kehormatan diri, rasa kasih sayang, pemaaf, dalam pergaulannya. Level tertinggi sifat malu yaitu seseorang yang  merasa malu apabila melanggar hak Allah swt. dan hak sesama atas dirinya, dengan kata lain, selalu merasa diawasi oleh Allah swt.

 

Malu pertanda iman

“…Malu adalah bagian dari iman.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Semakin pemalu, semakin beriman. Rasulullah saw. merupakan orang yang paling pemalu. Rasa malunya ketika melihat hal yang tidak disukainya (ketidakadilan, ketidaktaatan kepada Allah) sangat jelas terlihat dari raut wajahnya.

Beberapa hal yang termasuk pada sifat malu, yaitu bertamu tidak terlalu lama, segera mengalihkan pembicaraan ketika sudah mulai menggunjingkan orang lain, mencontohkan keburukan orang lain tanpa menyebutkan nama orang yang dimaksud, ataupun menjaga penglihatan (tatapan) dan perbuatan di hadapan selain muhrimnya.

Para ulama berpendapat akhlak malu yaitu meninggalkan kejelekan dan tidak mengambil hak orang lain, berbuat kebaikan, dan melihat kekurangan diri sendiri. “Malu adalah kebaikan, malu tidak datang selain membawa kebaikan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA: Tips Menjadi Muslimah Cerdas

Hilangnya iman

Sesungguhnya malu dan iman berada dalam satu wadah, apabila salah satunya dicabut, yang lainnya ikut tercabut. Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang tidak akan berzina jika dia beriman, seseorang tidak akan mencuri jika dia beriman, seseorang tidak akan minum khamar jika dia beriman, dan tidak merampok orang yang mempunyai kehormatan di mata manusia jika dia beriman.”

Allah swt. mengecam orang yang dalam dirinya sudah tidak memiliki rasa malu dari berbuat dosa dan maksiat. “Apabila kamu tidak malu, berbuatlah apa yang kamu kehendaki.” (H.R. Bukhari)

Masih adakah rasa malu pada masyarakat kita, jika kenyataannya perzinaan, perselingkuhan, pacaran, perkosaan, pembunuhan, dunia gemerlap (dugem), teror bom, tayangan film maksiat, pornografi, pornoaksi, sudah dilakukan dengan terang-terangan?

Ingat, mungkin awalnya kita “hanya” kehilangan rasa malu. Tetapi sadarilah, hal tersebut pasti diikuti secara beruntun pada sifat-sifat buruk yang lain, tidak amanah, tidak jujur, pengkhianat, hilang rasa kasih sayang, hilang rahmat Allah Swt., jauh dari ajaran Islam, dan lepasnya iman. Naudzubillah himindzalik. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

sasa esa

 

BACA JUGA: Wahai Muslimah, Perhatikan Auratmu Yang Boleh dan Terlarang 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

REKOMENDASI

Leave a Comment