Hukum KB Steril Pascamelahirkan Caesar

muslimah, sendiri

Assalamu’alaykum, Pak Aam, saya ingin bertanya. Apakah diperbolehkan atau tidak, setelah melahirkan anak ketiga saya akan steril. Pertimbangannya, saya tak bisa melahirkan secara normal, tapi selalu dengan caesar dari anak pertama sampai anak ke tiga. Menurut dokter, untuk seorang ibu yang melahirkan dengan proses caesar terus menerus, maksimal tiga kali persalinan. Maka, disteril salah satunya jalan untuk keselamatan ibu. Bagaimana menurut pandangan Islam? Mohon penjelasannya dan terima kasih (Yayuk via email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya, Ibu Yayuk dan sahabat-sahabat sekalian, sebenarnya apapun boleh selama itu ada alasan syar’i. Allah berfirman, siapa yang darurat, dan anda juga sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu, tapi karena kondisi harus melakukan itu, Allah berfirman, maka tidak dosa bagimu. Hal ini seperti terdapat dalam Al Quran,

iklan donasi pustaka2

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.” (QS. Al Baqarah [2]: 173)

Dalam menafsirkan ayat ini para mufasirin (ahli tafsir) maupun para fuqoha (ahli fiqih) dan yang  lainnya mengungkapkan kaedah di atas dengan perkataan,

Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.”

Meski dalam ayat tersebut di atas berbicara mengenai dibolehkanya memakan daging atau barang haram dalam keadaan terpaksa karena darurat atau tidak ada lagi pilihan, maka dalam praktiknya kita boleh melakukan dalam hal lain, misalnya kasus yang Anda alami ini.

Kalau ibu sudah melahirkan tiga kali semuanya dengan caesar, dan disarankan untuk tidak punya anak lagi atas rekomendasi seorang ahli yakni dokter, alasannya sudah sangat jelas. Ini alasan yang syar’i, alasannya itu mencegah kemadharatan. Kalau itu dikategorikan seperti itu, maka ibu tidak masalah melakukan sterilisasi.

Ada pula orang yang bertanya kepada saya, kalau yang steril bukan istrinya, melainkan suaminya. Alasannya ya itu, mirip seperti Ibu Yayuk. Jadi si istri sudah tiga kali melahirkan, selalu caesar, akhirnya si suami bertanya kepada saya, katanya ia disarankan untuk steril. Nah, kalau secara agama, ini ada alasan syar’i. Walaupun sebenarnya yang bermasalah adalah istrinya. Tapi walau bagaimanapun, hamil itu melibatkan suami, maka tentu saja ini juga sesuatu yang diperbolehkan.

Memang masalah hukum sterilisasi ini masih menjadi pro dan kontra dengan argumen dan pendapat masing-masing. Tapi menurut hemat saya, kalau menghadapi permasalahan Anda, saya berpendapat  boleh melakukan sterilisasi tersebut. Itu kan alasan darurat atau mendesak yakni akan timbul madharat yang lebih besar jika ibu tidak disteril.

Jadi, apapun, kalau itu menolak kemadharatan, ya menjadi boleh, bahkan bisa gugur kewajibannya. Contoh, ibadah haji itu wajib, tetapi kalau secara medis orang itu dinyatakan secara fisik tidak memungkinkan untuk berangkat haji dan dikhawatirkan akan membawa kemadharatan yang berat, maka kewajiban haji menjadi gugur. Sepengetahuan saya, saudara-saudara kita yang cuci darah sekarang itu tidak diperkenankan berhaji, tapi beberapa tahun lalu masih boleh. Karena dari analisa yang dilakukan oleh pemerintah, ternyata yang cuci darah itu, disana sering mengalami kemadharatan, maka pemerintah akhirnya memutuskan tidak diizinkan berhaji. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman/candra

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

(Visited 1 times, 20 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment