Mengenal Sumber Vitamin Penting Bagi Anak

anak rewel

 

Oleh: dr.Nur Fatimah,SpA*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Riboflavin adalah salah satu jenis vitamin B yang dikenal dengan nama lain vitamin B2. Vitamin ini ditemukan pada tahun 1917 setelah berhasil diisolasi dari jaringan hati yang disebut heptoflavin, lactoflavin dari susu, ovoflavin dari telur, dan verdoflavin dari bagian daun. Tahun 1933 diketahui bahwa pada komponen tersebut terdapat kesamaan struktur kimia, yaitu tediri atas ikatan senyawa protein dan pigmen flavin. Senyawa flavin ini akan menghasilkan flouresensi warna kuning kehijauan di dalam air.

Sifat fisik vitamin ini relatif stabil terhadap suasana asam, panas, dan oksidasi, tetapi tidak tahan terhadap suasana basa dan cahaya. Karena sifatnya yang larut dalam air, kandungan riboflavin dalam bahan makanan sumber akan sangat berkurang bila dilakukan pengolahan dalam waktu lama. Selain itu, lebih dari 70% riboflavin akan rusak bila susu terpapar oleh cahaya lebih dari 4 jam, kehilangan dapat dikurangi dengan pengemasan oleh kertas berlapis lilin yang kedap cahaya.

 

Fungsi Riboflavin

Di dalam tubuh, riboflavin bergabung dengan protein flavoprotein membentuk koenzin flavin mononukleotida (FMN) dan flavin adenin dinukleotida (FAD). Kedua koenzim ini berperan penting pada reaksi reduksi oksidasi karena kemampuannya mentransfer atom hidrogen. Proses yang memerlukan kedua koenzim ini adalah reaksi pembentukan energi dari karbohidrat lemak dan protein.

donasi perpustakaan masjid

Riboflavin juga berfungsi sebagai aktivator beberapa vitamin B lain, yaitu vitamin B3, vitamin B6, dan asam folat. Karena vitamin B6 dan asam folat berfungsi pada sintesis DNA, secara tidak langsung riboflavin berperan pada pertumbuhan. Selain itu, riboflavin berperan pada produksi hormon di kelenjar anak ginjal, sintesis sel darah merah di sumsum tulang, sintesis glikogen/cadangan karbohidrat di hati dan otot, serta pemecahan lemak.

 

Metabolisme Riboflavin

Dalam makanan, riboflavin terdapat dalam bentuk bebas, FMN dan FAD. Sebelum diserap FMN dan FAD dikonversi ke dalam bentuk bebas, penyerapan riboflavin sangat efisien bila bersama dengan makanan (70%) dibandingkan tanpa makanan (15%). Dalam sel usus, vitamin ini diubah lagi menjadi FMN dan dilepas ke darah berikatan dengan albumin, sebagian besar FMN masuk ke hati dan dikonversi menjadi FAD. Hati dikenal sebagai organ reservoar riboflavin yang akan dilepas ke sirkulasi bila tubuh kekurangan. Hormon tiroid berperan dengan menstimulasi penyerapan vitamin ini.

Pengeluaran riboflavin tenutama melalui urine, bila tubuh memerlukan, ginjal akan menyerap kembali vitamin ini. Pengeluaran melalui feses berasal dari makanan dan dari cairan empedu yang tidak diserap.

 

Kebutuhan dan Bahan Makanan Sumber

Sesuai dengan fungsinya, kebutuhan riboflavin tergantung dari jumlah kalori yang masuk, yaitu sekitar 0,6 mg/1000 kkal dengan asupan minimal 1,6 mg/hari. Kebutuhan meningkat pada ibu hamil dan menyusui, serta orang dengan aktivitas fisik lebih, misalnya pada pekerja keras dan atlet. Sebaliknya pada usia lanjut, kebutuhan menurun karena metabolisme tubuhnya pun lebih rendah daripada usia produktif.

Riboflavin terdapat baik dalam bahan makanan sumber hewani maupun tumbuhan. Susu adalah sumber riboflavin yang sangat baik, 1 gelas susu/hari dapat memenuhi kebutuhan minimal riboflavin. Sumber hewani lain yang tinggi riboflavin adalah hati dan ginjal, kadar yang lebih rendah terdapat dalam daging. Riboflavin dalam sayur dan buah-buahan akan tersisa sekitar 60-90% setelah proses pengolahan, demikian juga pada penggilingan beberapa jenis sereal akan mengurangi kadar riboflavin sampai 40%. Penambahan riboflavin biasanya dilakukan pada tepung dan roti tetapi tidak pada sereal, karena warnanya yang kekuningan tidak begitu disukai.

 

Defisiensi dan Toksisitas Riboflavin

Beberapa penelitian menunjukkan defisiensi riboflavin lebih tinggi dari perkiraan. Gejala yang umum terdapat adalah cheilosis yaitu sudut mulut pecah-pecah dan meradang, keluhan lain yaitu dermatitis atau semacam eksim di sekitar hidung dan mulut,serta sariawan di lidah. Keluhan ini biasanya timbul bila kurangnya asupan bahan makanan sumber selama beberapa bulan. Defisiensi riboflavin jarang sendiri, tetapi umumnya bersamaan dengan defisiensi vitamin larut air lainnya. Pemberian suplementasi 0,5 mg/hari selama 1 minggu biasanya berespon baik.

Toksisitas riboflavin hampir tidak pernah terjadi, hal ini disebabkan daya adaptasi tubuh yang akan menyerap lebih banyak pada saat kebutuhan meningkat dan mengeluarkan lebih banyak bila cadangan dalam tubuh cukup. Semoga bermanfaat. [ ]

 

*Penulis adalah dokter anak, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

BACA JUGA: Agar Anak Tumbuh Dewasa Tanpa Manja

 

BACA JUGA: Memamahi Tumbuh Kembang Pada Anak

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment