Mengenal dan Mencegah Skabies Sang Pengganggu Tidur

Oleh: dr Diah Puspitosari, SpKK*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Skabies, atau sering dikenal pula sebagai penyakit gudikan (Jawa) dan budug (Sunda) ini merupakan penyakit menular yang disebabkan sejenis tungau bernama Sarcoptes scabiei varian hominis.

 

Skabies dapat terjadi pada setiap kelompok usia, namun lebih sering ditemukan pada anak dan dewasa muda. Di negara-negara berkembang, penyakit ini menunjukkan jumlah yang lebih tinggi, hal ini dihubungkan dengan berbagai faktor seperti sosioekonomi, pengetahuan terutama akan higiene dan sanitasi, adanya promiskuitas, serta dipengaruhi pula oleh faktor demografi. Sampai saat ini skabies masih termasuk ke dalam salah satu dari 12 penyakit kulit terbanyak di Indonesia, dan Jawa Barat merupakan salah satu propinsi dengan kejadian penyakit skabies tertinggi.

 

Apa saja gejalanya?

 

Ada beberapa gejala klasik yang terlihat atau dirasakan oleh penderita skabies

  • Adanya beruntus-beruntus kemerahan, beruntus berisi cairan jernih, yang dapat ditemukan pada area kulit tertentu dan cukup khas yaitu pada sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian dalam, lipat ketiak bagian depan, daerah sekitar puting payudara, pusar, perut bagian bawah, dan daerah genitalia. Selain itu dapat pula ditemukan pada lipat lutut bagian dalam serta sela-sela jari kaki. Pada bayi dan anak-anak, kelainan kulit tersebut dapat pula ditemukan di kulit kepala, leher, wajah, telapak tangan, dan telapak kaki.
  • Dapat ditemukan adanya terowongan pada kulit, terlihat sebagai garis menimbul yang lurus ataupun berkelok-kelok dengan panjang beberapa mm sampai sekitar 1 cm, dan pada ujungnya tampak adanya beruntus kemerahan, beruntus berisi cairan jernih, dapat pula beruntus berisi nanah apabila telah disertai infeksi bakteri.
  • Kelainan kulit ini menimbulkan rasa gatal yang hebat terutama pada malam hari. Hal ini disebabkan temperatur tubuh yang meningkat dan menyebabkan tungau menjadi lebih aktif
  • Keluhan-keluhan tersebut umumnya terjadi juga pada anggota keluarga yang lain atau pada teman sekamar di asrama maupun pesantren, mengingat penularannya yang relatif mudah

 

Seseorang dapat dinyatakan pasti bahwa terkena skabies apabila ditemukan kutu dewasa, telur, maupun larva nya dari dalam terowongan. Karena ukurannya yang sangat kecil, temuan ini hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop setelah dokter melakukan pengambilan bahan pemeriksaan dari terowongan tersebut.

Namun, pengobatan sudah dapat segera dilakukan apabila dokter menemukan kelainan kulit di area spesifiknya disertai keterangan dari pasien mengenai riwayat penyakit dan lingkungannya.

 

Bagaimana Penularannya?

 

Penyakit ini ditularkan oleh tungau betina yang telah dibuahi melalui kontak fisik yang erat, misalnya melalui sentuhan dari kulit ke kulit, atau ketika orang-orang tidur bersama disatu tempat tidur yang sama di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan, pesantren, maupun fasilitas bersama lainnya. Tidaklah mengherankan penyakit ini menjadi mudah terjadi secara bersamaan dalam satu keluarga, pesantren, atau asrama. Sayangnya sampai saat ini masih banyak anggapan bahwa mengidap skabies atau budug bagi seorang santri adalah suatu kelaziman, sehingga penyakit ini dianggap sesuatu yang biasa dan menjadi sulit diberantas. Penularan melalui pakaian dalam, handuk, sprei, selimut, dapat saja terjadi namun lebih jarang. Tungau  dapat bertahan hidup di luar hingga 2-3 hari, pada suhu kamar 210C. Penyakit ini dapat pula dikategorikan sebagai infeksi menular seksual, karena penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual.

 

Apa bahaya dan komplikasinya?

 

Skabies yang tidak diobati dengan baik sering menyebabkan terjadinya infeksi bakteri. Hal ini terutama terjadi akibat garukan terus-menerus yang menimbulkan luka terbuka pada kulit. Tak jarang pasien datang berobat ke dokter dalam keadaan sudah mengalami luka bernanah dan basah, bahkan hampir di sekujur tubuh akibat infeksi tersebut yang tentu saja menjadi lebih menyulitkan proses pengobatan. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah timbulnya eksim dan reaksi gatal berlebihan yang sangat mengganggu. Infeksi bakteri pada bayi dan anak-anak yang terkena skabies ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berupa peradangan/infeksi di ginjal. Infeksi yang terlalu luas (sistemik) dapat berakibat fatal.

 

Bagaimana mengatasinya?

 

Beberapa anjuran umum yang harus dilakukan dalam mengobati dan menghambat penularan skabies adalah :

  • Untuk mencegah penularan lebih jauh, pakaian, alas kasur, handuk, selimut harus dicuci dengan air panas, dikeringkan, dan diseterika
  • Tidak bertukar pakaian dan handuk
  • Menjaga kebersihan kamar, rumah, dan lingkungan sekitar tempat tinggal
  • Mengatur sirkulasi dan cahaya masuk agar tempat tinggal lebih bersih
  • Pengobatan yang efektif selain untuk pasien, dilakukan juga kepada anggota keluarga lain dan orang selingkungan (di asrama atau pesantren)

BACA JUGA: Tips Mengenal dan Merawat Kulit Sensitif

Pengobatan pasien tanpa komplikasi biasanya dilakukan dengan obat oles dengan panduan umum agar mandi terlebih dahulu sebelum pengolesan obat. Obat dioleskan ke seluruh tubuh termasuk di area yang tidak terlihat adanya kelainan kulit. Lama penggunaan obat disesuaikan dengan jenisnya dan akan diberikan penjelasan terperinci oleh dokter yang melakukan pemeriksaan. Beberapa obat oles yang biasa digunakan antara lain permetrin, lindane, krotamiton, dan benzil benzoat. Obat-obatan yang diminum untuk mengurangi rasa gatal kerap kali harus diberikan pula. Apabila terjadi komplikasi, maka dokter akan memberikan pengobatan tambahan sesuai dengan gejala yang timbul.

 

Pengobatan yang tepat dengan memperhatikan ketentuan, disertai dengan usaha pencegahan pemutusan penularan, akan memberikan hasil yang baik. Kepatuhan pasien dalam mengobati diri dan keluarga serta orang sekitar, akan membasmi skabies secara tuntas. Semoga bermanfaat. [ ]

 

*Penulis adalah dokter spesialis kulit, nara sumber Talkshow Kesehatan Kulit Radio Cosmo  101.9 FM Bandung, serta dokter di klinik spesialis kulit AMMARA SAHYA Arcamanik Bandung.  Akun Facebook : https://www.facebook.com/poppy.d.puspitosariSampaikan pertanyaan seputar permasalahan kesehatan kulit Anda ke:  [email protected]

dr poppy 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

BACA JUGA: Tips Kulit Cantik dan Sehat

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment