Bolehkah Menikah Selama Masih Masa Iddah?

muslimah menangis

Assalamu’alaykum,Pak Ustadz mohon penjelasannya. Begini sekira 2 bulan lalu kakak perempuan saya bercerai dengan suami karena persoalan rumah tangga. Dia juga berencana mau menikah lagi karena mantan suaminya juga sudah menikah lagi. Saya sudah sarankan untuk tidak tergesa-gesa dan bersabar. Berapa lama masa menunggu (iddah) wanita yang ditinggal cerai suami untuk bisa menikah lagi? Apa saja larangan selama masa menunggu tersebut?. Terima kasih atas penjelasannya. (W by email)

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya teteh dan sahabat-sahabat sekalian, apa yang teteh tanyakan adalah masa iddah atau masa menunggu wanita atau istri yang cerai karena kematian suami atau cerai dengan suaminya dikarena beberapa sebab termasuk yang Anda tanyakan ini. Masa iddah wanita atau seorang istri pada umumnya 4 bulan 10 hari. Hal ini mengacu pada firman Allah dalam Al Quran:

 

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri, (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS Al-Baqarah : 234)

 

Ayat ini berlaku umum, yakni untuk setiap wanita yang ditinggal mati suaminya atau cerai hidup, namun saat wanita itu hamil maka iddahnya adalah sampai melahirkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran:

 

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS Ath-Thalaq: 4)

 

Akan tetapi jika wanita itu tidak haid karena belum cukup usia atau karena suatu penyakit juga mungkin sudah lanjut usia maka masa iddahnya adalah 3 bulan. Mengapa harus ada masa iddah? Masa  iddah itu diperlukan untuk menunggu bagi wanita yang ditalak raj’i (talak satu dan dua) oleh suaminya, maka masa iddah itu diperlukan sebagai peluang untuk kembali menyambung pernikahan yang sempat terputus tanpa mengulangi proses akad nikah dari awal, cukup dengan melakukan rujuk saja.

 

Lalu bagaimana dengan wanita yang ditalak ba’in atau talak 3 atau juga ditinggal mati suami? Maka masa iddah ini menjadi semacam jarak waktu pemasti wanita yang menjadi istrinya tidak hamil bila dia berniat menikah lagi dengan lelaki lain.Kemudian apa saja larangan bagi wanita atau istri yang sedang dalam masa iddah?

 

Pertama, larangan  melamar (khitbah) dan menikah pada wanita cerai hidup. Hal ini seperti yang dijelaskan dan ditegaskan Allah Swt dalam firman-Nya,

 

Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya.” (QS. Al Baqarah: 235).

 

Penjelasan ayat ini menurut para mufasirin atau ahli tafsir sepertu yang disamapikan oleh Ibnu Katsir mennyatakan bahwa para ulama telah sepakat bahwa akad nikah tidak sah jika dilakukan oleh wanita dalam masa iddah. Karena dianggap atau masuk kategori pernikahan tidak sah maka otomatis hubungan suami istri menjadi tidak halal atu haram hukumnya.

 

BACA JUGA: Hukum Menkah Dengan Adik Ipar

 

Kedua, larangan khitbah secara terang-terangan (tashrih ) namun boleh dengan sindiran atau isyarat (ta’ridh) untuk wanita yang cerai karena suaminya meninggal. Hal ini seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam Al Quran,

 

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu (yang ditinggal mati suaminya dalam masa iddahnya) dengan sindiran.” (QS Al-Baqarah : 235)

 

Kalau khitbah atau melamar secara terangan-terangan itu kelihatan atau nampak jelas, seperti mendatangi orangtuanya atau keluarganya atau langsung kepada wanita tersebut secara jelas dan tegas,misalnya dengan ungkapan “Aku melamarmu atau melamar putrid bapak” dan sebagainya. Ini yang tidak boleh. Tetapi boleh dengan sindiran atau kiasan atau isyarat. Intinya si wanita tersebut tahu maksud hati si pria nya.

 

Jadi sekiranya saudara perempuan Anda ingin menikah lagi padahal baru cerai dua bulanan dan suami masih hidup atau cerai hidup padahal masa iddahnya 4 bulanan maka pernikahan tersebut tidak sah. Tentu kewajiban Anda untuk menasihati atau mengingatkan dengan dalil alas an seperti ayat tersebut diatas. Jika Anda merasa kurang percaya diri atau kurang jelas, Anda boleh meminta bantuan ustadz atau ustadzah untuk menjelaskannya. Sebab ini kan perkara yang jelas hukumnya, menikah itu akan menjadi ibadah jika niat dan caranya betul sesuai syariat. Namun menjadi petaka dan mudharat bahkan jatuh menjadi haram jika niat dan caranya yang melanggar syariat. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam. [ ]

 

BACA JUGA: Hukum Menikahi Anak Angkat

 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 70 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment