Salahkah Suami Memaafkan Istri yang Berselingkuh?

perselingkuhan

Assalamualaykum, Pak Aam. Istri saya sudah selingkuh dan sampai melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain saat saya jauh dari istri. Sekarang dia mengakui kesalahannya, menyesal, memohon maaf dan ingin kembali kepada saya apabila saya mengizinkan dan mau memaafkan dia. Pak, apakah tindakan saya memaafkan kesalahannya itu benar atau tidak? Alasan saya masih memaafkan dan menerima istri saya kembali tiada lain karena rasa ikhlas dengan takdir yang Allah berikan. Di samping itu saya juga masih mencintainya. Apakah tindakan saya ini salah? Mohon saran dan baiknya untuk saya harus seperti apa? (Saiful via email)

 

Baik Pak Saiful dan para pembaca sekalian, syaitan itu bisa masuk pada diri siapa saja, baik istri maupun suami. Jika sudah terjadi seperti itu, semuanya kembali pada diri Pak Saiful.  Kalau istri sudah berselingkuh dan sampai pada titik puncak, suami berhak untuk menceraikan. Karena si istri dikategorikan sebagai nusyuz yaitu dosa yang berkaitan dengan pengkhianatan istri terhadap suami.

promooktober1

Dan ketika istri berkhianat, maka suami punya wewenang untuk menceraikannya dan tidak memberikannya mut’ah. Sebenarnya, istri yang diceraikan itu wajib mendapatkan mut’ah. Apa itu mut’ah? Yaitu harta yang diberikan sebagai ucapan terima kasih, sebagai bentuk kenang-kenangan, karena walau bagaimanapun dia pernah hadir dalam kehidupan kita. Berapa jumlahnya? Itu tergantung kesepakatan mereka berdua. Yang pasti suami wajib memberikan mut’ah jika bercerai dengan istri.

Kemudian, kalau bercerai dan memiliki anak yang belum baligh, maka perawatan anak (hadhonah) dipegang oleh mantan istrinya dan suami wajib menafkahinya. Karena bercerai itu tidak kemudian memutuskan kewajiban Ayah kepada anak. Ini yang paling sering terjadi di masyarakat, ketika bercerai dan anaknya dibawa oleh istri, malah istri yang memberi nafkah anaknya. Si ayah justru lepas tanggungjawab, tidak memberi nafkah apalagi memerhatikan pendidikan dan kesehatannya. Tentu ini adalah ayah yang berbuat dzalim, termasuk dosa besar dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kewajiban yang tidak dilaksanakan oleh seorang ayah.

Padahal dalam Q.S. Al-Baqarah [2] : 233, sangat jelas dikatakan,

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban semikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa seorang ayah wajib menafkahi anaknya. Artinya, kewajiban ayah memberikan nafkah dan pakaian kepada anaknya dengan cara yang baik. Yang dimaksud dengan cara yang baik adalah, ketika ayahnya seorang yang kaya, maka anaknya berhak mencicipi kekayaan ayahnya.

Ketika ayahnya seorang yang miskin maka si anak harus menerima kenyataan. Yang ingin saya tegaskan, ketika terjadi perceraian maka dari sekian harta suami wajib memberikan santunan kepada mantan istrinya. Lalu yang kedua, ketika anak-anak masih kecil dan terjadi perceraian, maka anak itu wajib dengan ibunya. Kecuali pengadilan menyatakan bahwa ibunya itu seorang yang buruk, sering menyiksa atau memukul anak, nah anak itu boleh dirawat oleh bapaknya. Ini aturan hukum yang utama, tetapi hukum ini berubah ketika perceraian itu terjadi karena perselingkuhan.

Jadi, kalau istri berselingkuh apalagi sampai melakukan hubungan badan, suami boleh menceraikannya dan istri tidak mendapat sepeserpun mut’ah dan hak pendidikan anak dipegang oleh bapaknya. Itulah hukum yang berlaku di dalam Al-Quran. Nah pertanyaan dari bapak ini, beliau mau memaafkan saja, bagaimana kalau seperti itu? Itu hak anda, kalau anda mau memaafkan itu tidak salah.

Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya ia melakukan salah dan akhirnya anda memaafkan ya tentu itu hak anda. Tapi saya tadi memaparkan tentang hukum utamanya. Dan ayatnya pun sudah saya paparkan. Tapi kalau akhirnya anda mau menerima sebejat apapun perbuatan istri anda, itu tentu saja merupakan sikap yang hanya anda dan Allah kaitannya. Artinya, anda memaafkan orang yang benar-benar menyakiti anda. Anda membalas keburukan dengan kebaikan, tentu itu merupakan perbuatan amal yang sangat mulia. Karena ada ayat yang mengatakan, “mereka membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.” Tetapi ingat, itu kalau menurut anda itu akan menjadi maslahat.

Namun, kalau itu dirasa tidak akan menjadi maslahat, ada ayat yang mengatakan, kalau kamu khawatir tidak bisa menegakkan aturan-aturan Allah, jangan dimaafkan, mending bercerai. Jadi, kalau anda yakin anda bisa menegakkan aturan-aturan Allah, dia juga bisa menegakkan aturan-aturan Allah, maka tentu saja anda boleh memaafkannya.

Sebelum anda memaafkan, anda evaluasi terlebih dulu, apakah perkaranya merupakan kecelakaan atau tabiat. Kalau perilaku buruknya tersebut bukan yang pertama kali terjadi, malah sudah sering terjadi, kalau sudah ada pelajaran seperti itu, ingat sebuah hadist yang pernah juga saya sampaikan, “tolong saudaramu yang berbuat dzalim dan yang didzalimi. Lalu sahabat bertanya, bagaimana ya Rasulullah menolong orang yang berbuat dzalim? Kata Nabi, tahan agar dia tidak berbuat kedzaliman.”

Jadi kalau anda menceraikannya itu berarti anda menolong istri anda, kalau tidak diceraikan dia akan mengulangi lagi. Kalau bapak ingin lebih mantap, anda pelajari saja yang berkaitan dengan perceraian. Bagaimana nafkah suami kepada istri, kewajiban istri pada suami atau sebaliknya, dan hak istri pada suami dan juga sebaliknya. Ini banyak dibahas di surat Al-Baqarah mulai ayat 224-237 itu yang saya ceritakan semua ada di ayat tersebut.

Silakan bila anda mau memaafkan, pahalanya untuk anda. Kalau anda mau menceraikan pun anda tidak berbuat dzalim pada istri anda. Dan kalau anda menceraikannya, maka istri anda tidak mendapatkan apapun, karena dia melakukan kesalahan yang sangat fatal, yaitu berselingkuh sampai melakukan hubungan badan dengan lelaki lain. Dia tidak dapat sepeserpun dari harta anda dan anak-anak anda pun ikut dengan anda, bukan dengan ibunya.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment