Menyikapi Perilaku Orang Tua yang Sering Bikin Kesal

orangtua

Pak Aam, ibu saya sudah berusia 65 tahun, beliau punya kebiasaan berbohong, sekalipun untuk hal-hal sepele. Saya ingin memakluminya, tapi yang ada saya malah sering kesal dan kecewa. Secara tidak langsung seringkali saya ingatkan beliau melalui contoh orang lain, tapi ujung-ujungnya beliau tersinggung dan marah. Kata Pak Aam kan kalau sama orang tua kita mengalah saja, tapi tetap saja saya selalu jengkel dengan tabiatnya itu, karena hampir setiap hari beliau berbohong. Sampai akhirnya saat ini kalau beliau berbicara apapun saya hanya percaya 20% saja. Sisanya saya yakin dia berdusta atau didramatisir dan memang itu terbukti di hari-hari kemudian. Apakah sikap saya seperti itu benar?

 

 

Ya, memang apa yang dikatakan oleh Rasul itu sungguh benar ketika beliau bersabda, “apabila seseorang itu jujur, dan melatih diri untuk jujur, maka dicatat disisi Allah sebagai orang yang jujur. Tetapi kalau seseorang itu berdusta dan dia berulang-ulang berdusta, maka ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Arti hadist riwayat shahih ini bahwa apakah kita jadi orang jujur atau pendusta itu dipengaruhi oleh kebiasaan. Oleh sebab itu, orang yang sudah berumur 60an tahun dan dia selalu berdusta, saya yakin ini dibentuk boleh jadi dari kecil. Dengan kondisi seperti ini, seperti hadist Imam Bukhari yang tadi saya kemukakan, “maka dia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” Artinya, orang ini kecil kemungkinannya menjadi orang yang jujur, karena sudah 60 tahun ia selalu berdusta. Yang dimaksud dicatat sebagai pendusta adalah, peluang ia menjadi orang jujur sangatlah kecil, karena itu sudah menjadi darah dagingnya.

Saya jelaskan hal ini, supaya anda semakin memantapkan hati. Untuk menghadapi orang seperti ini, mau atau tidak anda harus berlapang dada menerima kenyataannya. Dan anda pun berhak untuk punya sikap untuk mempercayainya sebanyak 20%, itu tidak apa-apa. Karena alasannya jelas, kejadiannya pun sudah sering berulang, pengalaman anda menunjukkan seperti itu dan fakta pun berbicara seperti itu. Kalau yang seperti ini bukan suudzan. Suudzan itu ketika kita belum punya bukti fakta kalau orang itu berbohong, tapi kita sudah menuduh ia pembohong. Ini tidak dibenarkan oleh agama. Karena ada ayat yang mengatakan,

“Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk.  Sesungguhnya prasangka buruk itu dosa.” (Q.S. Al-Hujurat [49] : 12)

Kalau kasusnya seperti di atas, anda pada akhirnya mengambil sikap untuk tidak mempercayai omongan Ibu anda sepenuhnya karena sudah menjadi kebiasaan, itu bukan suudzan. Tetapi itu adalah memahami karakter dan tabiat dia. Apa yang harus anda lakukan? Kalau kondisinya seperti ini, memang hanya kekuatan do’a yang bisa mengubahnya. Kalaupun anda sudah memberi tahu, baik langsung atau tidak langsung, baik dengan dalil atau pun tanpa dalil, memang orang yang sudah tertutup hatinya itu agak susah. Apakah kamu beri peringatan atau tidak diberi peringatan, sama saja tidak akan beriman dan tidak berubah.  Jadi bagaimana? Terima kenyataan ini. Itulah batu ujian kita.

Sesungguhnya setiap orang itu memiliki materi ujian. Ada yang diuji oleh anak. Anaknya sudah dididik betul-betul, ternyata dia menguji pikiran dan perasaan kita. Kita pun harus siap mental menghadapi ujian anak. Ada yang diuji dengan harta, ia sudah usaha apapun, rasanya selalu rugi, tidak ada tanda-tanda usahanya akan bagus. Nah, termasuk tentu saja orang tua kita, itu sebenarnya bagian dari ujian hidup. Ada pula yang diuji dengan penyakit, hidupnya akrab sekali dengan penyakit.

“Kami akan mengujimu dengan kekhawatiran, dengan ketakutan, dengan kekurangan harta, dengan jiwa yang dikecewakan, dan bergembiralah orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah [2]: 155).

Jadi saya ingin menegaskan, anda terima kenyataan bahwa memang ibu anda seperti itu. Menerima kenyataan itu akan menjadi energi untuk sabar. Memahami perilaku dia itu bagian yang akan menguatkan diri kita dan jangan lupa untuk mendoakan. Jangan pula terlalu berambisi kalau dia akan berubah. Yang membuat kita marah, yang membuat kita kecewa, dan yang membuat kita kesal, karena kita terlalu berambisi bahwa dia harus berubah. Padahal, sesungguhnya engkau hanya pemberi peringatan. Anda tidak punya kuasa untuk menguasai orang tersebut.

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash [28]: 56)

Ada saat dimana kita hanya ikhtiar, mengajak, mengarahkan, sisanya kita serahkan pada kuasa dan kehendak Allah SWT. Apalagi ini berkaitan dengan orang tua. Dia bisa menjadi pintu surga kita, juga bisa jadi pintu neraka kita. Yang masih memiliki orang tua, berusahalah menjadikan mereka sebagai pintu surga kita dengan bersabar menghadapinya, melindungi, dan merawatnya.

Editor : Candra

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 11 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment