Jadi Wanita Kaya Dari Harta Halal? Begini Caranya

Wanita Kaya 1a

PERCIKANIMAN.ID – – Tidak semua wanita berharta, namun bila Anda diamanahi harta oleh Allah Swt maka jadilah sosok wanita pembuka jalan rezeki bagi yang lainnya. Dalam sejarah juga tercatat banyak sahabiyah (kalangan sahabat dari kaum muslimah) yang menjadi hartawan. Namun tentu saja kekayaannya bukan hidup mewah melainkan tidak sedikit yang dibelanjakan di jalan Allah Swt.

Asal harta wanita tentunya beragam, ada yang berbentuk hibah, hadiah, warisan, maupun nafkah dalam rumah tangga. Dihimpun dari berbagai sumber berikut cara menjadi wanita kaya dengan cara yang halal:

promooktober

 

  1. Penghasilan pribadi

Seorang wanita yang mampu mengaktualisasikan diri dalam kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa. “… Maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (Q.S. Al Jumuah 62: 10). “Tiada seorang makan makanan yang lebih baik kecuali hasil usahanya sendiri. Nabi Daud juga makan hasil dari tangannya sendiri.” (H.R. Bukhari)

 

  1. Saling mewarisi

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (Q.S. An-Nisa 4: 7).

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…” (Q.S. An-Nisa 4: 11)

 

Pembagian warisan ini dikarenakan tiga sebab.

  1. Pernikahan, yaitu jika salah seorang dari pasangan suami-istri meninggal, dia meninggalkan warisan kepada yang masih hidup. “Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu…” (Q.S. An-Nisa 4: 12)
  2. Hubungan darah (nasab). Berdasarkan kekerabatan, misalnya anak, cucu, bapak, atau ibu. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya…” (Q.S. An-Nisa 4: 33)
  3. Memerdekaan budak (wala). Seseorang yang berjasa memerdekaan budak, ia berhak menerima warisan dari harta peninggalan orang yang dimerdekakannya, jika tidak ada ahli waris yang lain (sekarang sudah tidak ada).
  4. Hubungan agama. Jika yang meninggal tidak mempunyai ahli waris, harta warisan akan diserahkan ke Baitul Mal untuk kepentingan umat Islam. Bila tidak ada, diserahkan pada seseorang atau badan tertentu yang dapat dipercaya bertindak untuk kepentingan umat.

 

  1. Pembayaran mahar dari suami

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…” (Q.S. An Nisa 4: 4)

 

BACA JUGA: Cara Mengenalkan Pendidikan Seks Pada Anak

  1. Pemberian nafkah suami/ayah

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka …” (Q.S. An-Nisa 4: 34)

 

  1. Wanita yang ditalak.

Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.” (Q.S. Al Baqarah 2: 241). Pada prinsipnya dalam Islam wanita dinafkahi, dilindungi, dimuliakan. Sejak awal kehidupannya adalah tanggung jawab orang tua (terutama bapaknya), bila ia menikah tanggung jawab suaminya. Bahkan negara pun turut bertanggung jawab menyantuni para wanita bila tidak ada yang menafkahinya lagi.

 

  1. Shadaqah Harta

Seluruh umat Islam selayaknya mengenal Siti Khadijah r.a. Wanita pengusaha yang sukses dan terkaya dalam suku Quraisy. Wanita yang merupakan istri pertama Rasulullah ini, sangat dicintai dan dipuja Rasul. “Dia muslimah pertama dan sekaligus telah mendukung aku dengan harta yang dimilikinya untuk berijtihad di jalan Allah, tatkala orang lain mengharamkan sumbangan hartanya.

Selain Khadijah, ada ummul mu’minin lain, yaitu Zainab binti Jahsy r.a. Istri Rasulullah saw. ini gemar bekerja dengan kedua tangannya, menyamak kulit, kemudian menyedekahkan hasilnya di jalan Allah. Aisyah r.a. mempunyai kesan mengenai Zainab binti Jahsy ketika ia meninggal, “Telah meninggal wanita mulia dan rajin beribadah menyantuni yatim dan para janda.” Lebih lanjut Aisyah r.a. menjelaskan,

Aku tidak melihat seorang pun yang lebih baik dien (agama)-nya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturahmi, dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarub kepada Allah.” Rasulullah saw. pernah berucap, “Orang yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya (dermawan).”

Adalah sunah hukumnya bagi seorang wanita yang membantu suaminya dalam mencari nafkah. Bukan dalam arti mengambil alih peran menafkahi, namun jika memang kondisi suami telah maksimal berusaha, jujur, tidak zalim, namun belum mencukupi juga, apa salahnya?!

Hendaknya kalian (para muslimah) bershadaqah meski dari perhiasan kalian.” (H.R. Bukhari).

Menjadi wanita kaya tentu saja boleh asal caranya halal dan digunakan untuk kebaikan atau di jalan Allah sehingga ia pun menjadi wanita mulia di dunia dan insya Allah di akhirat. Namun tentunya menjadi wanita atau istri shalihah adalah yang utama. Jadi wanita kaya siapa takut !. [ ]

 

BACA JUGA: Hukum Berhias Bagi Wanita

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: abc.net

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment