Korban Bullying Masa Kecil Tak Pengaruhi Kebahagiaan Saat Dewasa

PERCIKANIMAN.ID – – Perundungan atau lebih populer disebut bullying yang dialami pada masa kecil acapkali dipercaya memengaruhi karakter dan kepribadian seseorang ketika dewasa. Namun studi terbaru membuktikan peristiwa bullying ternyata tidak memiliki korelasi terhadap kebahagiaan di masa depan. Kesimpulan ini diperoleh melalui studi selama dua dekade dan mematahkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya.

Sekelompok peneliti yang diketuai oleh Profesor Alex Bryson dari University College London mempublikasikan hasil penelitian tersebut di jurnal Plos One.

“Ketika studi-studi serupa menunjukkan bahwa bullying memengaruhi kebahagiaan seseorang saat dewasa, penelitian kami menemukan fakta sebaliknya. Jika anak-anak dibully misalnya dari segi fisik dengan mengatakan ia jelek atau gendut bukan berarti masa depannya menjadi tidak bahagia,” jelas Alex Bryson dilansir dari laman Daily Mail dan dikutip republika online akhir pekan lalu.

 

BACA JUGA: Tips Anak Melewati Masa Puber

Observasi yang dilakukan oleh gabungan ilmuwan dari negara-negara Eropa ini memeriksa delapan indikator biologis dari para responden. Beberapa indikator antara lain berat badan, tinggi badan, denyut nadi, kadar insulin, kreatinin, serta tekanan darah. Sebanyak dua ribu anak-anak dilibatkan sebagai responden di awal penelitian. Dua puluh tahun kemudian mereka kembali diperiksa untuk mengecek kadar kebahagiaannya.

promo oktober

Dari indikator-indikator biologis tersebut diketahui bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh kenangan masa kecil. Banyak faktor yang dialami sepanjang perjalanan hidup bisa menentukan bahagia tidaknya seseorang.

Sebagai contoh, orang yang dipandang gendut mungkin minder karena bentuk tubuhnya tidak ideal. Namun jika ia punya banyak lingkaran pertemanan yang menyenangkan maka penilaian akan kondisi fisiknya tak akan mengusik kebahagiaannya. Para ilmuwan itu menyatakan jika orang dewasa yang tahu cara membuat dirinya bahagia maka perundungan yang diterimanya di masa lalu tak akan berarti apa-apa.

“Secara intuisi kita tahu bahwa berkumpul dengan teman-teman atau pergi menonton bioskop bisa membuat kita senang,” imbuh Alex Bryson.

Sebelumnya, studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Montreal pada 2014 menyimpulkan bahwa anak-anak yang dibully akan cenderung lebih stres saat ia dewasa. Hinaan dari teman-teman dan lingkungan diyakini meningkatkan hormon kortisol yang berkontribusi menaikkan level stres. Penelitian lain dari Duke University juga mengungkapkan kesimpulan yang hampir mirip. Namun dua penelitian tersebut kini dipatahkan oleh Alex Bryson dan kawan-kawan.[ ]

 

BACA JUGA: Agar Anak Tidak Tidak Manja

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

 

(Visited 4 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment