Bolehkah Suami Istri Beda Mazhab?

keluarga

PERCIKANIMAN.ID – – Salah satu khazanah dalam Islam adalah adanya ulama madzhab, dimana yang biasa dikenal dikalangan Ahlus Sunnah  dengan adanya 4 madzhab yakni Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan  Madzhab Hambali. Tak dipungkiri dalam hidup bermasyarakat masalah madzhab ini sering kali memicu perbedaan pemahaman juga pengamalan baik ibadah, muamalah maupun munakahat (perkawinan).

Masalah perbedaan madzhab sendiri tidak ada di zaman Rasulullah Saw masih hidup hingga para sahabat awal. Persoalan madzhab baru muncul setelahnya. Lalu bagaimana jika dalam sebuah keluarga khususnya suami istri beda madzhab? Apakah kehidupan rumah tangganya bisa rukun dan damai atau sebaliknya? Coba kita simak kisah suami istri yang beda madzhab berikut ini

iklan donasi pustaka2

Dikisahkan Bintu Quraimizan yang memiliki nama lengkap Fathimah Binti Abdul Al Qadir adalah seorang ulama wanita dari kalangan sufi, yang menganut madzhab Hanafi.  Salah satu kelebihan Fathimah ini adalah memiliki tulisan khath Arab yang bagus. Tak heran jika Fathimah  pun banyak menyalin kitab. Wanita ini bermulazamah dalam shalat sunnah, meski dia dalam keadaan saat sakit.

Sementara itu sang suami sendiri adalah seorang ulama bermadzhab Asy Syafi’i, yakni Syeikh Kamal Ad Dien Muhammad. Dimana kakek dari ulama ini adalah ulama yang pertama kali mensyarah Al Misbah. Dalam sejarah Kamal Ad Dien ini juga mensyiarkan Islam (berceramah) hingga ke negeri-negeri jauh.

Lalu apakah keduanya suka ribut masalah ibadah dan lain-lain karena perbedaan pendapat? Ternyata sebaliknya, pasangan suami istri yang sama-sama seorang ulama di zamannya ini sungguh menunjukan keteladan dalam bermahzab. Keduanya pun hidup rukun dan bahagia serta jauh dari perdebatan pendapat dalam menyelesaikan dan menanggapi masalah.

Seperti yang diakui Bintu Quraimizan sendiri dimana ia merasa memperoleh banyak ilmu dari suaminya. Hal ini seperti yang diungkapkan,”Dari suamiku ini, aku memperoleh banyak ilmu.” Sedangkan suaminya sendiri pernah berkata,”Allah memberiku anugerah 36 disiplin ilmu dari istriku.” Kisah suami istri yang sama-sama seorang ulama ini tertuang dalam kitab Syadzrat Adz Dzahab, 8/347, 348.

Sungguh indah jika suami istri bisa saling memahami termasuk dalam urusan ibadah. Demikian juga dalam hidup bermasyarakat yang lebih luas. Selayaknya perbedaan madzhab bukanlah menjadi pintu terbuka bagi perpecahan baik dalam rumah tangga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa.

Dari kisah ini juga terdapat pelajaran bahwa suami istri boleh beda mahzab dan terbukti bisa hidup rukun dan damai. Bahkan keduanya saling menyanjung dan memuji serta tidak menghalangi keduanya untuk berdakwah. Gambaran suami istri ini harusnya menjadi cerminan dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas.

Pada hakikatnya madzhab itu pendapat atau ijtihad para ulama dimana mereka sendiri tetap berpegang teguh pada pendapat Rasulullah Saw ( hadits) dan firman Allah Swt ( Al Quran). Dalam pesannya para ulama mahzab menegasakan bahwa jika pendapatnya bertentangan dengan Allah Swt ( Al Quran) maupun Rasulullah Saw ( Hadits) maka umat harus berpegang pada Al Quran dan Hadits. Jadi jangan jadikan alasan hanya karena  beda mahzab kemudian harus berpisah atau saling menjauh. Wallahu’alam. [ ]

 

Red: ahmad

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

(Visited 1 times, 4 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment