Ibu Mulia Berakhlak Mulia

Ibu dan anak

PERCIKANIMAN.ID – – Karakter seorang ibu dalam sebuah sinetron sempat ramai diperbincangkan. Ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang bertindak hasud dan terkesan galak, terlebih kepada menantunya. Penampilannya pun berpakaian muslim dan berkerudung. Publik muslim kemudian bereaksi keras atas penggambaran itu. Ibu, kok, begitu? Kekhawatiran penggambaran karakter tokoh ibu dalam sinetron tersebut yang bisa menjadi contoh yang buruk membuat sejumlah kalangan menggalang aksi protes. Belakangan, karakter ibu galak tersebut pun diperlembut.

Itu hanya dalam sinetron. Namun, dalam dunia nyata, tentu kita juga menemui ibu-ibu yang berkarakter tidak islami. Mereka memperlakukan orang lain dengan tidak baik, bersikap egois, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Tentu saja hal ini sangat disayangkan.

iklan donasi pustaka2

Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa dia diutus oleh Allah Swt. untuk menyempurnakan akhlak manusia. Yaitu, melakukan perubahan agar akhlak umatnya menjadi lebih baik. Keterangan tersebut menggambarkan bahwa pada dasarnya manusia telah memiliki akhlak yang baik, tetapi masih perlu disempurnakan supaya amalan saleh yang dilakukannya lebih optimal.

Secara garis besar, terdapat enam karakteristik akhlak islami yang perlu diketahui oleh seorang ibu khususnya, dan kaum muslim pada umumnya.

Pertama, Rabbaniyyah atau berbasis wahyu Allah. Akhlak seringkali dihubungkan dengan ukuran baik dan buruk atau benar dan salah. Harus diingat bahwa jika ukuran baik dan buruk yang dimaksud adalah budaya, maka hal tersebut bukan disebut akhlak, tetapi etika. Lain halnya jika ukuran baik dan buruk tersebut bersumber dari Allah, maka itulah yang disebut sebagai akhlak.

Sebagai seorang ibu, kita tidak boleh memaksakan satu nilai yang bersumber dari adat atau kebiasaan kepada anak. Terlebih, jika nilai tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Pelajari dan gali secara mendalam nilai-nilai yang akan kita tanamkan kepada anak hingga kita benar-benar yakin nilai itu memiliki dasar yang jelas dalam Islam.

Kedua, Alamiyyah Wasyumuul atau universal dan komprehensif. Akhlak Islam itu berlaku untuk siapa pun dan menyentuh segala persoalan. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari akhlak Islam yang bersifat Rabbaniyyah. Telah dikatakan pula bahwa Allah adalah Dzat yang paling tahu kebutuhan manusia. Karenanya, aturan hidup yang berbasis pada wahyu Allah pastilah berlaku untuk semua manusia dan bersifat komprehensif. Hal ini dipertegas oleh firman Allah dalam Surah Al-Anbiyā’ [21] ayat 107 yang menjelaskan bahwa akhlak Islam bukan hanya berlaku untuk umat Islam, tetapi berlaku untuk semesta alam. Artinya, berlaku bagi setiap makhluk yang ada di alam semesta, termasuk bangsa jin.

“Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

(Q.S. Al-Anbiyā’ [21]: 107)

Keterangan lain yang menjelaskan bahwa akhlak Islam itu universal dan komprehensif terdapat dalam Surah Al-Mā’idah [5] ayat 8.

 

“Hai, orang-orang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S. Al-Mā’idah [5]: 8)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada umat Islam untuk berlaku adil kepada siapa pun, termasuk kepada nonmuslim. Umat Islam juga harus berlaku adil kepada orang yang tidak disukainya karena hal tersebut lebih dekat pada takwa. Ingat, internalisasi (penghayatan) karakter ini akan menurun kepada buah hati dan itu adalah hal yang baik.

Ketiga, Insaniyyah atau sesuai fitrah manusia. Akhlak Islam atau aturan-aturan Allah sangatlah menghargai kecenderungan individu. Oleh karenanya, manusia dilarang keras untuk merampas hak orang lain, menjerumuskan, atau merugikannya.

Jika Ibu memiliki dua orang anak kembar, itu bukan alasan untuk memandang mereka sebagai satu individu yang sama. Mereka tetaplah dua individu berbeda meski secara fisik identik. Sebagai ibu yang baik, bebaskan anak untuk tumbuh sesuai dengan karakternya dan menghargai perbedaan karakter saudara atau orang lain di sekitarnya.

Keempat, Tawazun atau moderat (pertengahan atau seimbang). Islam melarang manusia menghabiskan hidupnya hanya untuk akhirat sehingga ia mengabaikan hak-haknya di dunia. Pun, Islam mengharamkan manusia untuk terlalu mencintai dunia sehingga melupakan akhirat.

Allah berfirman dalam Surah Al-A‘lā [87] ayat 14 sampai 18.

 

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dengan beriman, dan mengingat nama Tuhannya, lalu ia salat. Sedangkan kamu, orang-orang kafir, memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya, ini terdapat dalam kitab-kitab dahulu.” (Q.S. Al-A‘lā [87]: 14-18)

Islam mengajarkan manusia untuk senantiasa menyeimbangkan perjuangan meraih dunia dan akhirat. Allah pun murka kepada orang yang terlalu mencintai dunia dan melupakan hak-hak akhiratnya. Allah memberikan arahan kepada manusia untuk menggunakan segala yang Dia berikan demi kebahagiaan akhirat dan melarang melupakan bagian mereka di dunia.

Kelima, Alwaqi‘iyya atau realistis dan logis. Islam mengatur segala sesuatu secara realistis dan logis, termasuk dalam hal berinfak dan bersedekah. Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah melarang salah seorang sahabat yang hendak menginfakkan seluruh hartanya. Sahabat tersebut beralasan bahwa semua anaknya sudah berkecukupan. Larangan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa walaubagaimanapun dalam harta orangtua ada hak anak-anak yang harus diberikan ketika dia meninggal.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nisā’ [4] ayat 9.

 

“Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar.”

(Q.S. An-Nisā’ [4]: 9)

Sebenarnya, tinggi rendahnya pahala seseorang bukan dilihat dari berapa jumlah harta yang dikeluarkannya, tetapi dilihat dari berapa besar ketulusan hatinya dalam memberi. Hal ini perlu ditekankan oleh Ibu saat mendidik buah hati dalam beribadah dan beramal saleh.

Kelima, Aljaza atau selalu disediakan balasan. Dalam Islam, semua perkara yang dikerjakan tidak pernah sia-sia karena Allah pasti membalas. Boleh jadi, orang lain tidak menghargai yang kita lakukan, tetapi yakinlah Allah pasti mencatat. Akhlak Islam mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan manusia, Allah pasti mengganjarnya dengan pahala. Begitupun sebaliknya, sekecil apa pun keburukan manusia, Allah pasti membalasnya dengan siksa.

Allah berfirman dalam Surah An-Naĥl [16] ayat 30.

“Kemudian, dikatakan kepada orang bertakwa, ‘Apa yang telah diturunkan Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’ Orang yang berbuat baik di dunia ini akan mendapat balasan yang baik. Sesungguhnya, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat bagi orang bertakwa.” (Q.S. An-Naĥl [16]: 30)

Dengan demikian, Ibu, hiduplah sesuai dengan akhlak Islam yang telah Allah tetapkan karena akhlak tersebut akan membawa kita pada kebahagiaan yang kekal, yaitu bahagia di dunia dengan kedamaian hidup serta bahagia di akhirat dengan ditempatkan di sisi-Nya. [ ]

*Disadur dari buku “Muliakan Ibumu“.

 

Buku Muliakan Ibumu 1a

Red: riska

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment