Menganalisa Karakter Diri Berdasarkan Juz, Apakah Dicontohkan Nabi?

alquran

Pak Ustadz Aam saya ingin bertanya tentang orang yang membuka juz atau menentukan karakter diri berdasarkan juz Al-Quran. Apakah Nabi Muhammad mengajarkan membuka juz seseorang dan bagaimana pandangan membuka juz seseorang menurut Pak Aam? Dan bagaimana pola pengasuhan anak berdasarkan juz? (Erna via email)

 

Pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ada orang yang mengatakan setiap orang itu sudah punya juz. Jadi misalnya begini, ada orang yang bertemu saya, lalu berkata, “Ooh Pak Aam mah juz 13″. Jadi, Al Qur’an yang saya baca itu juz 13 saya, karena memang Aam itu juznya juz 13.

promo oktober

Ada anak yang dikatakan juznya juz 4, jadi yang diajarkan dari Al-Qur’an itu hanya juz 4 saja. Nah ini menurut saya pemikiran yang keliru. Kenapa? Al Qur’an itu diturunkan oleh Allah kepada umat manusia sebanyak 30 juz dan juz ini dipilah supaya memudahkan orang menghafal, untuk memudahkan atau menandai hafalan sudah di juz berapa.

Jadi, juz ini untuk memudahkan orang menghafal, menemukan ayat, dan memilih ayat. Bukan berarti juz itu dapat digunakan untuk membatasi orang atau untuk mengukur, melabeli, atau memvonis seseorang. Ini yang menurut hemat saya hal yang keliru, tanpa mengurangi rasa hormat.

Anda bisa bayangkan, yang diajarkan oleh Rasul selama 23 tahun kemudian dibatasi oleh orang dengan juz tertentu saja. Al Qur’an itu sebisa mungkin harus kita pelajari sebanyak 30 juz. Dan mempelajari Qur’an itu tahapannya ada Qira’ah (membaca) walaupun bacaannya masih banyak yang salah.

Bagi anda yang masih dalam tahap ini, lanjutkan terus, Rasul berkata, “Orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata maka baginya dua pahala.” Sementara orang yang mahir dalam Al-Qur’an, mereka itu beserta para malaikat yang dimuliakan. Kemudian, setelah qira’ah adalah tilawah (membaca dengan bacaan relatif benar), tahap selanjutnya adalah tadabbur (membaca Qur’an dan berusaha memahami maknanya).

Dengan demikian, kalau kita cermati, tugas kita mempelajari Al Qur’an itu seluruhnya. Dan apapun yang kita dapatkan, itulah ajaran Islam. Allah berfirman:

“Kami turunkan Al-Qur’an kepada orang-orang yang kami pilih dari hamba-hamba kami, di antara manusia ada yang mendzalimi diri (ia mempelajari Qur’an tapi tidak mengamalkannya), dan diantara mereka ada juga yang muqtasid (mengamalkan Al Qur’an namun hanya yang wajib saja), dan orang yang berlomba dalam kebaikan.”

Nah tugas kita, pelajari Al Qur’an seutuhnya, sebanyak 30 juz. Dan amalkan yang kita bisa dan mampu. Dengan demikian, ajaran yang mengatakan bahwa setiap orang itu ada juznya, itu menurut saya adalah pemikiran yang keliru. Berarti dia mengimani Al Qur’an dan mengkufuri sebagian Al Qur’an, padahal Al-Qur’an itu harus diimani seutuhnya, seluruhnya, dan harus menjadi pedoman hidup dan pedoman akhlak kita. Jadi harus komprehensif. Ada orang yang hanya suka membahas ayat tentang jihad tapi akhlak nya tidak dipelajari dan akhlak mulianya tidak tampak , ada yang hanya membahas ayat tentang akhlak tapi lupa untuk berjuang.

Jadi, sebenarnya semua ayat itu harus kita amalkan dan kita pelajari, jangan hanya juz tertentu saja. Seringkali orang mengarahkan sesuatu, kelihatannya benar, tapi mengandung unsur salah. Contohnya, memang benar ada yang menyuruh kalau hamil harus banyak membaca Qur’an, ini merupakan hal yang benar. Yang salahnya adalah membatasi membaca Al-Qur’an hanya di surat tertentu saja. Wallahu’alam bishawab.

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

One Thought to “Menganalisa Karakter Diri Berdasarkan Juz, Apakah Dicontohkan Nabi?”

  1. bayu haribasuki

    Mau tanya pak ustad , setahun ini saya sering kehilangan uang yang saya perkirakan diambil tuyul. Saya coba tanya ke beberapa orang , mereka juga mengalami hal yang sama. Bagaimana sebenarnya menghadapi ini agar uang tidak hilang terus oleh tuyul menurut ustad. Mohon solusi nya ustad Aam. Terimakasih.

Leave a Comment