Kapan Harus Mandi Besar Ketika Haid Tidak Teratur?

mandi

Pak Aam, satu bulan yang lalu saya haid sampai dua minggu lebih. Hanya beberapa hari berhenti, kemudian haid lagi. Saya sudah periksa ke dokter spesialis, dokter bilang, itu bukan haid, tapi hormon. Saya mohon penjelasan apakah hal ini pernah terjadi pada jaman Rasulullah Saw.? (Nuri via email)

 

Saudari Nuri dan para pembaca yang budiman, ada kejadian di zaman Rasul, ini tercatat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Iman Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Imam Bukhari. Hadistnya cukup panjang. Ada seorang sahabat perempuan Nabi namanya Hamnah binti Jahsy. Hamnah berkata kepada Rasul, “Aku mengalami haid yang banyak dan lama, aku datang kepada Nabi untuk meminta fatwa. Nabi bersabda, ‘itu adalah sakit’…” artinya kalau bahasa sekarang, itu bukanlah haid tapi hormonal.

Lalu Nabi melanjutkan, “Kalau kamu mengalami hal itu, ambil saja patokan haid orang yang normal yaitu enam atau tujuh hari, kemudian kamu mandi. Dan apabila kamu sudah mandi, sudah kamu anggap 6 hari atau 7 hari, maka kamu shalat, sisanya kurang lebih 24 atau 23 hari.”

Jadi, kalau ada ibu-ibu yang mengalami haid seperti ini, misal yang biasanya haid 7 hari lalu memakai alat kontrasepsi, apakah itu pil atau yang lainnya, memang terkadang haidnya jadi tidak teratur. Yang biasanya 7 hari menjadi 12 hari. Menanggulangi hal ini, Nabi memberikan rumus seperti hadist di atas. Haid seperti biasanya orang kebanyakan 6 atau 7 hari, lalu setelahnya mandi saja walaupun ada darah yang keluar. Dan shalat selama 23 atau 24 hari berikutnya. Apalagi sudah ada penjelasan dari dokter bahwa itu bukan haid tapi hormonal, maka sudah seharusnya mandi dan shalat seperti biasa. Rasul juga menjelaskan, bukan hanya shalat tapi juga shaum maka itu sudah mencukupimu. Lakukan seperti itu setiap bulan seperti wanita-wanita yang haidnya normal.

Akan tetapi Rasul mengatakan untuk orang yang seperti ini,”Kalau kamu tidak merasa sulit, kamu bisa mengakhirkan dzuhur dan mempercepat ashar.” Bahkan dalam hadist ini dikatakan, kamu bisa menjamak dzuhur dan ashar, karena tiap kali shalat dianjurkan untuk mandi. Itu apabila tidak menyulitkan. Apabila menyulitkan, maka berwudhu saja seperti biasa dan bersihkan darah tersebut sebelum melaksanakan shalat.

Lalu ada juga yang bertanya, bagaimana kalau sudah 7 hari haid, sudah mandi besar lalu pada pagi harinya ada lagi flek. Nah, flek setelah haid itu tidak dianggap darah haid. Kata Ummi Athiyah, “kami tidak menilai flek atau darah kekuning-kuningan setelah mandi besar itu sebagai menstruasi.” Jadi flek yang keluar setelah menstruasi selesai, itu tidak termasuk darah haid.

Dan ada lagi yang bertanya, ketika sudah bersih namun belum mandi besar lalu melaksanakan makan sahur, boleh tidak? Ini tentu saja boleh. Perlu diketahui bahwa sebenarnya mandi besar itu bukan untuk puasa, tapi untuk shalat. Jadi kalau ada suami-istri berhubungan intim, saat sebelum sahur anda belum mandi, tapi langsung makan sahur dan baru mandi besar setelah adzan, maka shaumnya dianggap sah.
Editor : Candra

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 66 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment