Apakah Uzlah Menjadi Ciri Keshalihan Seseorang?

sendiri menyepi

Assalamu’alaykum. Ustadz, apa yang dimaksud dengan uzlah  ? Benarkah uzlah merupakan  tanda-tanda    keshalihan ?Mohon penjelasannya (Risma by email)

 

Wa’alaykumsalam. Wr Wb. Ibu Risma dan dan sahabat-sahabat sekalian, secara istilah uzlah itu artinya mengasingkan diri dari kehidupan sosial dengan tujuan mendapatkan ketenangan spiritual. Di zaman sekarang ini ada orang yang secara total bahkan ekstrim meninggalkan kehidupan sosialnya, dengan niat ingin menyucikan diri di tempat sunyi atau masjid di daerah terpencil. Tak jarang mereka meninggalkan anak dan istrinya tanpa memberikan nafkah. Uzlah seperti ini tidak senafas dengan ajaran Islam yang mengajarkan hidup seimbang antara dunia dan akhirat. Coba kita perhatikan perintah Allah Swt,

iklan donasi pustaka2

 

“Dan gunakanlah apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu untuk kebahagiaan akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (QS.  Al Qhashash:77).

 

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa kita harus menggunakan kenikmatan duniawi untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Carilah dunia dan gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Kita diperintahkan menyisihkan waktu untuk melakukan muhasabah (perenungan atau kontemplasi) dengan tujuan menyucikan spiritual –tanpa perlu mengasingkan  diri dari kehidupan sosial. Rasulullah Saw. bersabda,

 

“Selayaknya orang yang akalnya sehat memiliki empat waktu; ada waktu untuk munajat (ibadah), ada waktu untuk tafakkur (berfikir), ada waktu untuk muhasabah (introspeksi diri atau merenung), dan ada waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup (seperti makan, minum, dan istirahat).” (HR. Ahmad)

 

Para ulama termasuk Sayyid Qutub menyebutkan bahwa proses penyucian hati dalam rangka menggapai kebahagiaan yang hakiki, tidak bisa lepas dari realitas kehidupan. Kekuatan  spiritual yang dibenturkan dengan dunia nyata adalah lebih utama, lebih kokoh daripada kesucian hati  yang berada di dalam gua atau masjid.

 

BACA JUGA: Ciri-Ciri Haji Mabrur 

 

Orang shalih bukanlah yang melarikan diri dari tantangan kehidupan dengan alasan menjaga kesucian hati. Tetapi mereka adalah yang terjun dalam gelanggang kehidupan dengan tetap menjaga kesucian hati dengan amal shalih. Allah Swt. mengumpamakan keimanan yang kuat itu bagai pohon yang kokoh; akarnya menghunjam mencengkeram bumi, sementara pohon, ranting dan daunnya menjulang ke langit, mampu memberikan keteduhan pada sekitarnya dan berbuah setiap musim yang memberi manfaat kepada sekitarnya. Dalam Al Quran disebutkan,

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik  seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya  ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS.  Ibrahim: 24-25)

 

Bisa jadi uzlah atau mengasingkan diri secara spiritual personal ia memperolehnya. Ia akan Nampak shalih jika dibanding dengan yang lain. Namun secara spiritual social ia tidak mendapatkannya. Bukankah Allah juga memerintahkan untuk selalu berhubungan dengan sesama manusia (habbluminnannas) selain berhubungan dengan Allah (habluminnallah).

 

Kesimpulannya, kita harus punya waktu untuk muhasabah (introspeksi dan perbaikan diri) tanpa perlu mengasingkan diri (uzlah) atau menjauh dari kehidupan social dengan alasan menjaga kesucian hati. Kalau semua orang berprinsip seperti ini yakni mengasingkan diri maka siapa yang berdakwah untuk mereka. Bukankah mereka yang belum shalih juga perlu sentuhan dakwah sehingga bisa shalih.

 

Orang shalih, bukanlah mereka yang lari dari kenyataan hidup tapi mereka yang mampu menghadapi tantangan berbekal  keimanan yang kokoh dalam kehidupan bermasyarakat atau sosial. Meski demikian ya sesekali boleh kita mengasingkan diri misalnya sehari atau dua hari ke desa yang tenang dan sejuk untuk refreshing dan menenangkan hati dan pikiran sehingga kita mendapat energi dan motivasi serta inspirasi untuk berdakwah di masyarakat.  Wallahu A’lam. [ ]

 

BACA JUGA: Ciri Orang Bertaqwa Menurut Al Quran 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment