Bagaimana Hukum Selaput Dara Palsu Menurut Islam?

Mawar Merah 2

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, mohon maaf sebelumnya jika pertanyaan saya ini dianggap kurang sopan atau tidak etis. Bolehkan seorang wanita melakukan operasi selaput dara (hymen) palsu?. Bagaimana hukum penggunaan selaput dara palsu tersebut dalam Islam?. Mohon penjelasannya dan terimakasih. (LY by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya saudari LY dan sahabat-sahabat sekalian, pertanyaan Anda ini sebenarnya ada kesamaan dengan pertanyaan sebelumnya dan pernah kita bahas. Namun untuk mengingatkan kembali dan mungkin bisa menjadi lebih jelasnya maka coba kita uraikan lagi. Mudah-mudahan bisa dipahami dan menjadi pengetahuan bersama. Begini, saya akan mulai membahas pertanyaan Anda dengan hukum operasi selaput dara boleh apa tidak dalam pandangan Islam.

iklan donasi pustaka2

Perlu diketahui bahwa operasi selaput dara adalah tindakan medis yang bertujuan untuk memperbarui keperawanan seorang perempuan yang sempat terganggu atau rusak oleh berbagai sebab. Bila kita perhatikan dengan seksama, permasalah seperti ini muncul ke permukaan sebagai imbas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Sebab yang saya ketahui memang belum ada di zaman Rasul atau sahabat. Jadi termasuk permasalahan kekinian atau istilahnya dalam pembahasan fiqih kontemporer.

 

Menurut hemat saya, permasalahan ini masuk dalam ranah muamalah yang tinjauan hukum fiqihnya dikembalikan pada kaidah-kaidah umum yang telah disepakati para ulama dengan menggali dalil-dalil yang dapat dijadikan rujukan dasar mengingat permasalahan seperti ini tidak secara rinci dan tekstual dibahas dalam ayat Al-Quran dan hadits Nabi Saw.

 

BACA JUGA: Hukum KB Steril

 

Setidaknya ada dua pendapat yang muncul di antara para ulama mengenai hal ini. Pendapat pertama melarangnya secara mutlak sedangkan yang kedua hanya membolehkannya dalam keadaan tertentu. Berdasarkan beberapa sumber yang saya ketahui, operasi selaput dara termasuk dalam kategori transplantasi organ tubuh yang dengan jelas dilarang dalam Islam. Ini merujuk pada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah, Asma, Ibnu Masud, Ibnu Umar, dan Abu Hurairah r.a., bahwa

 

Rasulullah Saw. melaknat wanita yang menyambung rambutnya, baik dengan rambut sendiri atau rambut orang lain.

 

Jika hanya dengan menyambung rambut saja tidak boleh (padahal hanya merupakan organ luar yang secara kasat mata tidak begitu banyak menimbulkan madharat), apalagi mengoperasi selaput dara dan menggantinya dengan alat tertentu. Sudah barang tentu hal ini akan banyak mendatangkan kemadharatan seperti terbukanya aurat, peluang penyalahgunaan, dan lain sebagainya.

 

Akan tetapi dalam Islam, sesuatu yang terlarang untuk dilakukan dapat berubah menjadi diperbolehkan jika ada unsur kemadharatan kalau hal tersebut tidak dilakukan. Seperti donor darah yang hukum asalnya terlarang. Jika tidak dilakukan (donor darah), tentu akan menyebabkan banyak orang meninggal karena kekurangan darah. Karena itulah kemudian donor darah diperbolehkan secara hukum.

 

Demikian pula halnya dengan penggantian selaput dara. Jika memang ada yang menyebabkan madharat jika tidak dilakukan, maka bisa saja operasi tersebut dilakukan. Hanya saja, sampai saat ini saya tidak melihat adanya unsur kemadharatan tersebut. Penggantian selaput dara, terlebih digantikan dengan perangkat palsu, mungkin saja dapat membahayakan penggunanya. Bahkan bisa saja penggantian tersebut berpeluang besar untuk disalahgunakan demi kepentingan sekelompok orang.

 

Bagi sebagian wanita mungkin operasi selaput dara bertujuan agar tetap dianggap masih gadis atau perawan saat malam pertama dengan suaminya. Mungkin maksudnya baik ingin membahagiakan suaminya namun menurut saya caranya yang tidak tepat. Mengapa? Kalau dikemudian hari suaminya tahu bahwa sang istri melakukan itu agar dianggap masih gadis, kan berarti ada yang ditutupi. Bisa jadi sang suami malah merasa dibohongi. Kalau suami bisa menerima mungkin selesai permasalahan tetapi jika suami tidak terima ‘kan malah timbul persoalan dalam rumah tangga.

 

Ada suami yang menuntut istrinya masih gadis sebelum menikah dengannya. Namun ada juga sebagian suami juga mungkin permasalahan kegadisan tidak masalah, yang penting kejujuran. Jadi jangan sampai persoalan satu ditutupi dengan kebohongan berikutnya. Ini terkait dengan estetika yang masih perlu dimusyawarahkan dan ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Berbeda dengan masalah dengan alasan medis yang jika tidak dilakukan operasi maka mudlorotnya jauh lebih besar bahkan menyangkut keselamatan jiwanya maka itu diperlukan tindakan yang sifatnya darurat. Demikian jawaban saya, semoga ada manfaatnya.   Wallahu a’lam .[ ]

 

 

BACA JUGA: Hukum Berhias Bagi Wanita

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment