Suami Minta Istri Bekerja, Bagaimana Menurut Islam?

istri

Pak Aam, saya mau tanya tentang suami yang meminta istrinya untuk membantu mencari nafkah. Haruskah menuruti perintah suami hingga harus berjauhan dengan suami? Misalnya istri di kampung, suami di kota yang lain.   Terima kasih atas jawabannya. (Dini via email)

 

Sebenarnya, kewajiban menafkahi itu adalah kewajiban suami. Jadi, istri itu tidak punya kewajiban memberikan nafkah. Itu sebabnya dalam surat An-Nisa Allah berfirman, “Laki-laki itu pemimpin bagi wanita dalam rumah tangga, karena Allah telah lebihkan satu dengan yang lain dan karena Allah telah mewajibkan suami menafkahkan harta.”

Dengan demikian, kewajiban mencari nafkah itu ada pada pundak suami. Sehingga, kalau anda tidak berkenan atau keberatan untuk ikut mencari nafkah, ya tidak apa-apa. Anda katakan saja bahwa anda tidak bisa berjauhan dengan suami hingga beda kota, dengan alasan sama-sama cari nafkah. Karena memang kalau seperti ini nanti akan terjadi eksploitasi.

Sekarang ini kan ada kecenderungan, laki-laki ada yang mengeksploitasi istrinya. Yang dimaksud eksploitasi itu si suami tidak mencari nafkah malah istri saja yang mencari nafkah. Ini adalah rumah tangga yang tidak sehat. Kecuali jika suami sudah berusaha mencari kerja tapi belum juga dapat rejeki dan akhirnya sang istri yang mencari nafkah, itu masih bisa ditolerir.

Tetapi, ada juga suami yang memang malas untuk bekerja. Dalam hal ini, istri berhak menyatakan keberatan, bahkan hal tersebut adalah sebuah kedzaliman. Jadi, bentuk kedzaliman suami terhadap istri adalah suami mengeksploitasi istri. Dalam rumah tangga  tidak boleh ada kedzaliman.  Begitu ada kedzaliman, maka boleh jadi pintu talak terbuka.

promooktober

Kalau anda lihat di buku nikah, coba anda baca disana tertera ; apabila suami tidak memberikan nafkah selama tiga bulan berturut-turut, memperlakukan secara kasar, atau meninggalkan tanpa alasan selama satu tahun, hal-hal tersebut adalah bentuk kedzaliman. Maka bisa jatuh talak satu, jadi isyarat talak itu ketika adanya kedzaliman. Seorang istri tidak boleh meminta cerai kepada suaminya kalau tidak ada kedzaliman. Kalau ada kedzaliman, boleh dia minta cerai.

Ada seorang istri yang bertanya, jika suaminya menikah lagi apakah dia boleh menggugat cerai atau tidak? Saya bilang, kalau dia menggugat cerai suami, karena menikah lagi, maka wanita itu tidak akan mencium baunya surga. Tapi kalau suaminya menikah lagi dan dengan menikah lagi itu dia berbuat dzalim atau tidak adil, maka si istri boleh menuntut. Jadi, tuntutannya itu karena tidak adilnya, bukan karena menikah lagi. Nah ini hal yang secara hukum harus diperjelas. Artinya, seorang istri itu bisa melakukan gugat cerai itu karena terdzalimi, itu kata kuncinya.

Termasuk apabila anda dieksploitasi, disuruh mencari nafkah oleh suami, sementara suami anda berleha-leha, itu berarti anda sudah didzalimi. Kalau anda tidak terima, tentu saja anda boleh menggugat cerai. Tapi kalau anda menganggapnya itu adalah ujian bagi anda dan anda menerima hal itu pun tidak apa-apa, itu akan menjadi pahala kebaikan bagi anda dan dosa bagi suami anda. Jadi, rumah tangga itu harus dijadikan tempat aktualisasi ketakwaan. Karena sebisa mungkin apapun bisa menjadi kebaikan.  Wallahua’alam bishawab.


Editor : Candra

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment